
Hangatnya mentari pagi masuk kedalam kamar Raina, dari balik selimutnya Raina menggeliat, betapa terkejutnya dirinya saat terbangun melihat sang mentari sudah menampakan dirinya dengan menghantarkan kehangatan bagi setiap mahluk hidup dimuka bumi.
“Ahhh.. Aku kesiangan.” Pekik Raina menyibakan selimutnya ketika melihat jam di atas nakas menunjukan sudah pukul 07.30.
Memang bukan pertama kali dirinya kesiangan, namun ia selalu merasa bersalah jika sudah melakukannya karena ia telah melewatkan kewajibannya.
“Morning semua..” Dengan masih mengenakan piyama tidur Raina menyapa semua anggota keluarganya yang sedang sarapan, termasuk sang ayah yang kini sudah terlihat sehat.
“Pagi sayang.” Sahut Adrian ketika Raina mengecup pipinya.
“Onty.. Aku.” Imbuh Aksa menunjuk kedua pipinya membuat Raina tersenyum dan segera mencium wajah keponakannya.
“Abis dari mana semalam? Aku tungguin ampe jam 11 malam belum juga pulang.”
Raina terkekeh pelan, ia dudukan tubuhnya dikursi samping Adrian, berhadapan dengan Raka dan segera menyesap jus alpukatnya.
“Maaf ya pa..., semalam tuh kita udah reunian jadi lupa waktu deh.” Jawab Raina mengambil 2 lembar roti untuk ia isi slai coklat.
“Jangan pulang malem-malem!! kamu itu cewek." Tukas Raka yang tak senang adiknya berkeliaran hingga larut malam.
"Kamu mau ikut kita gak sayang?” Adrian segera mengalihkan topik takut kedua anaknya berantem, meskipun sudah menikah tetap saja sifat Raka pada Raina tak pernah berubah, ia sering sekali menjahili dan akan selalu menganggap Raina sebagai gadis kecilnya. Tentu saja hal itu membuat Raina tak suka, ia merasa susah dewasa dan tak perlu diperhatikan dengan berlebihan.
“Mau kenama emang?” Raina bertanya sembari mengunyah roti.
“Mau piknik dong, opa juja itut, iya kan opa?” Celoteh Aksa yang belum fasih melafalkan perkataannya membuat semua yang mendengarkan akan tersenyum bercampur gemas ingin mencubit pipi cabinya.
Adrian mengangguk sebagai jawaban.
Raina berfikir sejenak, “Kayaknya enggak deh, lain waktu aja ya.” Ujarnya menggoda Aksa, serta ia juga merasa malas karena tahu akan banyak orang berkeliaran dihari minggu.
“Onty..” Aksa mengiba padanya.. jika sudah melihatnya begini tentu Raina hanya bisa menghela nafas pasrah dan menuruti kemauan pangeran ketiganya.
“Iya deh iya, jam berapa kita berangkatnya hm?”
“Jam belapa pa?” Aksa menoleh pada Raka yang sedang membaca majalah bisnisnya.
“Jam sembilan sayang.” Jawab Raka tanpa mengalihkan matanya dari majalah.
“Jam semilan Onty.” Raina tersenyum ketika Aksa memberitahukan jam berapa mereka akan berangkat, padahal Raina juga sudah tahu karena Raka berada disebelahnya.
“Oke.. ya udah, onty mandi dulu.” Raina pergi meninggalkan semuanya dimeja makan untuk bersiap ikut piknik dengan yang lainnya.
***
Betapa bahagianya Aksa ketika bermain gelembung sabun bersama tantenya, awalnya Raina malas karena ia tak menyukai keramaian, lagi-lagi karena Aksa merajuk dan hendak mengeluarkan tangisnya ia pun terpaksa menurutinya.
Raina meniupkan gelembung sabun hingga membentuk bulatan-bulatan besar dan kecil, Aksa berlari mengejarnya ditengah keramaian, Abiela dengan yang lainnya hanya melihat Raina dan Aksa dari kejauhan. mereka duduk di atas tikar dengan makanan yang begitu banyak, bahkan mbak Ana pun ikut setelah ia mengambil cuti menikah.
Ternyata hal seperti ini begitu membahagiakan, Batin Raina menatap Aksa yang terus tertawa ketika gelembung yang ia sentuh pecah satu persatu.
“Onty agi..!!” Ujarnya memerintah pada Raina ketika semua gelembungnya telah habis ia pecahkan.
“Okeyy.” Raina segera meniupkannya sehingga gelembung berwarna bening itu berterbangan terbawa angin, Aksa melompat-lompat karena gelembungnya terbang terlalu tinggi.
“Aaaaa…” Teriak Aksa ketika ia terjatuh di rerumputan hijau.
“Aksa..” Dengan panik Raina datang.
“Terima kasih.” Tuturnya memeluk Aksa, ia melihat kedua telapak tangan Aksa yang kotor dan meninggalkan luka.
Raina memebersihkan luka tersebut dan meniupnya secara perlahan. “Masih sakit?” Raina bertanya dengan masih meniup kedua telapak tangan Aksa tanpa memperhatikan wanita yang telah menolong keponakannya.
Aksa menggeleng, tangisnya berhenti ketika Raina datang padanya.
“Sekali lagi terima kasih, bilang makasih sama aunty nya sayang!” seru Raina, Aksa mendongak pada wanita yang sudah berdiri di hadapannya.
“Maacih onty.” Kata Aksa dengan tulus.
“Jasmine.” Raina beranjak berdiri ketika ia mengenali wanita di hadapannya, ia menggendong tubuh mungil Aksa karena Aksa enggan berjalan.
“Hai Rain, tadinya aku mau menyapamu, tapi takutnya kamu tak mengenaliku.”
“Mana mungkin aku tak mnegenalimu?” Raina tersenyum samar padanya.
Ya.. mana mungkin ia tak mengenali wanitanya Arga, jelas sebelum ia tahu namanya ia sudah lebih dulu mengenal wajahnya.
“Kamu sudah menikah?” Tanya Jasmine hati-hati.
“Ini anak kakakku.” Jawab Raina terkekeh pelan.
“Ohh ya sudah, aku duluan ya takutnya Arga menungguku.” Ucap Jasmine berlalu meninggalkannya.
“Arga? Jadi mereka datang bersama? Sedang apa mereka datang ke taman?” Gumam Raina.
“Apa Onty?” Tanya Aksa tak mengerti apa yang diucapkan Raina.
“Tidak sayang, kita kembali ke mama ya?.” Tanya Raina yang dijawab anggukan oleh Aksa. Dalam gendongannya Aksa melingkarkan tangannya pada leher Raina.
Dengan sengaja Aksa menggelitiki leher Raina membuatnya tertawa karena geli, saat ia sudah dekat dengan keluarganya terlihat Arga yang sedang mengobrol bersama Papa dan juga kakaknya.
“Itu Raina.” Tutur Adrian membuat semua mata memandang ke arahnya. Raina tersenyum kecut menatap keluarga yang begitu akrab dengan Arga, ia masih kesal padanya karena semalam telah memaksa pulang bersamanya.
“Aksa tadi jatuh.” Raina mendudukan Aksa di pangkuan Abiela, dengan sigap Abiela mengecek luka pada tubuh anaknya.
“Rain, tadi Darrel hubungi aku katanya nomor kamu susah di hubungi” Tutur Abiela ketika melihat tak ada luka serius di tubuh anaknya membuat pembicaraan Arga terhenti.
“Kenapa bisa susah?? Padahal aku gak silent kok, dan batery nya juga penuh.”
Abiela hanya menggedikan bahunya sambil membasuh luka kecil ditangan anaknya dengan air kemasan dalam botol.
“Kayaknya HaPeku tertinggal deh.” Raina terus saja mencari ponselnya didalam tas slempangnya.
Terdengar dering ponsel milik Arga, Arga pamit menjauh untuk menerima telfon, setelah selesai ia kembali.
“Om, kak saya permisi, ternyata temen saya dari tadi udah nungguin..” Pamit Arga mencium punggung tangan Adrian dan bersalaman layaknya anak muda pada Raka. Arga memberikan senyum yang penuh pesona pada Abiela dan juga Raina. Namun tak di hiraukan oleh Raina, ia hanya memalingkan wajahnya dengan mengajak bercanda Aksa.
Arga yang melihat sikap acuh Raina hanya menghela nafasnya, ia berbalik badan dengan sedikit berlari. Raina yang melihat Arga berlari hanya tersenyum kecut. Entah kenapa ia merasa kesal, entah kesal karena semalam ataukah kesal karena cemburu? cemburu karena Arga benar-benar telah bersama Jasmine.