
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, Semua murid kelas 12 tengah bersiap karena hari ini adalah hari pertama di laksanakan Ujian Nasional, semua murid duduk di depan komputernya termasuk Raina yang tengah fokus pada soal-soal yang ada di hadapannya tanpa memperdulikan suara murid lain yang tengah saling meminta contekan.
Satu jam lebih para murid berkutat dengan soalnya hingga waktupun habis semua murid di perbolehkan meninggalkan ruangan. Raina berdiri di depan pintu menunggu Arga, hingga akhirnya yang di tunggu menunjukan dirinya.
“Lama? Aku abis dari toilet dulu.” Ucap Arga berdiri di depan Raina.
“Gimana tadi?”
“Gampang”
“Gak nyontek kan?”
“Ya enggak lah.” Arga menggandeng tangan Raina menuju parkiran.
“Langsung pulang atau mau kemana dulu?”
“Pulang aja.”
Arga melajukan kendaraannya menuju rumah Raina, tak ada percakapan di antara mereka selama perjalanan.
“Thanks ya Ga.. mau mampir?” untuk pertama kalinya Raina mengajak Arga mampir ke rumahnya.
“Boleh gituh?”
“Kalo gak mau ya udah..”
“Ehh malah ngambek, gak niat banget sih ngajak pacarnya.”
“Ya udah mau mampir enggak?”
“Ya mau lah…” Arga memasukan motornya ke halaman rumah Raina.
“Yuk…” Ajak Raina ketika Arga turun dari motornya.
“Mbak..” Teriak Raina memanggil ART namun tak ada sahutan darinya.
“Duduk dulu, aku ambilin minum dulu.” Raina berlalu ke arah dapur dan mengambil minum serta cemilan untuk tamunya.
Segelas orange jus dan cemilan di letakan di atas meja depan Arga, Raina menyimpan nampannya kembali dan duduk di hadapan Arga.
“Rain, kamu tinggal sendiri?”
“Enggak.”
“Kok sepi?”
“Papa lagi kerja, si mbak mungkin lagi main sama temennya di samping, kenapa emang?”
“Gak papa, gak kesepian di rumah terus? Mana rumah gede lagi..”
“Ya enggak lah, Lo tuh aneh.”
“Kamu yang aneh, anak lain tuh jarang di rumah pasti mereka pada hangout di mall atau di cafe, kamu malah di rumah terus.. main juga paling ke rumah Abi.. kamu gak punya temen lain selain Abi dan si Sandi?”
“Kan sekarang lo temen gue, siapa yang sering maksa buat keluar rumah??”
“Aku, karena aku kasian aja kamu sendirian, oh iya dulu aku sering liat kamu jalan sama cowok,”
“Jalan?? Perasaan selain sama lo dan temen lo gue jarang keluar deh??”
“Masa?? Waktu itu aku sering liat, tapi sekarang udah enggak, mantan kamu?”
“Yang mana sih?? Lo kan tau mantan gue cuma si Rangga.”
“Bukan si Rangga, tapi satu lagi..”
Raina mengernyitkan keningnya mengingat siapa yang sering jalan bersamanya.
“Emhh…”
“Udah lah gak penting juga, yang penting sekarang kamu cuma milik aku titik gak pake koma apalagi tanda tanya.”
“Ishh lo tuh ngeselin.”
“Satu lagi, jangan manggil lo-gue, kamu sama si Sandi aja aku-kamu, giliran sama pacar lo-gue.. kita udah jadian beneran Rain.”
“Iya...”
“Lo penurut juga ya..” Ujar Arga menarik kedua sudut bibirnya hingga gigi putihnya terlihat.
“Rain itu kakak lo?” Tanya Arga melihat foto besar satu keluarga yang ia yakini bahwa itu adalah keluarga Raina. di tengahnya ada anak kecil berusia 5 tahun di himpit oleh ayah Raina dan juga ibu Raina yang sedang memperlihatkan perut buncitnya.
“hm.eh.. kakak gue satu-satunya" Jawab Raina keceplosan menyebutnya dengan kata gue “emhh.. maksudnya kakakku satu-satunya.” Ralatnya ketika Arga menatapnya tajam.
“itu pasti ibu kamu, cantiknya mirip banget”
“Ehemm… ” Raina berdehem ketika Arga memujinya cantik.
“Oh iya, aku gak liat ibu kamu, kemana?”
“Dia udah gak ada.” Jawab Raina dengan sendu.
“Sorry Rain, aku gak tau..”
“Gak pa-pa..”
“Kita sama.”
“Maksud lo?” lagi-lagi ia salah bicara. “Emhhh maksud kamu kita sama dalam hal??” Lanjutnya.
“Udah siang, yang lain pada nunggu di rumah Rizki, aku balik dulu ya..” Ujar Arga pamit dan meminum setengah orange jusnya, ia berdiri dan Raina mengantarnya sampai depan pintu.
“Jangan lupa belajar, kamu harus lulus dengan nilai sempurna.” Ucap Raina mengingatkan.
“Pasti, kamu harus siap nanti.” Ujar Arga menyalakan motornya dan berlalu meninggalkan pelataran rumah Raina.
Raina tersenyum mengingat apa permintaan Arga, ia masuk ke dalam kamarnya dan berguling di atas tempat tidur tanpa memudarkan senyumannya. Ia menepuk kedua pipinya yang memanas.
Sadar Rain… kenapa lo senyum-senyum sendiri?? Lo ngarep? Jangan, kayak cewek apaan sih lo..jangan ngarep ya Arga, lo gak mungkin dapat nilai di atas gue.. Gumam Raina tersenyum samar.
***
Tinggal menghitung hari bagi Raina untuk lulus dari masa SMA nya. Saat ini dirinya tengah berada di hari terakhir mengikuti Ujian Nasional. Waktu yang berputar membuat cemas murid lainnya untuk menyelesaikan soal-soal ujiannya. Arga sudah berdiri di depan jendela melihat Raina yang tersenyum ke arahnya. Raina segera menyelesaikannya dan berlalu keluar meninggalkan ruangan ujian.
“Tumben kamu duluan selesai.” Ujar raina berdiri di depan Arga.
“Kamu serius gak sih ngerjain soalnya?” Lanjutnya lagi karena tak mendapat jawaban.
“Ya serius lah..”
“Kamu nyontek ya?.”
“Enggak Rain, serius aku ngerjain sendiri, kamu kan tahu tadi pengawasnya gak diem.”
“Iya, iya.. aku percaya.”
“Ya harus lah...Abi jam segini masih di sekolah ya Rain, ke apartemn aku aja dulu.”
“Ngapain?”
“Ganti baju dulu lah. Emang mau ngapain? Jangan mikir yang aneh”
“siapa yang mikir aneh sih?? Aku kan cuman nanya.” Raina mempercepat jalannya meninggalkan Arga yang sedang menertawakannya.
***
Setelah mengantar Raina pulang terlebih dahulu mereka memutuskan untuk ke apartemen Arga, Arga membawa Raina mampir terlebih dahulu ke supermarket terdekat karena teringat isi dalam kulkasnya telah kosong.
Setelah merasa sudah tidak ada yang perlu di beli mereka pun pergi ke apartemen. Sesampainya di sana Raina membantu Arga menyimpan bahan makanan instan dan menyimpan minuman serta buah ke dalam kulkas.
“Udah biar aku aja, kamu duduk dulu.” Ujar Arga setelah berganti pakaian.
Raina menuruti kemauan Arga dan ia pun duduk di sofa panjang menghadap tv.
“Arga hp kamu bunyi tuh.” Ujar Raina merasa bukan ponsel miliknya yang berbunyi.
“Ambilin dong di kamar, di atas kasur kayaknya.”
“Sekalian numpang ke kamar mandi ya bentar”
“Iya.”
Raina beranjak berdiri dan masuk ke kamar satu-satunya yang ada di apartemen tersebut segera mengambil ponsel Arga yang tergeletak.
“lo ngapain ke sini Sin?” Tanya Arga melihat Cintya masuk ke dalam apartemennya.
Raina menghentikan langkahnya ke kamar mandi ketika ia mendengar Arga berbicara dengan seseorang, ia mengintip di celah pintu kamar yang sedikit terbuka dan melihat Cintya yang menghampiri Arga.
“Arga.. mau ada yang gue omongin...”
“Ya ngomong aja.” jawab Arga santai memotong buah melon dan semangka yang ia beli tadi.
“emhh..gue suka sama lo dari dulu, dari pertama kali gue kenal lo, gue juga tahu kalo lo sama si Rain tuh gak serius, kalian cuma pura-pura pacaran dan lo juga hanya ingin meaklukannya.” Ujar Cintya memeluk Arga dari belakang, Raina yang melihatnya geram, ia meremas ponsel Arga. Bukan karena cemburu Arga di peluk Cintya melainkan karena mendengar kata ‘hanya ingin menaklukan’.
“Sin lepas,lo ngomong apa sih??” Tanya Arga dengan suara pelan tak mau Raina mendengar pembicaraan mereka. Arga berontak dan karena tenaganya lebih besar pelukan Cintya pun terlepas.
“Gue serius Ga, gue suka sama lo, gue siap jika lo udah bosen sama si Rain.”
Raina melempar ponsel Arga ke kasur dan ia segera masuk ke kamar mandi, ia berdiri di depan wastafel, melihat dirinya di cermin dan segera membasuh mukanya. Setelah hatinya merasa tenang ia keluar dan mendapati Arga sedang berdiri di depan pintu kamar mandinya.
“Kamu ngapain di sini?”
“Aku nungguin kamu dari tadi takut kamu kenapa-kenapa.”
“Aku gak pa-pa.. tuh hp kamu masih di sana belum aku sentuh, aku langsung ke sini soalnya.” Ujar raina berbohong.
Jadi dia gak denger obrolan gue sama Cintya dong, syukur deh... Batin Arga tersenyum lega.
*Lo mau mastiin gue gak denger obrolan lo tadi ka*n?? Gue bakal pura-pura gak denger dan kita lihat siapa yang akan takluk Arga, lo apa gue?? Batin Raina tersenyum sinis.
“Arga kamu suka boneka ya??” Tanya Raina melihat boneka panda besar di ranjang Arga.
“Nanti kamu bawa pulang ya, tadinya mau ku kasih Nisa tapi aku dengar dia sukanya teddy bear.”
Raina mengangguk dan berlalu meminggalkan Arga. Arga mengekori langkah Raina dan ikut duduk di sebelah Raina menikmati buah yang Telah ia potong dadu. Setengah jam berlalu mereka menikmati buah dengan menonton tv bersama dengan Obrolan Ringan.
“Kayaknya mereka udah pulang.” Raina memasukan ponsel pada tas slempangnya.
Arga berlari ke kamarnya dan membawa boneka panda tadi, ia memberikannya pada Raina ketika Raina hendak membuka pintu.
“Bawa nih.. punya kamu.” Arga menyodorkan boneka panda tersebut dengan paksa hingga Raina membawanya dengan kesal. Siapa yang tak kesal besar bonekanya melebihi tubuh Raina dan membuat Raina kesulitan.
“Kamu tuh cowok mestinya bawain dong. Dasar cowok gak berpersaan.” Umpat Raina berlalu.
Semua orang dalam lift menahan tawa mereka ketika melihat Raina cemberut, namun ada juga yang mengumpat Arga karena termasuk cowok yang gak pengertian. Keluarnya mereka Arga memfoto Raina dari belakang dan tersenyum senang.