
“Papa…” Panggil Raina lirih dalam pelukan Adrian. Ia membenamkan wajahnya dalam dada bidang sang ayah, menumpahkan rasa rindu yang telah lama tertahankan.
“Iya sayang.” Adrian mencium puncak kepala anak gadisnya, rasanya tak percaya melihat anaknya tumbuh dewasa dengan baik. “Maafkan papa karena tak bisa hadir di acara wisudamu sayang.” lanjutnya mengusap punggung Raina.
“Tak apa, yang penting papa sehat ya! Jangan sakit lagi.” Ucapnya manja masih dalam pelukan sang ayah.
“Iya sayang.” Jawab Adrian tersenyum.
“Onty…” Teriak anak laki-laki berumur 2 tahun datang menghampirinya dengan merentangkan kedua tangannya.
“Haii my prince.” Raina berbalik melihat sang keponakan yang meminta untuk segera di peluk.
“Peluk opa aja ah, gak mau peluk kamu.” godanya memeluk Adrian kembali.
“Caa..haatt.” Dengan cemberut, matanya terpejam-pejam hampir menangis.
“Ulluu..uluu Tayangnya onty, Cup.. cup..” Raina memeluk keponakan kesayangannya dengan gemas dan memangkunya dengan memberikan banyak kecupan disetiap sudut wajahnya.
Hal tersebut membuat sang keponakan tak jadi menangis, ia malah tertawa geli karena Raina mengecupnya dengan bertubi-tubi di wajah mungilnya.
“Kapan datang Rain?” Tanya Abiela memasuki kamar mertuanya.
Tiga tahun lalu Rakana dan Abiela menikah di Prancis, setelah lulus Adrian menyuruh anak pertamanya untuk segera melamar Abiela dan menikahinya supaya dia bisa meneruskan perusahaan miliknya.
Kini mereka telah dikaruniai anak lelaki tampan yang bernama Aksara Putra, setelah menikah Abiela mengikuti Raka hingga ia tinggal dinegara sang suami.
“Baru saja sampai.. gimana kabarmu kak?” Jawab Raina memeluk Abiela setelah mengambil nampan dari tangan Abiela.
“Baik.. Rain, lebih baik kamu istirahat dahulu pasti capek kan!?”
“Ya sudah, papa makan buburnya dan jangan lupa minum obatnya supaya cepet sembuh!.” Ucap Raina mengecup pipi Adrian dan berlalu bersama Abiela serta Aksa keluar kamar. Bukannya Raina tak menyayangi sang ayah, namun hal tersebut ia lakukan supaya sang ayah mau makan, Adrian selalu menolak dimanja oleh anak-anaknya, jika dipaksa maka Adrian tak akan mau makan dan minum obat. Hal itu tentu membuat Raina sedih.
Sudah seminggu Adrian sakit karena tekanan darahnya yang terlalu tinggi hingga ia harus istarat total dirumah dan tak bisa mendatangi putrinya wisuda di prancis.
Boneka panda... hal pertama yang Raina lihat saat ia memasuki kamarnya. Kamarnya begitu terawat, meja belajar yang biasa ia pakai kini telah tiada, selebihnya tak ada yang berubah.
Raina masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang terlihat kucel. Selama 30 menit lebih ia menghabiskan waktunya dikamar mandi, tentunya untuk berendam air hangat karena tubuhnya benar-benar merasakan pegal yang luar biasa.
Saat ia sedang memilih pakaian di lemari ponselnya yang berada didalam tas berbunyi, Raina segera mengambilnya dan terlihat nama Sandi yang tertera dilayar.
“Iya San, ada apa?” Tanya Raina memilih pakaian yang hendak ia pakai.
“Kamu jadi pulang Rain? Aku lagi sama Sania sekarang. Mau gabung gak?”
“Emmh.. Nanti sore aja ya, sekarang aku mau berkunjung kerumah pak Joko.”
"Oh ya udah, nati aku share lokasi.”
“Okey.” Raina menyimpan kembali ponselnya dan mengambil baju model sabrina yang ia padukan dengan celana jeans kulot.
Setelah siap dengan penampilannya ia segera membuka kopernya, mengambil paperbag yang berisi oleh-oleh untuk keluarga pak Joko, dan semua ART dirumahnya, tentunya juga untuk pak Anton sang supir.
“Onty agi apa?” Tanya Aksa dibalik pintu.
“lagi beresin barang, kenapa?” Tanya Raina berjongkok di hadapan Aksa.
“In.” Aksa memberikan jus alpukat kesukaan Raina membuatnya tersenyum bahagia dan langsung meminum jus yang diberikan Aksa padanya.
“Makasih sayang.” Ucap setelah ia menghabiskan jus alpukatnya.
“Cama-cama.” Ucapnya berlalu pergi meninggalkan Raina.
***
“Non Raina?” Panggil pak Joko saat Raina memasuki warung yang terlihat sempit oleh pengunjung dan karena banyaknya aneka sembako yang berjajar rapih.
“Ya Allah non, udah lama banget bapak gak liat non, makin cantik aja.” Punjinya menghampiri Raina. Ia segera mengajak Raina naik ke atas dimana bu Wulan sang istri berada bersama anak bungsunya.
“Bu, liat siapa yang datang!” Ucap pak joko begitu antusias.
Bu Wulan yang sedang mengajar anaknya membaca menoleh dan segera berdiri menghampiri Raina, dipeluknya erat tubun Raina.
“Ya Allah non, tetep aja cantik kayak dulu." Pujinya.
“Assalamualaikum..” sapa suara anak remaja sedang melepaskan sepatunya.
“Waalaikumsalam.” Jawabnya bersamaan.
“Kak Rain?” Teriak Nisa kegirangan dan segera memeluk Raina.
“Kangen.” Rengek Nisa menangis dipelukan Raina.
“Katanya mau pulang tiap tahun, buktinya bohong.” Rajuk Nisa dalam pelukan Raina.
Tentu saja Nisa begitu terharu dan merajuk, semenjak pernikahan Raka mereka sudah tak pernah lagi mendatangi Raina, bahkan janji Raina yang akan pulang satu tahun sekali tak pernah ia tepati.
“Maaf, tugas kakak terlalu banyak.” Berharap Nisa dapat mengerti dan tak merajuk dengan janjinya.
“Terus mana oleh-oleh buatku?”
“Nisa???” Bu Wulan memperingati Nisa supaya berlaku sopan.
“Tak apa bu.” Raina memberikan paperbag pada kedua tangan Nisa yang telah terbuka lebar.
“Asyik..” Nisa menarik tangan Raina dan mereka duduk di sofa kecil, Bu Wulan memberikan es teh manis kehadapan Raina.
Waktu berlalu begitu saja, hingga kini menjelang sore. Raina dan Nisa menghabiskan waktu dengan bercanda gurau sembari mengajarkan adik bungsunya yang mulai masuk ke Taman kanak-kanak. Abi datang dari sekolahnya, menyapa sebentar Raina dan adik-adiknya lalu masuk ke dalam kamar.
Tak lama Abi keluar lagi dengan membawa handuk dan masuk ke dalam kamar mandi, dengan waktu yang singkat ia pun telah keluar lagi dengan style yang menurut Raina sempurna.
“Nis.. Kakakmu udah punya cewek belum?” Goda Raina pada Abi melalui Nisa.
“Kalo diliat-liat kayaknya udah deh kak.”
“Ngaco kalo ngomong.” Handuk basah mendarat sempurna di kepala Nisa membuat Abi tergelak.
“Kakak….” Teriak Nisa kesal, ia lalu melemparkan handuk pada pemiliknya yang langsung tertangkap oleh Abi.
“Aku mau fokus sekolah sama kerja kak, Nanti baru deh nyari cewek.”
“Ya.. terserah kamu, kalo udah juga gak pa-pa ya Nis? Asal jangan pernah menyakitinya!.”
“Iya kakakku.” Ucap Abi berlalu ke kamarnya.
“Kamu mau kemana?” Tanya Raina melihat Abi sudah membawa tas.
“Mau kerja kak. Kakak mau ikut?”
“Emhh.. bisa anter kakak? Tapi gak deh kakak mau pulang dulu soalnya.” Jawab Raina membuat Abi tersenyum.
“Gak pa-pa kak, yuk aku anter kakak kemana pun kakak mau asal jangan yang jauh-jauh.” Jawabnya dengan terkekeh.
Anisa