
Raina hanya gadis yang menginginkan kebahagiaan, bukannya ia tak bahagia atau tak bersyukur memiliki 2 lelaki yang sudah menyayanginya dari kecil hingga sekarang. Namun ia hanya ingin bahagia bersama orang baru yang telah mewarnai harinya baru-baru ini.
Langkahnya terasa berat, berkali-kali ia melirik ke belakang berharap Arga datang menemuinya untuk yang terakhir kalinya. Raina menggigit bibirnya setelah menyadari apa yang ada di pikirannya itu salah.
"Kenapa kamu berharap itu Rain, harusnya kamu membencinya, karena ia sudah membohongimu". Gumam Raina dengan langkah cepat menarik kopernya meninggalkan Adrian dan Anton yang berdiri menatap ke arahnya.
“Rain…”
DEG
Samar-samar Raina mendengar ada yang memanggil namanya, itu seperti suara Arga, dengan memberanikan diri ia menolehkan kepala melihat Arga yang sedang di tahan oleh 2 penjaga karena hendak menerobos masuk.
Terlihat Adrian menghampirinya dan berusaha menenangkannya. Air matanya meleleh kembali, ia menyekanya dan langsung pergi meninggalkan Arga.
Tanpa malu Arga duduk di lantai dengan terisak melihat Raina pergi tak menghiraukannya, Adrian hanya berdiri mencoba mengerti Arga, mendapati temannya menyusul ia brrlalu. Arga terlambat padahal setelah ia mendengar keberangkatan Raina dari mbak Ana ia langsung pergi menyusulnya ke bandara.
“Udah Ga, kita bisa menyusulnya ke sana.” Sahut Rizki yang baru saja datang dengan Rico.
Arga bangkit berdiri, ia menghampiri Adrian yang hendak pergi. “Om.. beri aku alamat Raina di sana, aku akan menyusulnya.”
“Maaf Arga, dia sedang ingin sendiri. Tolong kamu hargai keputusannya.”
“Tapi om..”
“Maafkan saya. Saya sudah janji untuk tak memberi tahukan alamatnya di sana pada siapapun.” Adrian menepuk bahu Arga dan berlalu.
“Sebegitu bencinya dia ke gue Ki, gue emang bajingan Ki, gue sering gonta-ganti cewek, tapi gue bener-bener gak ngelakuin hal itu dengan cewek mana pun apalagi Sindy, lo tau gue kan Ko? Kalian tau prinsip gue kan?” Tanya Arga pada kedua sahabatnya.
Rico dan Rizki menepuk pundak Arga bersamaan, ia tahu sebrengseknya mereka pada cewek mereka gak akan melakukan hal di luar batas. Karena prinsip mereka adalah ingin memberikan yang terbaik untuk istri mereka kelak. Baru kali ini mereka melihat Arga terpuruk kembali setelah kematian ibunya. Padahal ia selalu biasa saja jika sudah putus dengan pacar-pacarnya. Tapi kenapa Raina begitu berpengaruh besar padanya.
“Sabar Ga, kalo emang berjodoh pasti ketemu lagi.. lo tunggu aja, dia juga gak akan tinggal selamanya di sana kan?” Rizki menenangkan Arga.
Arga berlalu tanpa menghiraukan Rizki dan Rico yang berusaha menyemangatinya.
“Gue yang bawa motor.” Rizki mengambil paksa kunci motor Arga dan menaikinya sebelum yang punya naik duluan. Mereka terlalu takut dengan Arga akan berbuat hal nekat, bagaimana tak takut? tadi saja Arga ngebut membawa motornya tanpa memakai helm ataupun jaket. Bahkan ia menyalip kendaraan yang menghalangi jalannya.
Arga hanya diam saja dengan kemauan temannya, ia segera naik setelah Rizki menghidupkan mesin motornya. Rico mengikutinya dari belakang. Kali ini tujuan mereka adalah rumah Cintya, karena ia tahu Arga tak akan membuat hal nekat jika di rumah Cintya.
***
Entah sudah berapa kali Raina menyeka air yang terus saja mengalir dari ke dua matanya yang indah. Kini pun ia sedang terisak melihat foto kebersamaannya dengan Arga dan juga yang lainnya.
“Kamu kenapa kecewain aku sih Ga? Apa salahnya kamu jujur sama aku?” Gumam Raina mengusap foto Arga yang ia ambil diam-diam.
Karena jarak dari jakarta menuju perancis membutuhkan waktu lama hingga berjam-jam. Raina memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya, ia terlelap dengan tenang.
Setelah menempuh perjalanan yang panjang akhirnya Raina sampai di negara perancis dengan ibu kota nya yaitu paris yang terkenal dengan menara Eiffel nya.
Raina menarik kopernya dan menghentikan sebuah taxi karena ia tak memeberitahukan kakaknya, Raina begitu menikmati perjalanannya karena bertepatan dengan musim semi dimana banyak bunga yang bermekaran.
Raina menurunkan kakinya ketika ia sampai di depan loby apartemen kakaknya, ia mengambil kopernya setelah ia membayar argo taxi nya. Ia menarik kopernya dan memasuki lift untuk naik ke lantai 5 dimana unit apartemen kakaknya berada.
Ting..
Pintu lift terbuka sempurna dan Raina pun menarik kembali kopernya, setelah sampai di depan pintu ia menekan bel beberapa kali namun tak ada juga yang membuka pintu hingga ia memutuskan untuk masuk sendiri, setelah menekan password satu kali pintu akhirnya terbuka.
Hal pertama yang ia lihat adalah isi apartemen yang sedikit berantakan, gitar di atas sofa dan kaleng soft drink di meja berserakan dengan bungkusan snak ringan. namun ia tak menemukan kakaknya. Dengan senyum jahil ia melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar kakaknya.
Senyumnya menyeringai mendapati kakanya sedang tidur membelakanginya, pelan-pelan ia berjalan mendekati dan langsung menghambur memeluknya.
“Bangun woyyy… tidur mulu.” Raina berteriak ke telinga kakaknya dan langsung menimpuknya dengan bantal.
Perlakuannya tentu membuat yang tertidur langsung bangun seketika.
“What the ****..” Umpat lelaki yang tak Raina kenal.
Tangannya mematung ketika ia melihat bukanlah kakaknya yang sedang tidur, melainkan orang lain, bahkan si lelaki tersebut tak memakai baju. bantal yang hendak ia gunakan untuk menimpuk kakaknya terjatuh. Refleks Ia pun turun dari ranjang dan berlari keluar dari dalam kamar.
“Apa aku salah masuk ya? Mana mungkin ah, jelas ini apartemen Kakak gue.” Gumam Raina mondar-mandir di depan kamar.
“Hey, who are you?”
“Hey, siapa kamu?” Tanya Raina ketika ia melihat lelaki yang menempati kamar kakaknya keluar dengan menggunakan kaos hitam dan celana jeans selutut.
“I should be asking, who are you? How come you're here?”
“Harusnya aku yang tanya, siapa kamu? Kenapa kamu bisa di sini?” Tanya balik lelaki tersebut sembari memegang telinganya karena masih terasa mendengung oleh ulah Raina.
Raina tak menjawab pertanyaan lelaki tersebut, ia langsung mengambil ponsel dan menon-aktifkan mode pesawat, karena ia tak sempat mengganti sim card nya maka ia langsung mengaktifkan nomornya agar bisa di pakai di negara yang ia tinggali sekarang. Setelah di aktifkan, begitu banyak notifikasi masuk ke ponselnya, ia tak mengiraukan berbagai notif yang masuk, ia langsung menghubungi kakaknya.
“Lo dimana kak?” Tanya Raina kesal ketika sambungan telfonnya terhungung dengan Raka.
“Kenapa emang?” Tanya Raka keheranan.
“Gue di apartemen lo, lo dimana? Kok ada cowok lain di sini? Mana nyeremin lagi.” Ucap Raina yang melihat tato di lengan lelaki yang sedang mengusap-usap telinganya, sedangkan lelaki yang sedang di bicarakan oleh Raina dan Raka tak memperdulikannya karena ia tak mengerti apa yang di bicarakan oleh Raina. Ia malah pergi meninggalkan Raina ke dapur untuk mengambil soft drink dingin serta snak ringan.
Bisa di pilih nih mau sama babang Arga atau sama Cowok yang satu ini?
Happy Reading..
Jangan lupa dukungannya😁