
“Heh lo anak baru!!" Teriak Anya dengan kesal karena merasa di acuhkan oleh Raina, tak ada yang pernah mengacuhkannya selain Cintya, baru kali ini ia diacuhkan oleh orang lain dan itupun oleh anak baru. Raina yang masih tak menanggapinya, dengan santainya ia menyesap jus alpukatnya sambil memainkan ponsel.
"Heh hujan!." Anya menggebrak meja kantin karena tak juga mendapat respon dari Raina, membuat suasana menjadi hening seketika. semua mata murid lain yang sedang makan dan mengantri makanan kini menatap ke arah meja yang diduduki Anya dan Raina.
"Apa??" Tanya Bela melotot pada murid-murid yang sedang memperhatikan kearahnya.
Merasa sudah biasa dengan sikap Anya yang selalu semena-mena pada murid baru atau culun mereka pun hanya bisa diam dan kembali ke aktifitasnya karena tak ingin menjadi sasaran berikutnya.
"Lo gak budeg kan?" Bella sang tangan kanan Anya bertanya pada Raina, ia menyenggol tubuh Raina hingga ponsel Raina jatuh ke meja. Untungnya ia sudah menelan jus nya, hingga ia tak tersedak.
Mata hitamnya kini menatap tajam Bella, ia paham betul Bella sengaja melakukannya, Bella yang ditatap seperti itu menjadi menciut nyalinya, ia pun kembali berjalan kesamping Anya.
kini Raina menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dengan melipat kedua tangannya di perut, mata hitamnya menatap tajam mata Anya yang terus bergerak mengamati wajahnya.
Emang gue takut sama lo?? Batin Raina tersenyum dalam hati.
"Apa lo liatin gue?" Tanya Anya menutupi rasa gugupnya saat bola mata mereka bertemu, Anya dapat melihat begitu banyak keberanian dalam mata tersebut, sama seperti mata Cintya yang tak pernah takut pada siapaun kecuali Arga, hingga Anya selalu menjauh dari Cintya karena ia tak mau berurusan dwngan teman lelaki yang sedang ia incar, ia tak ingin gagal mendekati Arga.
"Tadi lo teriak manggil gue, sekarang lo malah nanya? gak jelas banget sih lo." Raina tersenyum, ia mengambil ponselnya yang terjatuh di atas meja dan memainkan kembali ponselnya karena merasa tak penting menanggapi Anya.
“Denger ya!!” Anya menyondongkan tubuhnya karena Raina mulai mengacuhkannya lagi. Perbuatan Anya itu mampu membuat Raina berhenti bermain ponsel, ia mematung dan siap mendengar perkataan wanita yang so populer di sekolahnya.
"Gue cuma mau ingetin sama lo, jangan berani deket-deket sama Arga, dia cowok gue!." Anya berkata dengan penuh penekanan di akhir kalimat sambil mensedekapkan kedua tangannya di meja dengan senyum bangga.
Raina yang mendengar pekataan Anya hanya menarik sebelah sudut bibirnya, seolah senyuman itu tengah mengejek perkataan Anya. Menarik pikirnya.
Ponsel yang sedari tadi dipegangnya ia simpan ke dalam saku sambil menatap Anya yang dari tadi terus saja memperhatikan penampilannya.
"Kalo misalkan Arga yang deketin gue gimana?" Tanya Raina menantang Anya.
Seketika Anya menegakan tubuhnya, kedua tangannya mengepal mendengar pertanyaan mustahil dari Raina, namun ia segera tersadar dan tersenyum untuk mengejek pertanyaan konyol itu, mana mungkin Arga mau sama Raina yang penampilanya sangatlah jauh dari cewek-cewek yang selalu Arga dekati, karena Arga tak terlalu suka dengan wanita yg selalu memamerkan tubuhnya, dan itu membuat Anya merubah penampilannya sedikit untuk mencari perhatian Arga.
"Gak mungkin lah Arga mau sama lo, penampilan lo aja kayak cewek murahan. tuh liat baju lo terlalu ketat, mau pamer dada lo?" Tutur Anya menyindir penampilan Raina dengan tertawa mengejek.
"Gak mungkin ya?" tanya Raina santai dengan seolah berpikir, ia sama sekali tak merasa terhina saat Anya mengkritik penampilannya.
"Sayang sekali ya?" Tutur Raina seolah sedih mendengar penuturan Anya. "Sayang sekali... gue juga gak tertarik sama Arga" Lanjutnya hingga ia tersenyum melihat wajah Anya yang langsung memerah menahan kesal.
Raina langsung pergi dengan senyuman yang sulit di artikan, meninggalkan Anya yang berteriak mengumpatnya dan sedang ditenangkan oleh dayang-dayangnya.
"Tarik nafas, buang.!!" Bella menenangkan Anya dengan memperagakan cara menarik nafas dan membuangnya perlahan hingga Anya pun melakukan perintah Bella.
Tanpa mereka sadari, ternyata Arga dan teman-temannya dari tadi memperhatikan dan mendengar perkataan mereka dengan sangat jelas dipojokan kantin yang tersembunyi.
Arga menyeringai meski teman-temannya terus saja mengejeknya karena harga dirinya telah terjatuhkan oleh perkataan Raina, hatinya sedikit terusik dengan perkataan Raina yang mengatakan ia sama sekali tak tertarik dengannya, ia pun pergi di ikuti oleh teman-temannya ketika melihat Anya pergi dari kantin.
Menarik pikirnya.
***
Pulang sekolah, Raina menyandarkan tubuhnya dekat gerbang menunggu pak Anton menjemputnya. Matanya terus saja melirik jam tangan bermerk Aigner di tangan kirinya. Sudah 20 menit ia menunggunya namun pak Anton belum juga sampai padahal ia sudah memberitahukan jam pulangnya.
Saat ia sedang menunggu mobil jemputannya datanglah Mobil BMW i8 Roadster berhenti di depannya, sang pengemudi turun dari mobilnya dan tersenyum melihat sosok gadis kecilnya yang sedang menundukan wajahnya sambil memainkan batu kecil dengan kakinya.
"Rain." Sapa sang pria berdiri di hadapan gadis kecilnya, ia membawa buket bunga mawar merah kesukaan Raina di belakang tubuhnya.
Raina yang sedang tertunduk karena kesal, tak menggubrisnya karena ia pikir itu adalah sapaan cowok-cowok yang hanya ingin berkenalan dengannya hingga kedua matanya hanya terfokus pada kerikil kecil yang ia mainkan dengan sebelah kakinya, Raina meluruskan pandangannnya saat matanya menangkap sebuket mawar yang disodorkan oleh seseorang, betapa terkejutnya dia saat melihat pria yang ada di hadapannya sekarang.
Rasa kesal yang ia tahan dari tadi langsung tergantikan oleh rasa senang. Raina langsung menghambur ke pelukannya dan membenamkan kepalanya di dada bidang sang pria, meluapkan rasa rindu yang sudah beberapa bulan ini ia tak pernah menemuinya hingga ia menangis terharu dipelukannya.
Sang pria mengurai pelukannya dan mengusap air mata yang turun di wajah gadis kecilnya dengan ibu jarinya.
"Jangan nangis dong, gue udah pulang, nihh gue bawa bunga kesukaan lo." Ucap sang pria memberikan buket mawar pada Raina. Raina tersenyum dan memukul gemas pria tersebut dengan buket mawar pemberiannya.
"Balik yuk." Ajak sang pria merangkul Raina dan masuk ke dalam mobil meninggalkan area sekolah.
"Gila… Gila… pantes aja dia bilang gak tertarik sama Arga ternyata cowoknya ganteng anj*r" Heboh Rizki saat ia melihat Raina pergi dengan pria tadi.
Arga tersenyum samar, ia naik ke atas motornya dan memakai helmnya melajukan motornya dengan sangat kencang meninggalkan teman-temannya begitu saja.