RAINA

RAINA
Chapter 24



"Udah??"


Semua yang duduk dengan Raina mendongakan wajahnya, namun pandangan Raina tertuju pada Sandi, yang di tatap tampak gugup karena sekarang Arga dan sahabatnya menatap ke arahnya.


"U-Uuudahh" Ujar Sandi gugup karena di tatap tajam oleh Arga dan juga Rico.


"Yuk." Raina bangkit dari duduknya menghampiri Sandi dan ia menggandeng tangan Sandi.


"Rain aku gak enak." Ucap Sandi terlihat gemetar saat ia menoleh kebelakang


"Kenapa?"


"Arga dan Rico masih menatap ke arah kita."


Raina menoleh ke belakang dan benar saja Arga masih menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan, namun lagi-lagi Raina acuhkan.


Arga dan sahabatnya hanya melongo melihat Raina menggandeng tangan Sandi. Dan Rizki berusaha menahan tawanya karena melihat Rico dan Arga yang hanya diam saja, Arga yang sadar menendang kaki Rizki hingga mengaduh kesakitan.


"Ki menurut lo gue sama si Sandi cakepan sapa sih?" Tanya Rico tanpa mengalihkan pandangannya pada punggung Raina dan Sandi.


"Lo tanya ama gue, tuh tanya Cintya, dia kan cewek pasti tau mana yang cakep dan enggaknya."


"Gimana menurut lo Cin?"


"Ya cakepan Arga kemana-mana lah."


"Tuh ki, di mata dia mah cuma ada Arga doang."


"Hm." Rizki hanya minum air mineralnya.


Arga bangkit dan berlari menyusul Raina.


"Lo nantangin gue?" Tanya Arga menghadang jalan Raina dan Sandi.


Sandi hanya mematung sedangkan Raina hanya mengerutkan keningnya, apa dia punya salah? pikirnya.


Raina menyilangkan tanganya di dada, ia melihat ke arah Arga, mencoba membaca mata Arga yang menatapnya dengan tajam.


"Lo belum tahu siapa gue?"


Lagi-lagi Raina hanya mengerutkan dahinya, ia sungguh tak mengerti dengan laki-laki yang berdiri di hadapannya kini, siapa pun akan tahu siapa Arga lalu kenapa ia bertanya.


"Arga." Cintya datang bersama Rizki dan Rico.


Raina merasa jengah dan ia tak menghiraukan Arga, ia hendak berjalan namun tangannya di cekal oleh Arga.


"Aaawww." Rintih Raina karena kesakitan tangannya di tarik oleh Arga.


Raina mencoba berontak berusaha melepaskan tangan Arga namun ia tak bisa karena Arga menggenggamnya dengan sangat erat. Raina hanya merintih kesakitan dan pasrah Arga membawanya.


"Lepasin!!." Teriak Raina saat Arga membawanya ke atas roof top.


Arga melepaskan tangan Raina dan ia mendorong tubuh Raina ke dinding, Raina mengusap tangannya yang sakit, hampir saja air matanya lolos, sungguh baru pertama kalinya ia di perlakukan seperti ini.


"Minggir!!." Raina menatap Arga, ia mengakat dagunya seolah ia tak takut dengan Arga.


Arga hanya menarik kedua sudut bibirnya nyaris tak terlihat, sungguh menarik baru kali ini ada perempuan yang tak sedikitpun tertarik padanya.


Arga mengungkung tubuh Raina saat Raina akan pergi meninghalkannya, ia merapatkan tubuhnya nyaris menempel, Raina menunduk dan menahan tubuh Arga dengan kedua telapak tangannya.


"Kenapa, Lo takut?" Tanya Arga berbisik di telinga Raina.


Raina mengangkat wajahnya hingga hidung mancungnya bersentuhan dengan hidung Arga, ia mencoba mengendalikan debaran jantungnya yang terus saja berpacu karena nafas Arga terasa di kulit wajahnya kini.


"Takut? kenapa gue meski takut?" Tanya Raina balik seolah ia tak merasakan takut sama sekali.


Astaga sumpah gue sesak nafas, seseorang tolong gue. Batin Raina menatap mata Arga yang terus saja bergerak memperhatikan wajahnya.


Arga memiringkan wajahnya membuat Raina menutup matanya dalam dan ia mendorong dengan kuat tubuh Arga, harum mint dari mulut Arga tercium dengan jelas oleh Raina, tangannya bergetar hebat, Arga hanya menarik salah satu sudut bibirnya seolah ia mengejek Raina yang kini terlihat jelas ketakutan.


"Jangan pernah acuhkan gue." Ucap Arga dengan dingin, bibirnya nyaris menyentuh bibir Raina.