
Raina duduk menunduk melihat jemari tangannya yang saling bertautan, begitu pun dengan perempuan yang duduk di hadapannya.
Hening..
Meski sudah 20 menit mereka duduk bersama tapi belum juga ada yang bersuara, Entah apa yang ada dalam benak mereka.
“Minumlah..” Tutur perempuan tersebut.
Dengan Wajah sendu Raina mendongak membalas senyuman perempuan yang sedang meminum minumannya, bekas air matanya begitu terlihat jelas meski ia sudah menghapusnya bahkan dengan ia tersenyum pun tetap saja raut kesedihan masih nampak di wajah cantiknya.
“Aku yakin kau bukan sekedar teman dengan Arga, apa aku benar?” Tanya Yulisa, ibu tiri Arga.
Kedua tangan Raina kini memegang gelas lemon tea di hadapannya, kepalanya mengangguk membenarkan pertanyaan Yulisa.
“Aku yakin kau sudah mendengar semuanya tadi, apa Arga pernah menceritakan tentang keluarganya padamu?”
Raina menggeleng, meski ia sudah minum tetap saja tenggorokannya terasa kering hingga ia sangat susah sekali untuk berbicara. Dalam benaknya banyak hal yang ingin ia tanyakan, tapi entah kenapa bibirnya kelu tak bisa berkata.
“Aku adalah Yulisa, istri pertama dari Bagaskara papanya Arga.” Raina membelalakan matanya mendongak pada yulisa, seakan tak percaya dengan apa yang ia dengarkan. Yulisa hanya tersenyum.
“Aku hanya istri siri nya, lama kami menjalin pernikahan tanpa di ketahui oleh keluarga bagas sampai kami mempunyai anak yaitu Dhafin, awalnya rumah tangga kami baik-baik saja hingga suatu saat Bagas menikah lagi bersama Nayla ibunya Arga. Mereka menikah karena di jodohkan oleh Wijaya kakeknya Arga. Awalnya Bagas tak menyukai Nayla, ia menikahinya karena di ancam oleh wijaya, namun karena mereka hidup bersama lambat laun cinta itu hadir di keduanya hingga mereķa mempunyai Arga, awalnya aku pasrah dengan nasibku, menjadi istri pertama tapi seakan aku adalah simpanannya. Aku yang egois merasa di nomor duakan oleh Bagas hingga aku nekat mendatangi Nayla dan menceritakan semuanya. Waktu itu Nayla sedang sakit parah dan Arga masih duduk di bangku SMP.. Nayla yang merasa terhianati tak bisa menerima kenyataan hingga ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.”
Yulisa menyeka air matanya dan kembali bercerita.“Kau tau apa yang aku rasakan saat Nayla tiada?” Raina hanya menggeleng dengan tangisnya, ia benar-benar tak bisa percaya.
“Aku merasa bersalah, apalagi saat aku melihat surat yang di buat Nayla sebelum meninggal. Ia menitipkan Arga dan suaminya padaku, ia meminta bagas untuk menikahiku dengan benar. Hatiku merasa bersalah, jika saja aku tak egois mungkin kita akan baik-baik saja...” Yulisa terisak.
“Rain.. Arga anak yang baik, aku percaya padanya bukan dia yang menghamili Sindy, dia hanya terjebak.. Dan aku mohon tetaplah bersama Arga.” Yulisa menggenggam kedua tangan Raina.
“Aku tahu Dhafin menyimpan rasa padamu,tapi aku tak bisa mendukungnya, bukan karena aku merasa bersalah pada Arga tapi karena aku merasa cinta Arga padamu begitu tulus.”
“Hanya itu yang ingin aku sampaikan padamu, tetap percaya padanya, dan tolong sampaikan maafku padanya, aku terlalu pengecut untuk meminta maaf padanya.” Yulisa bangkit, tangannya terulur mengusap bulir air mata yang mengalir di pipi Raina dengan tersenyum hingga ia pergi meninggalkan Raina sendiri dengan kebimbangannya.
Raina menyandarkan tubuhnya di pintu dan mendengar isak lirih Arga yang pilu. Tangannya memegang handle pintu dengan hati-hati ia membukanya, yang pertama kali ia lihat adalah barang yang berserakan dan Arga duduk membelakanginya memeluk sesuatu yang entah apa itu.
“Bee..” Raina menyentuh punggung Arga yang sedikit bergetar.
Arga bergeming tak menghiraukan Raina yang memanggilnya.
“Bee...” Raina mengusap punggung Arga dan berdiri di depannya memungut foto yang tergeletak di lantai, foto Arga yang sedang tidur dengan perempuan yang Raina yakini adalah Sindy.. Raina tau perempuan tersebut adalah mantan Arga yang pernah bertemu dengannya dulu.
Arga menengadahkan wajahnya, menatap Raina yang berdiri dengan memegang selembar foto. Tatapan mereka terkunci seketika, Entah apa yang ada di pikiran mereka hingga mereka hanya bergeming dengan pikiran mereka masing-masing.
“Kamu bisa pergi jika tak percaya padaku.” Ucap Arga beranjak berdiri.
Tanpa Arga duga Raina malah mengahambur dalam pelukannya, “Aku percaya.” Dua kata yang membuat Arga merasa terharu dan bahagia.
Kedua tangan Arga langsung balas memeluk Raina dan mereka menangis bersama, berkali-kali Arga mencium pucuk kepala Raina. “Terima kasih honey.” Ucap Arga penuh syukur karena ada yang percaya padanya.
“Aku memang sering menginap di rumahnya, tapi aku bersumpah tak pernah menyentuhnya lebih dari memeluk atau menciumnya Rain.” Ujar Arga padahal Raina tak bertanya apapun.
“Aku bersumpah Rain, setelah aku bersamamu bibir ini hanya milikmu, bahkan semua yang ada pada diriku adalah milikmu.” imbuhnya.
“Semuanya milikmu Rain.” Ucap Arga lirih membuat Raina mengangguk dalam pelukannya.
“Aku akan membuktikan jika bayi yang di kandung Sindy bukan milikku.” Ucap Arga mengurai pelukannya.
“Aku percaya.”
Langgengnya suatu hubungan adalah kepercayaan, selama kita yakin dengan hati kita maka percayailah pasangan kita tanpa harus mendengarkan perkataan orang lain. Itulah yang Raina yakini saat ini, hatinya berkata ia harus mempercayai Arga sepenuhnya.
Jangan lupa dukungannya😁