RAINA

RAINA
Chapter 10



Aku menhentikan langkahku saat merasakan tanganku di genggam. Aku menoleh ke si anak perempuan karena ia yang telah menggenggam tanganku.


"Kenapa?" Tanyaku saat melihat raut wajahnya yang begitu menggemaskan menurutku.


"Aku ingin makan itu" Tunjuknya pada gerobak bakso yang di pinggir jalan.


Aku hanya tersenyum dan mengangguk menyutujui permintaannya dan di sambut senang olehnya, padahal aku ingin membawanya ke restoran terdekat tapi ia malah ingin malan bakso.


"Bang bikinin 3 porsi ya, yang satu jangan pake mie."


"Makan di sini apa di bungkus?"


"Di sini aja bang."


Aku menghampiri mereka dan duduk di samping anak perempuan.


"Oh iya, kita belum berkenalan, namaku Raina kalian bisa panggil aku Rain." Ucapku mengulurkan tangan pada si anak perempuan.


"Hai kak Ren, namaku Anisa." Ucapnya menyambut uluran tanganku.


Aku tersenyum saat ia salah menyebut namaku.


"Namanya bukan Ren, tapi R A I N." Ucap si anak lelaki meng eja hurup namaku.


"Oh.. " balasnya membulatkan bibirnya yang semakin menggemaskan menurutku.


"Aku Abimana kak Rain, kakaknya Anisa."


Aku tersenyum kecut mengingat saat berfikiran bahwa mereka berpacaran.


"Senang berkenalan dengan kalian."


"Kakak tidak malu bersama kami?" Tanya Abi saat ia merasa bahwa orang-orang kini menatap kebersamaan kami.


"Kenapa harus malu, kakak yakin kalian adalah orang baik, tidak ada salahnya berteman dengan orang baik bukan?"


Ucapku dengan senyum tulus.


Percakapan kami terhrnti saat si abang tukang bakso menyajikan baksonya di meja kami.


"Kita makan dulu, nanti kita lanjutin lagi ngobrolnya."


Mereka mengangguk dan mulai menyantap bakso dengan lahap, terlihat seperti udah tak makan berapa lama, pikirku.


"Abi mau nambah lagi?"


"Tidak, terima kasih kak."


"Kalian kelas berapa?"


"Anisa kelas 3 SD, kalau aku sudah tidak sekolah kak."


"Kenapa Abi sudah tidak sekolah?"


"Ibu dan bapak sudah tidak bisa membiayai sekolah kami berdua jadi Nisa saja yang sekolah, karena uang hasil kerja bapak di pakai buat beli susu adek sama makan."


"Abi sudah keluar dar SD?"


"Belum, seharusnya aku sekarang kelas 5 SD."


"Oh.. trus abi ngamen uangnya buat apa?"


"Hasil ngamen, uangnya kami berikan pada ibu buat keperluan sekolah Nisa."


Aku sedih mendengar penjelasan Abi, dulu aku selalu menghamburkan uang dengan mentraktir teman yang mendekatiku padahal mereka hanya menginginkan uangku saja, padahal masih banyak orang yang lebih membutuhkan uangku dari pada teman-temanku dulu.


"Kakak terima kasih baksonya." Ucap Nisa ceria.


"Sama-sama sayang." Ucapku dengan membelai rambutnya yang kusut.


Aku melihat jam di tanganku dan ternyata sudah sore dan membuat Pak Anton menungguku terlalu lama.


"Kakak pulang dulu ya, besok kita bertemu lagi di tempat yang tadi." Seruku saat membayar bakso dan tak lupa aku membungkus 2 porsi bakso untuk ibu dan Ayahnya.


"Kakak pulang dulu, bye..!!" Pamitku meninggalkan mereka.


Aku menghampiri pak Anton di parkiran, ia sedang tertidur di dalam mobil, aku mengetuk kacanya hingga ia terbangun.


"Maaf non, bapak ketiduran." Ucapnya dengan wajah bersalah.


"Gak apa-apa pak, aku juga yang salah karena kelamaan. maaf ya pak." Ucapku karena merasa bersalah telah menyuruh pak Anton menungguku.


Jangan lupa beri komentar dan Likenya kakak readers😊