
Sepanjang perjalanan pulang Raina hanya melamun, apakah perkataannya salah? Kenapa Arga marah padanya? Padahal ia hanya ingin membantunya, itu pun karena bu Indri menyuruhnya.
"Rain, lo melamun?" Rangga bertanya karena dari tadi ia meamnggilnya namun tak di jawab oleh Raina.
“Rain…”
Raina terlonjak kaget saat Rangga menghentikan motornya secara mendadak. Raina memukul pundak Rangga dengan keras.
"Aaww.. sakit Rain." Keluh Rangga kesakitan dengan terkekeh.
"Lo tuh rem mendadak, kaget gue."
"Lampu merah Rain, gak keliatan.. lagian dari tadi gue panggil lo gak nyaut."
Raina menggela nafas panjang,"Sorry.." Ujar Raina.
Rangga melajukan kembali motornya dan sampailah di rumah Raina, Raina turun dan masuk begitu saja.
“Sabar Rangga, nanti juga dia akan kembali lagi pada lo.” Rangga menyemangati dirinya, ia tak akan pernah menyerah untuk merebut hati Raina lagi.
***
Sudah 2 hari ini Raina tak melihat Arga masuk sekolah, tiap guru mengabsen temannnya hanya mengatakan jika mereka tidak tahu. Tak mungkin kan mereka tidak tau? Jelas mereka selalu bersama, dan Raina melihat Cintya tak panik ataupun bagaimana, ada apa dengan Arga? Apa ia benar marah pada Raina?
"Rain, lo gak penasaran kemana si Arga?"
Raina menekuk dahinya, kenapa Rizki berkata demikian? Raina hanya tersenyum tipis menanggapinya.
"Gue kasih tau deh."
"Udah deh ki, itu bukan urusannya." Ujar Cintya ketus.
"Iya juga ya, sorry ya Rain." Rizki terkekeh meninggalkan Raina dengan rasa penasarannya.
Raina melihat pak Anton sudah menunggunya, ia segera masuk ke dalam mobil.
"Pak kita ke rumah Abi dulu ya, sudah lama aku tak main ke sana."
"Baik non."
Sesampainya di rumah pak Joko, Raina melihat warungnya sangat ramai dengan kumpulan bapak-bapak yang sedang ngopi dan main catur.
"Ehh Non Raina." Sapa pak Joko menghampiri Raina.
"Siang pak, Abi dan Nisa ada?" Raina menyalami pak Joko.
"Abi sama Nisa lagi bikin gorengan sama bolu kukus non bantu ibunya."
"Masuk aja silahkan."
"Baik pak, terima kasih."
Raina masuk ke dapur yang begitu sempit, namun sekarang sudah terlihat rapih, mungkin pak Joko memperbaikinya sedikit demi sedikit.
"Assalamualaikum bu.."
"Kak Rain." Nisa berteriak senang melihat Raina menghampirinya.
"Hai cantik."
"kemana aja? Kok baru main lagi kesini?"
"Maaf ya."
"Ibu bikin apa?" Tanya Raina pada bu wulan ketika ia sedang membereskan peralatan membuat bolu kukus.
"Ibu buat bolu kukus non, lumayan buat nambah uang jajan Abi sama Nisa."
"Kak Rain belum coba kan? Enak loh bolu nya, tiap hari laku kalo di jual." Sahut Nisa dengan semangat.
"Di jual di warung ya bu?"
"Enggak Non, di warung cuma nyimpen sedikit, Abi dan Nisa maksa pengen keliling katanya bosan diam di rumah kalo udah ngerjain PR."
“Waahh.. kalian emang anak yang rajin, tapi jangan lupa sekolah yang bener ya!”
"Tentu." Ujar Nisa.
Raina melihat Abi hanya diam saja, ada apa dengan Abi?
"Abi kenapa?"
Abi hanya menggelengkan kepalanya, pasti ada yang di smebunyikan Abi.
“Kak Abi pengen nilai 10, tapi suka kalah sama temennya, jadi nilai ka Abi cuma 8 atau 7” Sahut Nisa mewakili Abi.
"Nisa.." Geram Abi pada adiknya, wajah Abi memerah karena malu, ia merasa tidak bisa membanggakan Raina.
"Yang penting Abi udah berusaha dan nilai 7 atau 8 itu bagus menurut kakak, benar kan bu?" Raina menyemangati Abi.
"Iya Abi, ibu bilang juga apa, kakak Rain gak bakal marah karena nilai kamu gak 10."
"Tapi bu."
"Udah matang, ayo Non cicipi mumpung masih anget." Ujar bu Wulan.
"Selama ibu bikin gorengan dan kue, dede bayu sama siapa?"
"Kadang sama bapaknya kalo gak tidur non."
"Kalian mau langsung keliling?" Tanya Raina melihat Abi dan Nisa memasukan bolu dan gorengan pada kotak box.
"Iya kak, mumpung masih anget."
"Ya udah, kakak ikut."
"Gak usah, panas."
"Gak apa-apa."
"Bu Raina sekalian pamit ya, soalnya mau langsung pulang."
"Iya Non, ini bolu nya buat non."
"Gak usah bu, jual aja, kan udah nyicipi tadi."
"Udah, sekalian buat pak Anton non."
"Tetima kasih ya bu." Raina mencium punggung tangan bu Wulan dan mereka pun pamit.
Setelah 30 menit mereka berkeliling di komplek dekat rumah pak Joko semua dagangannya habis, bahkan ibu RT memesan 70 bolu kukus untuk acara arisannya besok. Mereka sangat senang, setelah menghitung pendapatan Raina pamit dan ia menambahkan uang modal untuk membuat bolu kukus pesananan ibu RT.
Raina pulang bersama pak Anton yang selalu setia menemaninya.
"Mbak, ini bolu di bagi-bagi sama pak Anton dan mang Didi ya." Raina menyerahkan bolu kukus sekantung kresek hitam sedang.
"Baik Non."
Raina masuk ke dalam kamarnya, ia mengganti semua pakaiannya karena merasa gerah. Ia pun memakai hotpants dan t-shirt longgarnya, seperti biasa pakaian santainya yang ia gunakan jika di rumah.
Tok tok tok.
"Non ada yang nyari."
"Siapa?"
"Gak tau non, perempuan."
Raina mngerutkan dahinya, apa Nadine? Tak mungkin. Lalu siapa perempuan? Raina membuka pintu kamarnya dan turun ke bawah untuk melihat siapa tamunya, Raina mematung ketika melihat Nenek Mirna sedang duduk menikamati secangkir teh.
Ada apa Nenek Mirna kemari? Dan kenapa mbak Ana bilang ada yang nyariin aku? Pasti mbak Ana salah nih. Batin Raina.
Raina melihat penampilan dirinya, tak sopan ia menghadapi tamu papanya jika memakai pakaian seperti ini.
"Raina." Sapa Nenek Mirna ketika melihat Raina hendak naik ke atas kamarnya.
"Ahh Nenek, mau ketemu papa ya? Papa nya belum pulang nek." Raina terpaksa menghampirinya dengan senyuman kaku, ia sungguh malu.
"Tidak sayang, nenek kemari mau ketemu kamu."
"Aku?" Tunjuk Raina pada dirinya.
"Iya, nenek mau bicara tentang Arga."
“Arga?” Raina kembali bertanya dengan wajah melongonya.
“Iya, apa kau tahu Arga dimana?”
Raina menggeleng."Kenapa nenek tanya saya? Kenapa tak tanya temannya?"
“temannya?” Tanya Nenek Mirna kembali.
"Iya, Rizki,Rico dan Cintya. Mereka adalah teman terdekat Arga."
"Lalu kau?" Tanya Nenek Mirna merasa Aneh dengan penuturan Raina.
"Ahh aku hanya teman sekelasnya nek, kami baru dekat ahir-ahir ini."
"Ohh, begini Rain nenek sudah bertanya pada teman Arga yang kau sebutkan tadi, tapi nenek tak menemukannya bahkan di tempat ibunya pun Nenek tak menemukannya."
"Nenek sudah ke tempat biasanya Arga nongkrong, namun tak menemukannya."
"Jika kau bertemu dengan nya, tolong suruh dia pulang ya, biasanya ia hanya sehari tak pulang dan akan pulang di hari ke 2 tapi sekarang sudah hampir 3 hari tak pulang." Nenek Mirna terlihat hawatir.
"Baiklah Nek, saya akan membujuknya untuk pulang jika sudah bertemu dengannya."
"Terima kasih Raina, kata bu Indri kau murid berprestasi, nenek harap kau bisa membuat Arga mau belajar juga, nenek tak ingin masa depan Arga hancur."
Raina hanya mengangguk, ia tak tahu harus bagaimana, jelas Arga marah karena ia memintanya waktu itu, apalagi sekarang?.
Jangan lupa dukungannya readers.
Jika suka like, komen, vote dan rate ya;)