
Setelah mendapatkan kursinya Arga segera duduk dan memesan makanan serta minum pada pramugari karena ia tak sempat sarapan di hotel tempat ia menginap.
Makanan pun datang, Arga menyantapnya dengan santai sembari memainkan ponselnya. Seorang wanita seumuran dengannya datang dan mendudukan tubuhnya di kursi samping Arga duduk, wanita itu terus saja berbicara dengan lawan bicaranya dalam ponsel. Sesekali mengumpat, terlihat ia sedang kesal sekali. Setelah selesai menelfon wanita itu terus saja menggerutu tak jelas.
Arga yang merasa terganggu dengan suara wanita di sampingnya hanya menyantap makanan dengan mentulikan kedua telingannya, saat wanita tersebut mengakhiri panggilan nya ia merasa lega karena ia akan makan dengan nyaman kembali.
“Désolé monsieur, pouvons-nous changer de siège?”
(Maaf tuan, bisa kita bertukar tempat?) Tanya wanita tersebut karena ia menginginkan duduk di kursi Arga yang dekat jendela.
Arga menoleh sebentar dan kembali melanjutkan makannya, Kini ia tak peduli dengan permintaan dari wanita tersebut.
“Apa dia gak ngerti ya?” gumam wanita tersebut.
“Excuse me Sir, can we switch places?” kali ini wanita tersebut menggunakan bahasa inggris karena ia kira Arga tak mengerti bahasa prancis yang ia gunakan tadi.
“Sir..” Panggil wanita tersebut namun Arga tak menoleh sama sekali.
“Budeg kali ya..” Gumamnya namun dapat di dengar oleh Arga.
Selesai menghabiskan makanannya ia pun memainkan ponsel untuk melihat sosial medianya, karena tak ada yang menarik ia pun segera meng-aktifkannya dalam mode pesawat. Kedua tangannya masuk ke dalam tas kecil yang ia bawa untuk mencari keberadaan earphone, setelah menemukan yang ia cari, ia pun segera mengambil earphone tersebut untuk mendengarkan musik.
“Sirr…” Tangan mungil dan lembut itu menggoyangkan bahu Arga yang hendak menyandar pada kursi.“sorry, can we switch places?” Tanya nya lagi saat Arga menoleh padanya.
“No.” Jawabnya singkat, padat dan jelas. Tak ada basa-basi sama sekali.
“Padahal aku sangat suka dekat jendela.” Berengutnya dengan nada kesal.
Wanita tersebut melipat kedua tangannya di dada dengan menyandarkan tubuhnya dengan kesal setelah memakai sabuk pengaman.
“Wait.. I think i know you.”
(Tunggu, kayaknya aku kenal kamu.) Kata wanita tersebut duduk tegap dengan mengamati wajah Arga yang sedang memejamkan matanya sambil mendengarkan musik.
“Kamu Arga??” Tanyanya dengan wajah merah terlihat bahagia membuat Arga membuka kelopak matanya.“Iya kamu Arga Satya Pratama kan??” Jawabnya sendiri dengan heboh kegirangan.
“Aku Jasmine, temannya Cintya.” Kata wanita yang bernama Jasmine mengulurkan tangannya ingin berjabat tangan dengan Arga.
Sejenak Arga menatap wanita yang mengaku teman Cintya, ditatapnya dari atas sampai bawah hingga berakhir pada tangan Jasmine yang menggantung.
Arga kembali menyandarkan tubuhnya dan menaikan volume dalam ponselnya agar tak terganggu dengan suara wanita yang duduk di sampingnya.
“Ok baiklah, yang penting kamu tahu namaku sekarang.” Tuturnya menarik tangan kanannya dan segera menyandarkan tubuhnya kembali dengan senyum-senyum tak jelas.
“Apa?” Tanya Jasmine menutupi rasa malunya.
“Sedang apa kamu?”
“Aku lagi foto langit dan awan, lihat!!” Ucapnya dengan memberikan gambar awan putih pada Arga supaya Arga tak kembali curiga.
“Aku kan sudah bilang, aku sangat suka duduk dekat jendela karena ingin foto awan putih yang indah seperti gula kapas.” Serunya dengan melihat hasil jepretanya.
“Indah sekali.” Tuturnya melihat gambar Arga yang tampan meski sedang tertidur di sandaran kursi.
Arga memalingkan wajahnya, memperbaiki duduknya sebelum ia memakai kaca mata.
“Semakin indah.” Imbuhnya dengan wajah berseri seperti melihat pangeran tampan dalam serial drama kesukaannya.
***
Raina menutup buku yang sedang ia baca di atas ranjang ketika Raka masuk kedalam kamarnya.
“Bagaimana kak?” Tanya nya langsung dengan wajah berseri, berharap kabar baik yang ia dapatkan.
“Kenapa?” Tanya Raina lirih saat Raka menggelengkan kepalanya.
“Dia udah check out Rain. Mulai sekarang Lupakan dia!! Bukankah kamu sendiri yang pergi kesini dengan buru-buru untuk menghindarinya?”
“Aku kira dia mengkhianatiku kak, makanya aku buru-buru kesini.”
“Itu namanya kamu lari dari kenyataan Rain, kenapa kamu gak minta penjelasanya waktu itu?”
“Bagaimana aku bisa tenang saat aku melihat bukti bahwa dia berkhianat kak?? Melihat wajahnya saja hati aku sakit kak..”
“Terus sekarang?”
“Aku salah, ternyata dia jujur. Aku terlalu gegabah dalam menyimpulkan sesuatu tanpa mencari tahu lebih dalam kebenarannya.”
“Terlambat Rain.”
“Maksud kakak?” Tanya Raina menatap kakaknya yang terlihat marah, ia heran kenapa kakaknya harus mengatakan terlambat? Bukankah tak ada kata terlambat selama ia berusaha bukan?
“Kamu sudah bersama Darrel, kamu harus menghargai perasaanya? Bagaimana perasaan dia kalo tahu kamu belum move on dari mantanmu?”
“Darrel?” Tanya Raina yang baru ingat dengan Darrel, Raina yakin Darrel akan mengerti dengan perasaannya, ia tak akan bersikap egois padanya. Ya Raina sangat yakin akan hal itu, Darrel pria baik.