RAINA

RAINA
Chapter 79



‘hadiah kecil untuk Adikku. Maaf untuk semua yang telah kami lakukan pada keluargamu dulu. Semoga kali ini kita bisa bersama meski ku rasa itu tak mungkin’


Dahinya semakin berkerut dalam ketika ia hanya melihat sebuah note dari Dhafin di dalam kotak kadonya.


“Saya mohon perhatian dari semuanya. Ini adalah kado pertama dari saya juga mama untuk Arga.” Ucap Dhafin sembari memainkan ponselnya.


<>


“Gimana kabar calon suami lo?”


“Ya gitu deh.”


“Untung juga ya ada yang mau nikahin lo.”


“Kalo bukan karena gue yang cerdik, mereka pasti masih bersama.”


“Ya..”


“Lo gak kasian sama si Arga?”


“Enggak, lagian juga sekarang dia percaya kalo ini anaknya.”


“Emang dasar licik lo.”


“Trus gimana kabar bapaknya tuh bayi?”


“Entah, gue juga gak tau.”


“Untung gue selalu inget pake pengaman, kalo enggak gue juga pasti kena kelicikan elo.”


<>


Potongan percakapan Sindy dengan Rangga terdengar jelas oleh semua orang yang ada di sana. Semuanya tercengang kecuali Yulisa dan Dhafin. Dengan susah payah Yulisa menyadarkan anaknya, dan akhirnya Dhafin menyerah dengan ke egoisannya, jika saja ia tak menuruti apa kata ibunya mungkin ia akan menyesal seumur hidupnya


“Itu adalah suara Sindy dengan teman lelakinya, saya tak tahu siapa lelaki tersebut, tapi dalam percakapan tersebut membenarkan jika bayi yang dalam kandungan Sindy bukan lah milik Arga.” Ucap Dhafin dengan suara beratnya dan terlihat dengan wibawanya seorang kakak yang melindungi sang adik.


“Awalnya saya pun mengira jika Arga berbuat seperti itu bahkan bodohnya saya karena telah mempercayai orang lain, tapi setelah saya mendengar percakapan mereka, saya paham jika Arga di jebak, saya sebagai kakak nya merasa tak terima.”


“Dhaf…”


“Sorry Ga, awalnya gue gak akan memberitahukan itu pada lo, karena gue juga menginginkan Raina. Tapi setelah gue merenung apa kata nyokap, gue sadar jika pun gue bisa bersama Raina gue gak akan bahagia dan tenang, karena pasti akan ada rasa bersalah menghantui pada diri gue.”


“Apa maksudnya ini?” Ucap Manda tak menerima.


“Bukankah tadi sudah jelas bu Manda? saya rasa percakapan mereka barusan begitu jelas, kenapa bu Manda bertanya?” Tanya Yulisa.


“Sindy??” Tanya papa Sindy meminta penjelasan dengan menahan marah bercampur malu.


“Maaf pa..”


“Jika benar Arga bukan yang menghamilimu lalu siapa Sindy?” Tanya Manda kesal membuat Sindy menunduk dalam dan menggelengkan kepalanya.


“Sekarang kita pulang!” Papa Sindy menarik tangan anaknya meninggalkan kediaman Bagaskara.


“Bagaimana dengan pernikahanya pa?”


“Kau pikir Arga akan menerimamu hah? Kau sudah buat papa dan Mama malu.” Bentak Manda.


“Sorry Ga, harusnya gue berikan itu dari kemarin-kemarin dan…”


“Thanks Dhaf.. ” Potong Arga memeluk Dhafin erat menumpahkan rasa bahagianya.


Tanpa ada rasa gengsi ataupun malu mereka saling berpelukan di tambah Yulisa yang memeluk dua pemudanya.


“Maafkan papa nak.” Ucap Bagaskara mengusap lembut rambut Arga.


“Maafkan Arga juga pa” Ucap Arga memeluk Bagaskara.


“Maafkan Arga ma..” Ucapnya parau.


“Mama yang harus minta maaf, gara-gara mama keluarg….”


“Semua sudah takdir, maaf karena Arga baru bisa merasakan kasih sayang mama sekarang.” Potong Arga


“Tak apa sayang, mama harap kamu mau tinggal lagi di sini.”


Arga mengangguk dalam pelukan keluarganya.


“Terima kasih sayang, mama senang kamu sudah mau menerima mama dan juga Dhafin.”


Mina dan Indri menyeka air matanya dan mereka pun saling berpelukan, mereka senang akhirnya keluarga kakaknya kembali utuh.


“O.. iya, lo penasaran kan kenapa gue bisa dapat rekaman itu?” Ucap Dhafin.


“Sudah, lebih baik sekarang kita makan, kita rayakan kebersamaan kita, semoga keluarga kita selalu utuh.” Yulisa menarik Arga dan Dhafin menuju meja makan yang sudah tersaji begitu banyak makanan.


Arga tersenyum melihat orang di sekelilingnya, di hari ulang tahunnya Dhafin yang selalu ia musuhi kini menolongnya, ia benar-bebar malu karena selalu membencinya.


“Kok senyum-senyum sendiri, ayo sayang kamu makan yang banyak, kamu belum nyobain masakan mama kan?”


“Kamu juga Dhaf, jangan diam saja ayo makan!”


“Ini enak ma..”


“Makasih sayang.”


“Ga, ini Raina kan?” Indri menyerahkan ponselnya pada Arga, terlihat Raina sedang di peluk dari belakang oleh lelaki yang pernah ia lihat dulu.


“Dia udah punya cowok.” Ucap Indri lagi.


“Masa dia udah ama cowok sih Dri?”


“Coba saja mas Dhafin liat sendiri!!” Ujar Indri memberikan ponselnya pada Dhafin.


Dhafin menerima ponsel dari tangan Indri dan ia pun langsung tersedak karena tak kuasa menahan tawa.


“Hati-hati, lagi makan juga.” Ucap Yulisa.


“Aku permisi, ada janji dengan teman.” Arga bangkit tak melanjutkan makannya.


“Lo cemburu sama kakaknya?” Teriak Dhafin membuat langkah Arga berhenti.


“Kakak?” Tanya Indri.


“Iya, dia itu kakanya Raina, namanya Rakana. Gue kira lo udah kenal.”


“Gue gak cemburu, gue juga udah kenal.” Ucap Arga berlalu meninggalkan meja makan karena terlanjur malu jika ia bergabung kembali..


“Trus kenapa lo langsung cabut gitu aja pas liat foto mereka?”


“Cemburu bilang boss..!!”


Kakinya terus saja berjalan tanpa menghiraukan teriakan Dhafin yang mengejeknya, wajahnya tiba-tiba saja memanas menahan malu luar biasa.


“Bisa-bisanya gue nyangka dia pacarnya.” Gumam Arga menggelengkan kepalanya, senyumnya terus saja tersungging di bibirnya.