
Setelah menyelesaikan ujian nasional dan ujian praktek semua siswa kelas 12 bersantai dalam kelas, tinggal menunggu hari kelulusan tiba kini Arga dan Raina sedang duduk berkumpul dengan sahabat mereka. Semenjak Raina dan Arga bersama Sandi pun sering ikut bergabung dengan mereka.
“Gak sabar gue, pengen buru-buru besok.” Celetuk Rico membawa 2 kantung kresek berisi minuman dari kantin.
“Deg-degan gue.” Ujar Rizki dengan gayanya memegang dada yang terlihat lebay.
Esok adalah hari kelulusan, dimana semua murid SMA menunggu hari tersebut untuk melepas masa remaja mereka.
“Najis lebay lo kayak cewek.” Celetuk Rico menoyor kepala Rizki dengan soft drink yang ia pegang.
“Yaelah bro emang bener gue deg-degan tau, nihh coba lo rasaain debaran jantung gue.” Rizki menarik tangan Rico.
“Apaan sih lo.” Perilaku mereka membuat gelak tawa semuanya namun tidak dengan Cintya yang terus saja menatap Arga di depannya.
“Oh iya, kalo kalian lulus mau ngelanjutin dimana nih?” Tanya Sandi serius.
“Gue nyari yang deket aja ah, lagian di jakarta juga banyak universitas bagus.” Ujar rico sembari senyum-senyum.
“Palingan juga lo ngintilin cewek lo.” Celetuk Arga.
“Gue suka gaya lo, kalo nebak suka bener.” Rico memberikan 2 jempolnya.
“Sangat bisa di tebak Ko, otak lo kan cuman cewek.” Kini Cintya menimpali.
“Ya iyalah Sin, dia tanpa cewek bisa kiamat” Celetuk Rizki tergelak.
“Emang nya elo yang cuma naksir ama satu cewek.” Timpal Rico tak terima.
“Ini tanda gue setia bro..” Seru Rizki menepuk dadanya.
“Kalo lo Sin mau lanjut dimana?” Tanya Rizki karena melihat Cintya yang terus memperhatikan Arga yang terus mengganggu Raina memainkan ponselnya.
“Gue stay di kota ini, emangnya mau kemana lagi ki?”
“Ya kali aja lo juga ikut-ikutan si Rico ngintilin cowok.”
“Kalo lo Ga gimana?” Tanya Cintya.
Arga menoleh.“Lo nanya gue? Bukan nya kita udah sepakat bakal bareng terus?”
“Ahh iya ya, kok gue lupa.” Ujar Rico.
“Gue udah daftarin kalian di universitas yang sama bareng gue.”
“Gila lo, kok gak bilang kita dulu.” Seru Rico dengan keterkejutannya.
“Lo tenang aja, universitas yang sama ama cewek lo.”
“The best lo brother.” Rico tersenyum lebar dan lagi-lagi ia memberikan 2 jempolnya.
“Lo sendiri San mau lanjut dimana?”
“Aku mau ke jogja.”
“Oh iya Rain, pendaftaran lo ke Universitas di prancis gimana? Udah beres?” Tanya Sandi membuat Arga, Rico dan Rizki terdiam.
“Udah. Tinggal nunggu beres di sini langsung pergi ke sana.”
“Prancis.” Gumam Arga.
“HAAH??” Arga begitu terkejut hingga ia langsung berdiri.
“Kok kamu gak bilang sama aku mau ke prancis?” Kini Arga merajuk.
“Raina gue pacar lo.” Tegas Arga.
“Emm Rain pasti lo lupa ngasih tau kan?”
Melihat perdebatan Antara pasangan tersebut Rizki mencoba menengahi.
“Gue gak lupa, emang gue gak mau ngasih tau aja.”
“Raina.” Arga mencengkram tangan Raina dan menariknya hingga Raina berdiri.
Di perlakukan kasar tentu Raina meringis, hatinya merasa berdebar ketika melihat manik mata Arga yang tajam menyorotinya, jujur ia takut namun ia mencoba tenang untuk menunjukan pada Arga dan semuanya jika Raina bukan cewek lemah yang mudah di taklukan.
“Sakit Ga.” Raina meringis ketika Arga mencengkram tangannya dengan kuat.
“Lepasin Ga, kamu buat Raina kesakitan.” Ujar Sandi memegang lengan Arga.
“Jelasin ke gue kenapa lo gak ngasih tau gue.” Geram Arga melonggarkan cengkraman tangannya namun tak melepaskannya.
“Gue rasa gak penting.” Lagi-lagi Raina menjawab dengan nada angkuh seolah ia tak takut dengan kemarahan Arga.
“Menurut lo gak penting Rain, tapi itu penting buat gue.!!” Bentak Arga membuat Rico maju untuk melerai perdebatan antara mereka.
“Udah deh Ga gak perlu main bentak, liat semua orang ngeliatin kita.” Rico mencoba menarik Arga karena ia tahu sifat temannya jika sudah marah.
“Diem lo, ini urusan gue.” Bentak Arga tanpa melepas tatapan tajamnya dari Raina.
“Apa pentingnya buat lo??” Tanya Raina dengan mata memerah menahan amarah dan juga rasa sakit di hatinya.
“Gue pacar lo Raina, apa lo lupa?” Geram Arga.
Senyum sinis di berikan pada Arga. “Gue gak lupa,bahkan gue masih ingat perkataan dia jika gue adalah bahan taruhan lo.” kini tatapannya ia arahkan pada Cintya, rasanya Raina enggan menyebut namanya.
“Lo hanya ingin naklukin gue kan? Karena gue beda sama cewek lain yang selalu ngejar-ngejar lo.” Raina menghempaskan tanganya ketika ia merasa cekalan Arga melonggar.
“Emm Rain, sepertinya ada kesalah pahaman di sini. Arga itu….”
“Gue denger dan gue lihat sendiri gimana Arga mengakuinya waktu itu, Lo gak lupa kan?” Seru Raina memotong perkataan Rizki, ia menyeringai pada Arga dan Cintya.
“Rain..” Sandi mengikuti langkah Raina yang pergi begitu saja.
Langkahnya terhenti, ia membalikan badannya “Lo gak usah nunggu dia bosen ama gue, mulai sekarang dia bebas untuk lo ataupun cewek lainnya.”
“Dan untuk lo Arga Satya Pratama, thanks buat waktu yang udah lo sia-sia'in buat gue selama ini.”
Raina melangkahkan kakinya mantap, ia sama sekali tak menoleh ke arah belakang ketika Sandi terus saja memanggilnya.
Tubuh Arga terpaku bukan karena ia merasa terhina namun karena ia merasakan sakit yang luar biasa sama seperti ia di tinggal oleh ibunya. Apa ini karma untuknya karena selalu mempermainkan cewek? Ya mungkin ini karma.
“Lo gak mau ngejar dia?” Rico menepuk pundak sahabatnya dan di jawab gelengan kepala oleh Arga.
“Rain kamu kenapa pergi? Si Arga belum juga ngasih penjelasan.” Tutur Sandi mensejajarkan tubuhnya dengan Raina.
“Gak ada yang perlu di jelasin San. Yang perlu di jelasin sekarang tuh gue udah kelar ama dia.” Tegas Raina.
Perdebatan Raina dan Arga langsung tersebar begitu cepat, membuat Anya merekahkan bibirnya ketika Bella teman baiknya menyampaikan berita tersebut. Ini adalah kesempatan yang bagus untuk mendekati Arga lagi.
Jangan lupa dukungannya kakak Readers.
Jika suka like, komen, vote dan rate ya😁