
Banyak sekali yang Ingin Raina tanyakan perihal keluarga Arga pada Dhafin, rasa penasarannya begitu menyeruak.
“Emh.. kak.” Ucap Raina memecah keheningan antara mereka.
“Ya, kenapa?” Tanya Dhafin melirik sekilas pada Raina.
“Kau dan Arga tak terlihat dekat, kenapa kau meninggalkannya? padahal ia tak membawa kendaran..”
“Arga pasti ingin menyendiri, lagian juga nanti sahabatnya pasti menyusul.” Ujar Dhafin datar tanpa menoleh.
Jawaban Dhafin tak membuatnya puas, ia kembali terdiam dengan pandangan lurus melihat jalan yang begitu padat dengan kendaraan. setelah sampai depan gerbang rumahnya Raina turun dan berterima kasih karena telah di antarkan pulang. Raina masuk ke dalam rumah setelah mobil Dhafin melaju jauh.
Sesampainya di kamar, matanya tertuju pada buket bunga dan sekotak coklat. Tangannya menyentuh bunga yang sudah tak segar dan mengambil kartu ucapan serta surat kelulusan Arga.
***
Tangan Raina begitu lihai mengiris berbagai macam sayuran, untuk menu makan malam Kali ini ia akan memasak tom yum seafood dan juga capcay. Mbak Ana hanya menyaksikan Nona nya karena tiap ia akan membantu Raina langsung menyuruhnya untuk diam.
“Non tumben mau belajar masak, biasanya juga kan pesen atau masak mie instan.”
“Lagi pengen bi, abis aku di ledek ama cowok gara-gara gak tau cara masak sama bikin kue.” Ucap Raina tersenyum mengingat Arga yang terus saja mengejeknya karena ketahuan tak bisa masak.
“Aku mau kasih hadiah buat temen karena dia udah lulus dengan nilai hampir sempurna.” Ujarnya kembali.
“Pasti buat den Arga ya non?” Tebak Mbak Ana.
“Ihh kata siapa?” Raina ngeles.
“Ya kata mbak lah non.” Mbak Ana terkekeh melihat wajah anak majikannya bersemu merah.
“Udah nih bantuin aduk, aku mau bikin tom yum nya.” Raina beralih tempat untuk memasak tom yum.
“Udah Enak?” Tanya Raina saat mbak Ana akan mematikan kompornya.
“Wuueenak non, baru belajar masak 3 hari tapi udah enak. Suami non nanti pasti bakalan bangga.”
“Bangga kenapa?”
“Karena bisa masak, meski kadang lelaki bilang gak papa gak bisa masak juga tapi tetep aja non kalo udah nikah pasti pengen tuh nyobain pasakan istrinya.”
“Oh gitu, ihh kok ngomongin suami sihh?.. aku gak mau cepet nikah ya..”
“Emang siapa yang bilang non mau cepet nikah?” Tanya mbak Ana keheranan. Wajah yang tadinya terheran-heran berganti seringai jahil ketika melihat sang majikan yang salting.
“Mbak apaan sih?? Siapa juga yang mikirin nikah, aku mau kerja dulu.”
“Enakan nikah non.”
“Kalau enak kenapa mbak Ana dan mang Udin belum nikah juga?”
“ihh si enon kok bawa-bawa mang Udin sih??” Ucap mbak Ana memberengut.
Tawa Raina menggelegar karena ia berhasil membuat ART nya salting, Raina segera memasak tom yum nya setelah selesai ia segera pergi meninggalkan dapur.
"Kata si mbak kamu yang masak ya?" Tanya Adrian menyantap masakan buatan Raina.
"Enak pa?" Tanya Raina duduk di kursi meja dan menopang dagu dengan kedua tangannya.
"Enak banget masakan buatan anak papa yang paling cantik, itu kotak makan buat siapa?"
"Buat temen, pa Raina mau ke rumah temen bentar paling pulang jam 8.an." Ijin Raina.
"Iya, kamu hati-hati bawa mobilnya."
"Siip papa. aku berangkat ya keburu malem." Pamit Raina mencium pipi sang ayah.
***
Raina menyimpan paperbagnya di depan pintu apartemen Arga, namun berulang kali ia menekan bel Arga tak juga keluar. Raina segera menekan password untuk masuk dan setelah terbuka rumahnya masih sepi tak ada jejak orang yang sudah masuk ke sini. Raina segera ke rumah Rizki dan ternyata Arga juga tak ada di sana.
Di rumah Rizki ia menghubungi Rico dan Cintya, dan jawaban dari mereka sama Arga tak bersamanya.
“Apa dia masih di pemakaman?” Tanya Raina.
“Ini sudah jam 8 malam, dari sore hujan masa dia tak pulang? Pulang ke rumah papanya kali.”
"Ya udah lo hubungi Dhafin!" Titah Raina.
Rizki segera menghubungi Dhafin dan jawabannya mengecewakan meembuat Raina merasa panik. Jika saja ia tak meningglkan Arga mungkin sekarang ia sudah pulang bersamanya.
Jangan lupa dukungannya...
jika suka like, komen, vote dan rate ya😁