
Langkah Raina terhenti mendapati mobil yang ia kenali terparkir di depan rumahnya. Ketika masuk ke dalam rumah samar-samar ia mendengar suara Dhafin mengobrol bersama papa nya.
jadi bener itu mobil Dhafin, ngapain dia di sini? Pikir Raina.
“Sayang, baru pulang?” Raina mengangguk ketika Adrian menyapanya dan memberikan seulas senyum paksa pada Dhafin.
“Loh mau kemana sayang?” Tanya Adrian melihat Raina berjalan ke arah tangga.
“Ke kamar pa, kan kamar Rain di atas.”
“Ini ada Nak Dhafin kok malah mau ke kamar. Dari tadi nungguin kamu.”
Dengan malas ia menghampiri dua laki-laki yang duduk saling berhadapan.
“Papa duluan ya, baru ingat ada pekerjaan yang harus di selesaikan.” Tukas Adrian beranjak berdiri menuju ruang kerjanya.
“Ada apa kak?” Tanya Raina to the point.
“Emhh.. tak ada apa-apa sih, hanya ingin bertemu denganmu. Kamu habis pergi dari mana?”
“Main aja sih di mall.”
"Sama siapa?"
Kening Raina berkerut dalam. "Sama temen" Jawabnya datar.
“Ooh… Rain udah malem sebaiknya aku pulang aja.” Seru Dhafin merasa kikuk berhadapan dengan Raina. Ia merasa Raina tak nyaman karena kehadirannya.
Raina mengangguk dan mengantarkan Dhafin ke luar rumahnya denganmengobrol, tubuhnya mematung mendapati Arga sedang berdiri di pintu gerbang bersama mang Udin yang menjaga pos rumahnya. Seketika Raina menoleh ke arah Dhafin dan kembali melihat ke arah Arga. Raina berlari melihat Arga yang membalikan badannya hendak pergi.
“Bee… aku bisa jelasin.” Tutur Raina mengejar langkah Arga.
“AARRRGAAA” Teriak Raina karena Arga tak menoleh.
Tubuh Raina ambruk seketika melijat Arga menjalankan motornya dengan kencang.
***
“Gak puas lo udah ambil semuanya dari gue hah??” Teriak Arga menarik baju Dhafin saat melihatnya memasuki rumah.
Yulisa ibu dari Dhafin panik melihat kedua anaknya yang tak pernah akur hendak berkelahi. Dia kira Arga pulang karena sudah ingin tinggal kembali di rumah namun ternyata dugaannya salah.
“Arga sabar sayang.. jangan main kekerasan nak.” Tutur Yulisa menengahi.
“Lo udah ambil bokap dari gue dan sekarang lo mau ambil Raina hah?” Teriak Arga membuat Bagas keluar dari ruang kejanya.
Dhafin yang sudah paham maksud Arga hanya terdiam sembari mengepalkan kedua tanganya.
“Ada apa ini?” Tanya Bagaskara melihat Yulisa menangis memegangi tangan Arga.
“Sebaiknya anda urus anak kesayangan anda, jangan sampai dia mengganggu wanita saya.” Ujar Arga melepas cengkraman tangannya dengan kasar.
“Dia kakakmu Arga.!” Ucap Bagas membentaknya.
“Sampai kapanpun saya tak akan pernah menganggap mereka bagian dari keluarga saya.” Ucapnya tegas.
PLLAAKKK
“Arga papa tak sengaja melakukannya, kamu jangan pergi..” Ujar Yulisa mencegah Arga yang hendak pergi.
“Biarkan dia pergi.” Tukas Bagas.
“Papa membiarkanmu hidup sendiri agar kamu berfikir menjadi lebih baik tapi ternyata kelakuanmu masih saja sama.” Sambungnya.
Telinganya sudah terbiasa mendengar hinaan dari mulut papa nya sendiri, dengan kemarahan Arga pergi dari rumahnya sendiri.
Dia melajukan motornya dengan kencang tanpa menghiraukan bunyi klakson dari pengendara lain. Pikiran nya kalut hingga ia memutuskan untuk pergi menemui tempat yang selalu menenangkannya.
***
Di dalam kamarnya Raina terus menghubungi Arga namun sama sekali tak ada jawaban membuatnya kesal hingga menangis.
“Arga kamu kenapa sih?? Dhafin itu kakak kamu.” Ucap Raina kesal memeluk boneka panda pemberian Arga sambil menghubungi nomor Arga.
Seketika ia berfikir untuk menemui Arga sekrang, kakinya jenjangnya ia turunkan dari ranjang. namun niatnya terurungkan melihat jam di atas nakas yang menunjukan pukul 11 malam, ia tak mungkin keluar malam begini, papa nya pasti akan marah.
“Arga plis angkat dong.” Gumam Raina.
Raina mencoba berputar-putar mencari posisi yang nyaman untuk tidur, Satu gelas susu sudah ia teguk namun tetap saja kantuk tak kunjung datang hingga ia memeluk boneka panda yang selalu berada di ranjangnya dan kembali menghubungi Arga kembali.
Mendengar suara adzan subuh Raina segera pergi ke kamar mandi membersihkan diri, Raina mengambil jaket juga tas slempangnya dan ia segera turun ke bawah.
“Mbak..” Sapa Raina melihat mbak Ana sedang menyapu lantai.
“Astagfirullah non, ngagetin.” Kaget mbak Ana memegang dada nya hingga sapu yang ia pegang terjatuh.
“Kalo papa nanya, bilang aku pergi ke rumah temen.” Raina keluar berlari setelah memakai sepatunya.
“Mang, anterin aku ke rumah temen.” Ucap Raina melihat mang Udin yang hendak pulang dengan sepeda motornya.
Mang udin segera menyalakan motornya dan membawa anak majikannya ke apartemen Arga, udara yang masih pagi begitu dingin, namun Raina sama sekali tak merasakannya karena ia merasa kesal pada Arga yang tak mau menjawab pesan dan telfon darinya.
“Arga…” Panggil Raina masuk ke dalam apartemen.
“Bee…” Teriak Raina mengetuk pintu kamar mandi di dalam kamar Arga namun ia tak menemukan Arga.
Perasaan cemas menghampiri dirinya hingga ia menghubungi Rizki dan Rico, rasa cemasnya semakin menjadi saat mendengar perkataan Rico jika Arga pasti datang ke club jika ia sedang marah.
Raina duduk di sofa mencoba tenang untuk menerima kabar dari Rizki, karena ia menyuruh Rizki untuk mencarinya ke club.
“Gimana ki? Ada Arga di sana?” Tanya Raina cemas.
“Gak ada Rain, emang ada apa sih?” Tanya Rizki begitu penasaran.
“Semalem dia liat gue sama kak Dhafin.” Ujar Raina meneyesal karena mengantarkan Dhafin ke depan.
“Ckkk.. lo masih aja deket ama si Dhafin.” Kesal Rizki.
“lo jemput gue di apartemen Arga sekarang!! kayaknya gue tau dia dimana.” Tukas Raina melihat foto Arga yang terpajang dekat televisi.
Jangan lupa dukungannya..
jika suka like, komen, vote dan rate ya😁