RAINA

RAINA
Chapter 29



Raina terlalu malas untuk masuk ke dalam lagi, biarlah ia menahan rasa laparnya dan ia mengeluarkan ponselnya, menghubungi Raka yang di perkirakan baru pulang dari kampusnya.


"Halo gadis kecil gue." Terlihat Raka sedang duduk menikmati waktu sore di prancis.


"Kak.." Rengek Raina mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa hmm? Bentar, tumben lo dandan."


"Gara-gara papa nih ngajakin aku ke acara temennya, kalau aja ada lo gue gak bakalan ada di sini."


"Yaelah.. cuma nemenin doang, waktu kecil aja lo suka girang kenapa sekarang suka ogah-ogahan sih?"


"Honey, here's your tea." Terlihat wanita memakai pakaian sexy di dalam apartemen Raka memberikan teh pada nya dan Raka tersenyum.


"Lo nagapain hah?" Bentak Raina hingga berdiri seakan ia lupa jika sedang di rumah orang.


Arga yang melihat Reaksi Raina segera mendekatinya namun ia berhenti ketika mendengar suara laki-laki dari ponsel Raina.


"Ssstt.. lo tuh, jangan teriak-teriak malu, lo masih di rumah orang."


"Lo ngapain berduan gitu di apartemen?" Tanya Raina menahan isakan tangisnya.


"Denger, kita gak berdua, liat banyak orang sedang berkumpul di sini, lo tuh ada-ada ajah, jangan samain gue sama mantan lo ya..!!" Ucap Raka tegas.


"Gue kira berdua." Raina kembali duduk mengusap bulir kristal di sudut matanya.


"Udah jangan nangis, dandanan lo bisa rusak." Raka berdiri menghampiri teman-temannya.


"What is the problem?" Tanya wanita itu pada Raka.


"It's nothing." Raka tersenyum.


"Siapa dia?" Tanya Raina ketus namun dengan senyuman yang penuh arti.


"Abiela." Ujar Raka datar karena pasti Raina akan mengejeknya.


"Ehemm.. eehmmm." Raina berdehem dan tersenyum penuh arti.


"Abiela,please keep her there at all times!!" Raina setengah berteriak agar terdengar oleh Abiela.


Abiela dan teman-teman Raka hanya tersenyum mendengar perintah dari Raina.


"Udah ah, lo ganggu waktu gue."


"Inget jangan macam-macam!!" Raina menekankan kata rerakhir nya.


"Iya bawel, bye." Raka memutus sambungan video call nya.


Raina hanya tersenyum, ia akhirnya lega karena kakaknya sudah menemukan tambatan hatinya.


Arga yang berdiri tak jauh dari Raina berjalan mendekati Raina, ia menyodorkan 2 kue coklat dan jus alpukat pada Raina.


Raina hanya melongo, namun tangannya terulur menerima pemberian dari Arga.


"Makasih." Raina segera melahap kue coklat tersebut.


"Siapa tadi?" Arga berdiri memasukan kedua tangannya pada saku celananya.


"Lo menguping?" Raina mendongakan wajahnya.


"Sedikit, karena lo berbicara terlalu kencang makanya gue bisa denger."


"Aahh… maaf."


"Dia.." Raina mengerutkan kedua alisnya.


Kenapa gue mesji jawab juga? Emang siapa dia mesti tau urusan gue. Batin Raina.


Arga yang diam memperhatikan Raina hanya menautkan kedua alisnya, kenapa Raina tak melanjutkan perkataanya.


"Bukan urusan lo." Raina kembali menguyah dan meminum jus alpukatnya.


Arga berlalu meninggalkan Raina sendiri. Raina yang sedang kelaparan hanya fokus dengan kue coklatnya.


Setelah kenyang Raina menyimpan piring dan gelas kotornya di kursi ayunan. Karena ia tak tahu harus membawanya kemana.


"Biarlah di tinggal di sini juga, nanti juga ada yang beresin." Raina kembali berjalan menghampiri Papanya yang sedang mengobrol dengan lelaki paruh baya.


"Pa, apa masih lama?" Raina berkata setelah ia berdiri di samping Adrian.


"Nanti kita bahas lagi." Ujar lelaki paruh baya tadi meninggalkan Adrian dan juga Raina.


"Kenapa?" Tanya Adrian pada Raina yang memasang wajah cemberut.


"Bosan, pulang yuk."


"Nanti sayang, sebentar lagi."


"Hai pak Adrian." lelaki sepantar dengan Adrian menyapanya.


"Hai pak jefri, senang bisa bertemu dengan anda."


"Pa.. aku keliling dulu ya." Raina pamit pada Adrian dan temannya.


Adrian mengangguk dan kembali mengobrol dengan teman kerjanya.


"Membosankan." Gumam Raina mengambil minuman yang tersaji di meja bundar namun terdengar oleh laki-laki di sampingnya.


Lelaki tersebut menoleh pada Raina, ia menatap wanita cantik yang berdiri di sampingnya, ia tersenyum penuh arti.


Raina hanya menatap lelaki seumuran dengan kakaknya yang berdiri di sampingnya, jadi tadi ia bergumam terdengar oleh lelaki tersebut.


"Aku Dhafin." Lelaki tersebut mengulurkan tanganya pada Raina.


"Raina." Raina menjabat tangan Dhafin.


Arga yang melihat interaksi antara Raina dan lelaki lain merasa kesal, ia mengepalkan tangannya dengan rahang yang mengeras.


Arga mengeluarkan ponselnya, ia menghubungi seseorang.


"Ketaman tadi sekarang juga!!" Perintahnya tanpa mengalihkan tatapan matanya dari Raina.


Raina yang menerima panggilan dari Arga hanya mengerutkan keningnya, Ada apa dengan pria ini? Pikirnya.


"Gue bilang sekarang juga Rain, atau gue seret lo." Ancam Arga.


"Iya-iya." Raina memberengut menyutujui kemauan Arga.


Raina mematikan ponselnya dan ia pamit pada Dhafin keluar. Raina berjalan menuju kursi ayunan, berdiri dekat Ayunan tadi namun ia tak melihat Arga di sana. Raina mendengus kesal dan menghempaskan tubuhnya di ayunan tersebut.


"Dasar Mr GAJE." Raina mengerutu dan menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.


Jangan lupa dukungannya kakak Readers.


Jika suka like, comment, vote dan juga rate ya kakak readers kesayangan ;)