RAINA

RAINA
Chapter 6



Raina menyantap makanannya dengan lahap ditemani oleh Raka kakak kandungnya.


Rakana Adriana Putra ialah kakak kandung satu-satunya Raina, ia sangat menyayangi gadis kecilnya. Namun karena ia harus pergi ke prancis untuk melanjutkan pendidikannya maka ia terpaksa meninggalkan dua orang yang ia sayangi.


"Sudah?." tanya Raka melihat makanan Raina sudah tak tersisa lagi dipiringnya.


"Ya." jawab Raina singkat.


Raka terus saja memperhatikan penampilan baru Raina, ia begitu terkejut dengan Raina yang sekarang, berbeda sekali dengan terakhir kali ia melihatnya. Dulu meskipun Raina memakai kaca mata tetap saja penampilannya jauh dari kata culun,masih cantik dengan penampilannya yang menggemaskan.


Saat akan menjemput Raina, ia sudah diberitahukan oleh pak Anton jika Raina sedikit berubah, namun ia tak habis pikir dengan perubahan yang begitu drastis ini.


"Rain.." Panggilnya dengan melihat Raina makan.


"Hemp.." jawabnya tanpa menatap Raka, ia kini asyik mengunyah buah potong didepannya.


"Kenapa seragammu seperti itu sekarang?"


Raina melirik baju seragamnya, dan kembali melanjutkan memakan buahnya.


"Kenapa emang?"


"Rain.. orang lain bakal beranggapan kalo lo tuh cewek gimana." Tutur Raka sedikit emosi dengan tanggapan Raina tadi, seolah pertanyaannya tak penting.


"Gue gak mau tau, besok pagi pake baju yang agak longgaran!!" Perintahnya langsung tak bisa di bantah sama sekali, ia tak ingin menjelaskan lebih padanya. ia begitu khawatir Raina akan di ceomooh orang, apalagi jika ada orag jahat, karena sekarang ia tak bisa menjagaya seperti dulu.


"Hmm." jawabnya pasrah. Raina tak pernah membantah apa kata kakaknya, karena ia tahu semua yang kakaknya katakan adalah untuk kebaikannya.


***


"Morning Papaku." Sapa Raina mencium pipi Papanya yang sedang sarapan.


"Papa gue itu." Seru Raka menjulurkan lidahnya mengejek saat melihat tingkah manja Raina pada Papanya.


"Ishh.. papa lebih sayang gue, ya kan pa?" Tanya Raina tak mau kalah dan mensedekapkan tangannya di atas meja memandang papanya yang sedang memakan Roti isi.


"Iya.. papa sayang kedua anak papa." Jawabnya menengahi perdebatan anaknya, karena kalo tidak di berhentikan begitu mereka akan terus berlanjut memperdebatkan hal sepele seperti tadi.


Raka terkekeh melihat gadis kecilnya yang memakan Roti dengan cemberut.


"Mbak, Pak Anton udah siap?" Tanya Raina saat melihat mbak Ana sedang menuangkan air putih kedalam gelas mereka bertiga.


"Tumben nanyain pak Anton, biasanya juga di antar jemput si doi, Emang si Rangga kemana?" Raka bertanya keheranan karena seingatnya Rangga selalu menjemput Raina setiap hari. Dan ia tersadar karena tak melihat Rangga ikut sarapan sekarang.


"Mati." Jawab Raina ketus karena ia kesal mendengar nama Rangga lagi.


Raina hanya diam karena di tegur oleh ayahnya, sedangkan Raka menoleh ke arah ayahnya, kedua alisnya berkerut dalam.


"Raina sudah putus dengan Rangga, jadi gak usah ngomongin Rangga mulai sekarang!!." Adrian berkata dengan setengah berbisik karena tahu bahwa Raka belum mengetahui kabar putusnya Raina dengan Rangga.


"O." Raka hanya membulatkan mulutnya tanpa bersuara.


"Gue aja yang anterin lo, gak ada kerjaan juga." Tawar Raka pada Raina, itu membuat Raina langsung menatapnya dan tentu saja di sambut dengan senang hati.


Sesampainya disekolah Raina tak juga turun dari mobil, ia hanya tersenyum melihat Raka yang tersenyum kearahnya, ia baru turun saat Raka membukakan pintu mobil untuknya.


Raka baru tersadar dengan pakaian Raina, ia menangkup kedua bahu Raina dan melihat baju seragam Raina yang menurutnya sudah membaik meski Roknya masih di atas Lutut namun ia bisa mentolelir itu.


"Nah gini kan enak di liatnya, gak bakalan ada cowok yang berani godain gadis kecil gue." Tutur Raka mengacak rambut Raina.


"kak… " Teriak Raina kesal dan segera merapihkan kembali rambutnya.


"Ya udah gue masuk dulu ya, bye." Raina mencium pipi Raka sekilas sebelum ia masuk kedalam. Banyak siswi yang iri pada kedekatan mereka dan bergosip membenarkan perkataan Cintya kemarin.


Raka melambaikan tangannya dengan memberikan senyuman tulusnya sebagai seorang kakak pada adiknya, ia baru meninggalkan sekolah setelah tak melihat Raina lagi dari pandangannya.


Raina masuk kedalam kelas dan segera duduk dikursinya tanpa menghiraukan pandangan orang lain terhadapnya, ia tahu jika sekarang sedang di gosipkan namun ia benar-benar tak peduli. malahan ia sangat bersyukur jika tak ada yang mau berteman dengannya.


Raina mulai membuka buku dan mempelajari buku pelajaran yang akan dibahas oleh guru, terlalu malas untuk meladeni para siswi yang mengajaknya mengobrol untuk menanyakan kebenaran gosip yang beredar sekarang. Bukannya sombong hanya saja ia tak perlu menjelaskan apapun karena tak ingin mempunyai banyak teman yang hanya memanfaatkannya saja.


"Hai Raina.." Sapa Rico yang langsung duduk di kursi kosong sebelah Raina, sedangkan Rizki duduk dibangku depan menghadap Raina.


"Udah deh Ko gak usah sapa cewek sombong kayak dia." Seru cintya yang baru sampai dan segera duduk bersamaan dengan Arga.


Raina hanya tersenyum sinis mendengar perkataan Cintya, ia tak menghiraukannya dan terus membaca.


"Selamat pagi anak-anak.." Sapa Bu Sari masuk kedalam kelas saat bel tanda masuk telah berbunyi dan membuat kedua cowok yang dari tadi mengganggu Raina langsung kembali kebangkunya.


"Pagi bu..." Jawab semua murid serempak.


"Buka buku pelajaran kalian!" perintahnya.


Bu Sari pun menjelaskan materinya, Raina fokus mendengarkan penjelasan yang di sampaikan bu Sari hingga bel tanda usai pelajaran selesai.


Disaat semua murid kembali berkumpul untuk melepas jenuh belajar Raina malah mengeluarkan Buku Matematikanya karena sekarang adalah giliran pelajaran Bu Indri.


Sedangkan dimeja sebelah ia mendengar perdebatan kecil antara Rico dan Rizki yang berebut jawaban untuk tugas mereka yang belum terselesaikan.


Mereka heboh mengerjakan tugas yang belum dikerjakan kemarin, dan itu semua tentu saja dengan mencontek dari murid lain, ia pun melirik le bangku sampingnya, terlihat Arga yang sedang asyik memainkan ponsel.