RAINA

RAINA
Chapter 82



Baru saja Arga akan mengakhiri panggilann telefonnya, terdengar suara dari sebrang sana menyahut hingga membuat senyumnya pudar, binar kerinduan dari matanya tiba-tiba surut.


"Hallo.. how are you?” Tanya seorang lelaki karena Arga masih saja terpaku dengan apa yang ia dengar.


Dhafin menatap Arga dengan kedua alis yang berkerut dalam, Arga meng aktifkan speaker panggilannya supaya Dhafin bisa mendengar juga.


Samar-samar ia mendengar suara Raina dari sebrang sana.


“Who?” Arga tersenyum mendengar suara Raina yang pelan seperti berbisik dengan dada yang bergemuruh entah karena apa.


“I don't know, he not talking”


“Where do i see, this is the number indonesia”


Raina berdehem sejenak.


"Hallo,who are you?”


“Sorry, if not talk too i am lid.” Ancamnya.


“Rain..” Suara Arga terdengar parau dengan penuh rasa rindu dan juga cemburu yang menjadi satu.


“…” Hening, sama-sama terdiam.


“Who is that honey?”


“I don't know.” Ucap Raina.


Panggilan langsung terputus karena Raina menutupnya sepihak tanpa menunggu Arga bertanya kabar atau apapun.


Arga meremas ponselnya, berbagai pertanyaan ada di benaknya. Siapa lelaki tadi? Sedang apa mereka saat ini? Kenapa mereka terlihat bahagia? Apakah Raina sudah mendapatkan penggantinya?.


Diamnya Arga menandakan ia sedang kecewa, kecewa karena ia terlambat untuk menjelaskan semuanya pada Raina.


Dhafin menepuk bahu Arga. “Gue gak tahu itu siapa, yang jelas itu bukan suara Raka, sebaiknya lo segera susul Raina sebelum benar-benar terlambat!”


Arga menghela nafas berat dengan tubuh lemas yang bersandar di sofa, matanya di tutup dengan sebelah tangan.


“Gue ke atas duluan.” Ujar Dhafin membawa piring dan mangkuk bekas ke dapur tanpa mencucinya.


Sedangkan Arga masih setia dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi benak dan pikirannya.


***


Di tempat Raina.


“Darrel kau ini..” Kesal Raina melihat sampah dari bungkusan snak sedangkan ia sedang asik dengan game di ponselnya.


“jangan nyampah di sini, cepat pergi sana!!”


“Aku di suruh untuk menjagamu sebelum Raka ada.”


“Aku bisa jaga diri sendiri.”


“Okey aku akan pergi tapi nanti.” Darrel masih fokus dengan ponselnya.


“Cepat awas sana, capek aku beresinnya.” Kesal Raina.


“iya sayang, nanti jika Raka datang oke.”


Raina membawa gelas kosong bekas kopi Darrel, ia mencucinya dan ponsel yang berada di meja dekat televisi berdering.


“Rel bisa kamu angkat hape ku?”


“Okey honey..” Ucap Darrel.


“Honey, honey emang aku madu apa..” Gerutu Raina, semenjak ketahuan karena menyebarkan nomor dirinya semakin tersiksa, karena Darrel dengan terang-terangan menyebut jika ia menjalin hubungan dengan Raina.


“Entah, dia tak bicara.” Ucap Darrel membantu Raina.


“Mana liat, ini nomor indonesia.” Ucap Raina setelah ia menerima ponselnya.


“Hallo, siapa ini?” Raina berharap ini adalah nomor Sandi. Karena semenjak ia memutuskan untuk pergi ia lupa pamitan pada Sandi dan Sania.


“Jika tak ingin bicara maka saya tutup.” Ancam Raina karena tak mendengar sahutan dari sebrang sana, ia pikir ini adalah orang jahil yang sering meng-atas namakan salah sambung.


“Rain…” Satu kata membuat Raina terapku, ia tahu siapa pemilik suara tersebut, Raina memegang dada bagian kirinya tepat dengan jantungnya yang berdebar kencang ketika ia mendengar suara Arga.


Hening, tak ada lagi suara Arga memanggil namanya.


“Siapa itu sayang?” Tanya Darrel mencipratkan air dari tangannya karena Raina hanya diam saja.


“Aku tak tahu.” Refleks Raina berkata seperti itu dan memutuskan panggilan Arga.


“Sedang apa kalian?” Tanya Raka menghampiri Raina dan Darrel di dapur.


“Kau lihat? Aku habis membantu adik kesayanganmu mencuci gelas kotor.”


“Segitu saja bangga.” Ucao Raina berlalu.


“Sayang, aku minta upah dari mencuci gelasnya.” Teriak Darrel dengan gelak tawanya karena Raina menunjukan wajah sinisnya.


“Berhenti menggoda adikku.” Ucap Raka menyusul Darrel yang duduk di sofa.


“Aku tak pernah menggodanya, aku benar-benar menyukainya.” Perkataan nya membiat Raina menghentikan langkah dan membaklikan badannya menatap tajam Darrel.


“Jadi benar berita di kampus jika kalian..” Tutur Raka menunjuk Darrel dan Raina bergantian.


“Tidak”


“Iya”


Jawaban yang berbeda namun bersamaan membuat Raka tersenyum, ia tahu jika adiknya sudah putus dengan pacarnya tapi ia tak menyangka jika Raina akan cepat move on.


“Berhenti tersenyum seperti itu, kami tidak pacaran.” Tegas Raina.


“Sudahlah sayang, aku tahu jika kamu itu single, dan lihat kakakmu saja sudah setuju.”


“Setuju apa? Kakak aku gak mau ya kakak percaya orang lain dari pada aku.” Ucap Raina dengan mata berkaca-kaca.


“Aku pacarmu bukan orang lain.” Goda Darrel tanpa melihat kedua mata Raina yang hampir mengeluarkan sebagian dari telaga beningnya.


“Ckkk.. Udah kakak percaya padamu.” Ucap Raka memeluk adiknya.


“Hey Rain, aku hanya bercanda.” Ucapnya merasa bersalah melihat Raina menangis di pelukan Raka.


“Aku gak suka.”


.


.


.


.


.


Terima kasih yang udah bersedia membaca karyaku yang ya.. begitulah, di banding dengan karya author lainnya yang lebih-lebih uwooww di bandingkan author seperti diriku yang hanya amatiran.😁


jempol, rate apalagi vote dari kalian semua membuatku semangat untuk menghalu..


Terima kasih dukungannya😊