
Salju pertama turun menyambut kehadiran Adrian bersama seseorang, mereka keluar dari bandara di sambut oleh Raka bersama seorang wanita yang tak lain adalah Abiela sang kekasih.
“Kenapa dia bisa ikut pa?” Tanya Raka melihat pria yang berdiri tegap di belakang tubuh Adrian dengan memegang dua yaitu koper Adrian dan juga koper miliknya.
Raka mengamati penampilannya dari atas sampai bawah, sama sekali tak ada celah untuk dirinya menilai buruk pria tersebut.
Dari manik matanya yang hitam dan tajam, yang mampu membuat semua mata hawa tersihir dengan tatapannya, Hidungnya yang mancung menambah sempurna wajah tampannya. Tak bisa di pungkiri jika pria yang berdiri di belakang tubuh papanya bisa memikat hati siapapun yang melihatnya termasuk Raina sang adik dan Abiela sang kekasih yang tak berkedip menatapnya.
“Dia hanya ingin meluruskan kesalah pahamannya.” Ujar Adrian memberitahukan maksud mengajak Arga.
Ya.. Pria yang di maksud adalah Arga.
“Siapa dia?” Tanya Adrian pada wanita yang terus di genggam tangannya oleh Raka.
“Abiela Om.” Abiela mengulurkan tangan kanannya pada Adrian, ia mencium punggung tangan Adrian karena ia sudah belajar bagaimana tatakrama menyambut calon mertua menurut adat Indonesia dari yout*be.
“Saya Adrian, papanya Rakana dan Raina.” Ucap Adrian tersenyum melihat kesopanan dari Abiela.
“Abiela.” Ucap Abiela pada Arga.
“Arga.” Ucap Arga menyambut uluran tangan Abiela.
“Arga.” Kini Arga mengulurkan tangannya pada Raka, karena baru kali ini ia bisa bertatap muka dengan Raka yang pernah ia sangka sebagai kekasih Raina.
Raka menyambut uluran tangan Arga dengan singkat kemudian menarik koper papanya menuju mobil yang terparkir di ikuti yang lainnya.
“Apa papa capek?” Tanya Raka melihat papanya yang sedang duduk bersandar di sandaran kursi belakang samping Arga lewat spion mobil, kini mereka dalam perjalanan menuju apartemennya.
“Kenapa?” Jawab Adrian dengan balik bertanya.
“Oh.. Ya sudah kau turuti saja permintaannya, papa bisa menunggu di cafe dengan Arga.”
“Oke, aku antar papa ke cafe dulu.”
Raka mengantarkan Adrian dengan Arga ke cafe yang tak terlalu ramai agar papanya bisa istrahat sejenak dengan nyaman. Mereka memilih tempat duduk dekat jendela supaya bisa melihat salju yang berjatuhan dengan indahnya.
Dua gelas kopi sudah tersaji diatas mejanya, Adrian menyesapnya perlahan dan senyumnya melengkung indah di bibir tatkala melihat Arga yang resah karena tak bisa menghubungi Raina.
Adrian menatap Arga yang sedang menyesap kopinya, rasa penyesalannya hadir tatkala ia tak pernah menyempatkan waktu untuk berbicara empat mata dengannya. Setiap hari Arga sering datang untuk berkunjung padanya namun karena permintaan dari sang anak ia tak pernah menggubris Arga.
Hingga kemarin malam Dhafin dan Bagas datang ke rumah dan menceritakan semua permasalahan yang menimpa Arga dan juga anak gadisnya, Adrian tak menyalahkan Raina yang pergi menjauhinya karena mungkin saja Adrian akan melakukan hal yang sama jika ia berada di posisi Raina.
“Semoga saja kau tak terlambat.” Gumam Adrian ketika Arga tersenyum padanya.
“Kenapa Om?” Tanya Arga saat matanya tak sengaja melihat gumaman dibibir Adrian.
“Tidak, kopinya enak sekali.” Ucap Adrian tersenyum dan kembali menyesap kopinya.
“Oh iya, aku penasaran sekali kenapa om tiba-tiba mengajakku menemui Raina.”
“Ohh.. itu karena om melihat kegigihanmu yang ingin sekali bertemu dengan anak gadis om, hampir tiap hari kamu datang ke rumah, maafkan om Arga karena baru bisa menyempatkan waktu untuk bicara denganmu.”
“Tak apa om.” Ucap Arga dengan senyumannya yang selalu menawan.
jangan lupa dukungannya😁