
Tak terasa waktupun berlalu begitu cepat, kini Raina sedang bersiap untuk pergi bersama Arga, karena hari ini ia akan menemani untuk mengambil hasil tes DNA.
Ponselnya bergetar ketika ia sedang mengaplikasikan lip balm ke bibirnya, ia segera menyimpan lip balm nya dan mengambil benda yang dari tadi terus saja bergetar minta untuk di angkat.
“Aku udah di depan” Kata seseorang di sebrang sana.
“Iya aku tahu, tadi mbak Ana udah bilang. Tunggu aku bentar lagi.” Ujar Raina sembari menuruni anak tangga.
“Ya udah.” Panggilan pun terputus Raina segera menyimpan ponselnya ke dalam tas dan memakai sepatunya sebelum keluar dari rumahnya menuju sang kekasih yang sedang menunggu kehadirannya.
Arga tersenyum melihat Raina berjalan menghampirinya dengan terus saja mengulas senyum padanya.
“Yuk.” Ajak Raina ketika sampai di depan Arga. Helm di tangan Arga segera ia ambil dan pakai sebelum ia naik ke atas motor.
Tujuan mereka kali ini adalah ke rumah sakit dan ke rumah papa nya, ia ingin membuktikan pada semuanya jika yang di katakan Sindy adalah bohong.
***
Arga dan Raina memasuki rumah Bagaskara, terlihat di sana sudah ada Sindy yang terus saja menundukan wajahnya bersama Manda di sampingnya. Dhafin duduk di kursi tunggal sedangkan bagaskara dan Yulisa duduk bersama di kursi panjang.
“Mana hasilnya?” Tanya Bagaskara tanpa basa basi.
“Aku belum membukanya, silahkan anda buka sendiri.” Bagas mengambil amplop putih dari tangan Arga, ia melihatnya sejenak lalu membukanya.
Wajah Bagas terlihat datar tanpa ekspresi membuat Raina dan Arga penasaran dengan hasilnya. Sindy yang dari tadi menunduk segra mendongakan wajahnya melihat selembar kertas yang di pegang oleh Bagas.
“Gimana mas?” Tanya Yulisa melihat Bagas diam saja.
Bagas menyimpan kertas tersebut di meja, dan Yulisa segera memeriksanya, hasilnya mengejutkan hingga kertas tersebut jatuh dari tangannya. Dhafin bangkit dan memungutnya.
Arga yang cemas segera merebut kertas tersebut dari tangan Dhafin, tangannya bergetar melihat hasil yang tak pernah ia harapkan. Raina terpaku melihat wajah Arga yang berubah tegang, tak mungkin jika hasilnya benar bukan? Melihat Yulisa yang menangis Raina menjadi takut sendiri. Ia ingin melihat hasilnya tapi kenapa ia menjadi takut begini? Padahal waktu ia mengambilnya tak merasakan takut sama sekali.
“Honey…” Lirih Arga menatap Raina.
Raina mendekati Arga, mengambil kertas dari tangannya.
“Honey…”
“Diam bee..” Ucap Raina mengacungkan jari telunjuk.
DEG.
Hasilnya Positif, anak yang di kandung Sindy jelas anak Arga. Kini ia menatap marah pada lelaki di sebelahnya.
“Rain, aku yakin itu palsu.” kilah Arga.
“Ini udah jelas Ga, kita yang mengambilnya sendiri.” Ucap Raina melempar kertas di tangannya ke wajah Arga.
“Rain, kamu jangan pergi.” Arga mencekal tangan Raina.
“Arga…” Lirih Raina hendak menunpahkan bulir bening.
“aku bingung harus ngomong apa sama kamu. Aku bingung harus percaya kamu atau hasil itu? Aku mohon kamu jujur!!.” Satu bulir bening berhasil lolos dari tempatnya.
“Tapi Rain aku bener-bener…”
“Semua udah jelas, kamu harus menikah dengan Sindy. Kamu bisa ngelanjutin kuliah kamu meski udah nikah Arga.” Sahut Bagas memotong pembicaraan Arga dan Raina.
“Hari ini kisah Kita berakhir.” Raina melepaskan cekalan tangan Arga dan berlari meninggalkan kediaman Bagaskara, Arga tak bisa berkata apa-apa lagi bahkan ia tak bisa mengejar Raina karena di tahan oleh Dhafin.
“Aku yang akan mengejarnya.”
Sindy yang melihat itu hanya tersenyum tipis, sedangkan Manda di sampingnya terus saja mengucap syukur.
***
“Rain..” Teriak Rico dan Dhafin bersamaan.
Rico menghentikan motornya ketika Dhafin meghadang langkah Raina.
“Aku anter kamu pulang.” Ujar Dhafin menarik tangan Raina.
Tubuh Raina terdiam karena di tarik juga oleh Rico.
“Dia bisa pulang bareng gue kak.” Ujar Rico menarik tangan Raina.
“Enggak, dia harus pulang bareng aku.” Dhafin balik menarik Raina.
“Aku balik sendiri.” Ucap Raina menepis tangan Rico dan Dhafin bersamaan.
“Tapi Rain…”
“Aku bilang mau sendiri.” Perkataan Rico dan Dhafin terhenti mendengar Raina bicara dengan nada tinggi.
Raina melambaikan tangan ketika ada Taxi lewat, ia segera masuk meninggalkan mereka berdua.
Rico langsung naik ke atas motornya dan mengikuti Raina. Sepanjang jalan Ponselnya berdering hingga ia pun harus menepikan motornya dahulu tanpa melepaskan tatapannya pada Taxi yang di naiki Raina.
“Gue lagi ngikutin si Rain nih, nanti gue telfon lagi.” Rico langsung mematikan ponselnya dan menarik gas motornya mengejar taxi tadi.
Motornya terhenti ketika ia melihat Taxi tadi berhenti di daerah taman, taman yang selalu mereka datangi untuk bertemu dengan Abi dan Nisa. Matanya mengedar dan ia melihat Raina sedang bersama Abi dan Nisa.
"Gimana Ga?" Terdengar Arga begitu cemas.
"Tenang aja, dia lagi sama Abi dan Nisa. Gue balik aja ya, takut dia marah."
"Iya Ko, thanks"
"Calm bro, kayak ama siapa aja lo." Ucap Rico memyimpan kembali ponselnya ke saku jaket setelah menghubungi Arga.
Rico langsung pergi sebelum Raina menyadari jika ia di ikuti. Sedangkan Arga sudah tak bisa banyak bicara dengan hasil tes di tangannya. Sindy sudah pulang bersama Manda tinggalah dia bersama Yulisa. Dhafin dan Bagas pergi mneinggalkannya. Ia tak akan mengejar Raina karena ia tahu jika Raina harus sendiri dulu. Besok atau malam ia akan menemuinya.
Happy Reading
Jangan lupa dukungannya😁