RAINA

RAINA
Chapter 103



Wajah Raina tiba-tiba memanas, satu tangannya menangkup pipi bekas kecupan Arga, dengan cepat ia berjalan kedalam rumah tanpa menyapa yang sedang duduk santai di ruang keluarga.


“Rain..” Tegur Adrian yang sedang menikmati cemilan malam sambil menonton televisi.


“Ahh iya Pa, maaf..” Jawab Raina masih memegang sebelah pipinya.


“Kenapa wajah kamu?” Tanya Abiela khawatir melihat wajah Raina begitu merah seperti kepiting rebus, takut sesuatu hal terjadi pada adik iparnya.


“Tak kenapa-napa, hanya kedinginan kayaknya.” Jawabnya sambil mengusap-usap kedua pipinya.


“Kedinginan?? Tapi kenapa wajahnya merah kayak yang demam?” Gumam Abiela menyesap teh chamomile kesukaannya.


Kedua mata Abiela menatap kearah Raina yang kembali memutar badannya Saat ia sampai di pijakan teratas, Raina kembali dan ia berdiri di tengah-tengah anak tangga.


“Kak.. mobil gue mogok kehabisan bensin, tolong lo hubungi tukang derek buat ambil mobilnya ya..!!”


“Kenapa lo gak hubungin sendiri?” Tanya balik Raka yang duduk disamping Abiela.


“Hape gue mati.” Jawab Raina berlari menuju kamarnya.


“Terus lo balik ama siapa tadi?” Teriak Raka yang mendengar pintu kamar Raina telah tertutup rapat.


Meskipun dirinya sudah menjadi ayah tetap saja sikapnya pada Raina tak pernah berubah, mereka masih tetap seperti tom and jerry jika sedang tak banyak pekerjaan, bahkan Raka suka mengajak Aksa untuk mengusili tantenya hingga Raina cemberut berhari-hari. Hal itulah yang membuatnya tak bisa jauh dari gadis kecilnya.


Jika tak ada Aksa maka mereka bebas untuk memanggil seperti biasanya tanpa ada embel-embel aunty, rasanya ada yang aneh jika kata lo-gue tak terlontar dari mulut mereka berdua. Raka akan merasa canggung jika Raina bersikap seperti gadis bijak dan dewasa. Bukan Raka tak menyukai sikap Raina yang sudah dewasa, ia hanya merasa ada yang berbeda dihatinya, masih tak terbiasa dengan Raina yang bersikap bijak seperti Abiela, ia selalu suka dengan Raina yang seperti dulu, gadis kecil yang suka merepotkannya dan kadang membuatnya kesal.


Didalam kamar Raina menatap dirinya di pantulan cermin, tangan kirinya tak lepas memegang pipi bekas kecupan Arga. Tanpa ia sadari Kedua sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman manis.


Bayang-bayang masa lalu bersama Arga kembali berputar dalam memorinya, hingga bayangan Arga dan Jasmine mengganggu kesenangannya.


“Kenapa lo begini Rain?? Lo kan udah move on?” Gumam Raina mengusap kasar wajahnya, ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Dua puluh lima menit sudah Raina masih didalam kamar mandi, berendam air hangat dengan menghirup aroma mawar dari sabunnya, gelembung sabun yang berwarna putih menutupi seluruh tubuhnya. Setelah dirasa airnya dingin ia pun beranjak dan membersihkan sisa sabun ditubuhnya dibawah guyuran air shower.


Kedua tangannya mengambil piama tidur berwarna ungu, dipakainya piama tersebut lalu duduk di meja rias untuk memakai skin care malam.


Tokk..Tokk..Tokk..


Pintu terketuk dari luar, Raina melihat jam yang menunjukan sudah hampir tengah malam.


“Rain.. are you okay?” Abiela memanggilnya dari luar.


Raina berjalan menghampiri pintu dan dibukanya, terlihat Abiela membawa segelas susu hangat, tangannya yang kosong ia letakan dikening Raina.


“Tak panas.” Ucapnya terus menempelkan tangan dikening.


“Apa sih Biel?” Raina menepis lembut tangan Abiela.


“Aku kira kamu demam, tapi ternyata tidak.”


“Aku baik-baik aja, ini susu buat aku kan?” Raina mengambil gelas dari tangan Abiela.


Abiela mengangguk “Ya udah kamu istirahat.” perintah Abiela berlalu.


***


“Kamu yakin Rain gak mau ikut sama kami?” Tanya Adrian ikut duduk di kursi bersama anak gadisnya.


“Ngemil mulu.” Raka datang bersama Aksa dalam gendogannya. Raina acuh dengan Raka yang terus mengomentarinya, ia tetap fokus menonton serial tv kesukaanya.


“Onty gak ikut?” Tanya Aksa pada Raina.


“Enggak sayang, onty mau bobok aja.”


“Pah.. Aksa juga mau bobok aja sama onty.” Ucap Aksa memohon pada Raka.


“Ya udah, tapi jangan ribut sama onty ya.” Raka menurunkan Aksa dari gendongannya, anak itu segera melepaskan sepatu dan jas yang di pakainya, ia segera merebahkan tubuhnya di sofa yang sama dengan Raina. Raina tersenyum melihat keponakannya yang asyik dengan game ditangannya. Pantas saja ia tak ingin ikut ternyata ia menginginkan pegang ponsel sepuasnya.


[Rain bisa ke cafe biasa, Jasmine ultah hari ini.]


[Kamu di undang juga, sorry aku lupa kemarin ngasih undangannya.] ~Cintya.


Raina bingung saat mendapat chat dari Cintya, bagaimana Jasmine bisa mengundangnya? Padahal ia baru kenal akhir-akhir ini.


[Rain kamu di undang sama Jasmine? Aku lagi di jalan nih.] ~Sania.


Jadi bukan hanya dia yang mendapat undangan dari Jasmine, melainkan Sania pun mendapatkannya. Mungkin karena kita bersahabat dengan Arga makanya ia pun mengundang kami. Pikir Raina.


Raina bingung, jika ia tak datang Sania akan sendiri disana, bagaimana pun Sania tak begitu dekat dengan Cintya tapi jika ia datang, bagaimana dengan Aksa? Masa ia harus membawanya?


Tak ada pilihan lain selain ia membawanya, atau bisa saja ia mengantarkan Aksa terlebih dahulu pada Raka. Tak butuh waktu lama, Raina sudah bersiap dan berganti pakaian, bahkan Aksa sudah ia dandani sekeren mungkin.


Raina mengendarai mobilnya menuju tempat yang akan ia datangi, ia memasuki komplek perumahan elite, rumah-rumah megah begitu terlihat saat ia memasuki kawasan tersebut.


Raina memberhentikan mobilnya, dan mencoba masuk namun ternyata ia di halangi oleh petugas yang berjaga di depan, ia tak bisa masuk karena ia tak mempunyai undangannya.


“Arga.. Jasmine..” Lirih Raina saat ia tanpa sengaja melihat mereka keluar dari taman samping rumah, Arga berdiri mematung saat Jasmine memeluknya dari belakang. Kenapa mereka bisa disini? Bukan kah Jasmine mengundangnya untuk ke cafe?


“Non Jasmine emang cocok banget yah sama den Arga.”


“Iya, tapi kelihatannya mereka kayak lagi berantem.”


“Namanya juga mau nikah ya pasti mereka sering berantem, kayak belum pengalaman aja kau.”


Mendengar percakapan 2 petugas itu membuat Raina terdiam, tanpa sadar ponsel yang ia pegang terjatuh.


“Kenapa non?” Tanya satpam itu membantu Raina memungut ponselnya.


“Ahh.. tidak apa-apa, pak maaf bisa panggilkan seseorang dari dalam? Namanya Raka Adriana atau Abiela dari keluarga Adrian. Tolong sampaikan anaknya ingin pada mereka segera.”


“Baik non, mohon tunggu sebentar.” Petugas itu pergi kedalam.


Raina dan Aksa hanya diam di depan gerbang memunggu Raka untuk keluar, Arga yang melihat Raka keluar dari dalam rumah Jasmine segera melepaskan pelukan Jasmine. Dan ia melihat Raka menuju Raina, tatapan mereka pun terpaut.


“Rain..” Arga berjalan menuju Raina namun lagi-lagi di tahan oleh Jasmine.


“Bentar lagi kita tunangan Arga.”


Sontak perkataan Jasmine yang keras membuat Raka menoleh ke arah mereka.


“Kak, aku ada perlu jadi aku anterin Aksa ke sini.” Raina pergi begitu saja setelah menyerahkan Aksa pada Raka.