RAINA

RAINA
Chapter 2



Raina menatap tajam siswa lelaki yang bertanya nomor ponselnya, Ia hanya berdiri menunggu wali kelasnya untuk menyuruhnya duduk dibangku kosong.


"Raina.." Panggil bu Indri membuat Raina segera menoleh karena ia tak tahan harus berdiri terus dan mendengarkan siswa lain yang mulai berani menggodanya, dengan menanyakan hal yang tak penting menurutnya.


"Silahkan duduk!" bu Indri menunjuk kursi kosong dibelakang, bersebelahan dengan bangku Arga dan Cintya.


Tak menunggu lama ia langkahkan kakinya untuk segera sampai di bangkunya, ia dudukan tubuhnya diatas kursi dan melihat disampingnya kursi kosong tanpa penghuni, ia tersenyum merasa senang karena tak akan ada yang mengganggunya, ia membuka buku pelajarannya ketika bu Indri mulai dengan pelajarannya dan ia pun memperhatikan bu Indri yang sedang memjelaskan pelajaran matematika.


Cowok populer nomor satu yaitu Arga, melirik kearah wanita yang duduk sendiri disebelah bangkunya, ia memperhatikan penampilan Raina dari atas sampai bawah yang menurutnya tak jauh berbeda dengan Cintya.


Merasa di perhatikan, Raina menoleh ke arah Arga namun ternyata perasaanya salah, Arga maupun Cintya sama sekali tidak memperhatikannya, mereka terlihat fokus pada kegiatan mereka masing-masing, Cintya fokus kedepan sedangkan Arga asyik mensekrol benda pipih yang ia pegang di bawah bangku.


Raina kembali melihat kedepan, satu sudut bibir Arga terangkat karena dirinya tak ketahuan sesang memperhatikan murid baru. ia menyimpan ponselnya kedalam tas dan mulai mensedekapkan kedua tangangnya diatas meja untuk bantalan kepalanya, ternyata ia berniat untuk tidur karena matanya mulai ia pejamkan.


"Baiklah pelajarannya sampai di sini, jangan lupa kerjakan tugas kalian dan diharap kumpulkan besok!!" Perintah bu Indri sambil membereskan buku-buku serta peralatan mengajarnya.


Setelah tak mendengar kembali suara bu Indri yang kini mulai tergantikan dengan suasana gaduh dan ricuh Arga pun membuka kedua matanyan, ia bangun dengan menguap.


"Hai Rain" Sapa Rico dan Rizki yang telah berdiri di sebalah Arga memunggunginya, mereka menghampiri bangku Raina.


"kenalin." Rico mengulurkan tangan kanannya. "Gue Rico, ini temen gue Rizki, Arga dan di sebelahnya Cintya" Rico langsung memperkenalkan diri meski Raina tak menyambut uluran tangan darinya, bahkan Raina acuh waktu Rico menunjuk satu per satu temannya.


"Hai Rain, minta nomor HaPe lo dong, biar kita bisa whatsapp-an gituh." Seru Rizki menyodorkan ponselnya yang barunia beli tepat didepan wajah Raina yang dari tadi tertunduk membereskan buku-bukunya dan mulai membuka buku pelajaran baru yang telah ia keluarkan dari tasnya.


Merasa terganggu dengan sikap Rizki dan Rico yang terus memaksa minta nomor ponsel, ia pun menyandarkan tubuhnya di kursi, kedua tangannya ia sedekapkan di perut, wajahnya mendongak ke arah cowok-cowok yang masih berdiri di sebelahnya dan udah mengganggu waktunya.


Tanpa malunya kedua cowok tersebut malah senyum-senyum tak jelas dengan kedua alis mereka yang terus saja turun naik, Ia segera membereskan buku dan memasukannya kembali kedalam tas. Raina tersenyum samar saat ia mengeluarkan ponselnya.


Wajah Rizki dan Rico langsung bertambah cerah karena mereka terlalu yakin Raina akan memberikan mereka nomor ponselnya, namun senyuman dari kedua cowok populer itu sirna seketika bahkan wajahnya langsung memerah bagaikan tomat saat Raina berdiri dan malah pergi begitu saja melalui jalan disebelahnya untuk menghindari mereka dengan senyum mengejek.


" Udah deh Ko, lo gak usah kenalan sama cewek model begituan, sok kecakepan tau gak." Tutur Cintya dengan suara keras dan Lantang hingga siswa dan siswi yang masih berada dalam kelas memperhatikannya.


Sampailah Raina berdiri disamping Arga, dibelakangnya ada Rico dan Rizki, Cintya masih setia berdiri disebelah Arga dengan menatap tajam Raina meski Arga sudah berulang kali menyuruhnya untuk duduk kembali, Cintya menantang Raina karena ia sama sekali tidak takut pada cewek baru dikelasnya membuat Raina tersenyum sinis mengejek tingkah Raina.


"Lo bilang gue sok kecakepan?" Raina menunjuk Cintya lalu ia menunjuk dirinya sendiri. "Kayaknya lo mesti periksa mata deh!!" Lanjutnya dengan nada lembut.


Merasa suasana akan menjadi tak aman, Rico dan Rizki memdekati Raina karena ia tak ingin dikelasnya ada kejadian cakar-cakaran serta jambak-jambakan.


Perkataan Raina tentu saja membuat Cintya naik darah hingga ia menggebrak meja dengan keras membuat Rico dan Rizki merasa ngilu melihat tangan Cintya yang terlihat gemetar, pasti akan sakit dan juga panas pastinya pikir Rizki dan Rico kompak.


Arga dengan cepat memegang pergelangan tangan Cintya, berusaha untuk menenangkannya, ia tak ingin teman baiknya harus berususan dengan masalah yang sangat sepele menurutnya. Raina hanya tersenyum sinis melihat sikap Cintya yang gampang tersulut emosinya.


"Sorry, siapa lo tadi?" tanya Raina pada Rico dan Rizki.


"Rico" Seru Rico langsung memegang tangan Raina, padahal Raina tak berniat bersalaman, ia hanya menunjuknya saja.


"Bilangin sama temen lo yang satu itu!! Kasih tau dia kalo gue emang udah cakep dari lahir, bukan sok kecakepan." Tutur Raina seperti berbisik di telinga Rico namun suaranya keras hingga terdengar oleh yang lainnya.


Tubuh Rico mematung seketika, tangan kanannya bergetar karena ia merasakan gundukan dada Raina menempel pada lengannya yang sedikit berotot. bahkan hembusan nafas dari mulut Raina begitu hangat menerpa kulit lehernya hingga membuatnya merinding disco tak menentu.


Raina segera berbalik badan untuk pergi keluar dari kelas, tanpa mereka bertiga ketahui, Arga menarik kedua sudut bibirnya saat melihat punggung Raina yang menghilang dari pandangan matanya.


"Kenapa lo mesti tahan gue sih? Padahal tadi tuh tangan gue udah gatel pengen nampar mulutnya yang kurang ajar dan juga jambak rambutnya sekalian." Gerutu Cintya sambil menjatuhkan tubuhnya dengan kasar di kursi, bibirnya maju beberapa centi tanda ia marah besar pada teman-temannya yang sama sekali tak mendukungnya.


"Ga lo mau kemana sih? gue lagi kesel juga.!" Teriak Cintya melihat Arga keluar dari kelas dan terus saja mengacuhkannya.


Cintya berlari mengejar Arga diikuti oleh Rizkin sedangkan Rico masih bergeming ditempatnya dengan mengusap-usap pipinya yang tadi berdekatan dengan pipi Raina, bahkan ia menciumi telapak tangannya yang bekas bersalamanan dengan tangan Raina, telapak tangannya begitu harum karena parfuk Raina yang menempel.


Merasa temannya tak ada satu, Rizki segera menoleh kebelakang, ia kembali kedalam kelas dan melihat Rico seperti orang gila baru, Ia hanya bisa menepuk jidatnya sendiri dan segera menyeret tubuh Rico untuk menyusul Arga dan Cintya.