
Wanita hamil yang duduk di kursi tunggu rumah sakit ternama menatap tajam ke arah tangan Raina yang di genggam terus oleh Arga. Sesekali sebelah sudut bibirnya terangkat seolah meremehkan.
“Arga, jika benar anak ini adalah anak kamu tante harap kamu nikahi Sindy.” Tegas Manda ibunya Sindy.
“Seharusnya kalian menikah sebelum perut Sindy membesar, tapi ini sudah terlanjur. Lebih baik kalian menikah setelah bayi ini lahir sekalian papa Sindy pulang nanti.” Sambungnya.
“Ini juga salah kamu, kenapa kamu gak maksa dia nikahin kamu dulu? Kenapa kamu malah diam aja sih Sin? Mama gak habis pikir sama kamu, kamu malah membela lelaki seperti Arga yang tak bertanggung jawab, lihat.!! sekarang aja dia bawa cewek ke sini.” Tukasnya kesal memarahi Sindy.
“Udah dong ma.. aku lebih baik gak nikah aja kalo mama ngomel terus.”
“Kamu lihat kan anak tante? Dia gak mau nikah.”
“Begini…” Raina meremas tangan Arga supaya Arga tak menyahuti perkataan Manda. Arga yang tau kode dari Raina langsung terdiam tak melanjutkan perktaannya.
Dokter spesialis genetika pun akhirnya datang, Sindy pun masuk ke dalam tanpa di temani siapapun untuk melakukan prosedur pengambilan cairan amnion. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Sindy keluar di antar Dokter.
“Berapa hari saya harus menunggu hasilnya dok?” Tanya Arga menghampiri dokter.
“Kurang lebih 1-2 minggu.”
“Tidak bisakah besok atau lusa dok?”
“Maaf pak, tidak bisa.” Dokter tersebut pun menyarankan Sindy untuk menjaga kesehatan sebelum ia masuk lagi ke ruangannya.
“Ayo sayang kita pulang, kamu harus istirahat.” Ucap Manda kepada Sindy.
“Ma aku mau ke toilet dulu.”
“Ya sudah mama tunggu di mobil ya.”
Sindy mengangguk.
“Kamu yakin itu anakku? Jangan harap karena aku gak pernah melakukannya.” Tegas Arga.
“Kamu lupa? Kamu sering mabuk waktu itu, dan siapa tempat berlindungmu? Aku Arga.. Aku yang selalu menjadi temanmu,kita sering menghabiskan waktu bersama karena aku tinggal di rumah sendiri,oh iya… kamu bilang gak pernah ngelakuin sama aku? kamu gak akan pernah ingat karena kamu selalu dalam pengaruh alkohol kalo nginep di rumahku.” Sindy berlalu dengan seringainya.
Langkahnya terhenti ketika ia melihat Raina berjalan ke arahnya, Tatapan mereka bertemu sebisa mungkin Raina tenang agar Sindy tak meremehkannya.
“Aku harap kamu akan merelakan dia untuk anakku.” Tutur Sindy mengelus perutnya ketika jaraknya dengan Raina begitu dekat.
“Kita lihat saja hasilnya nanti.” Raina berhenti sejenak.
“Aku yakin kamu sudah liat kan video yang aku kirim? Itu asli.. dia sering mabuk dan aku yang selalu jadi temannya ketika mabuk, dan kamu lihat ini adalah hasil perbuatannya.”
“Aku akan percaya perkataanmu setelah hasilnya keluar.” Raina berlalu menghampiri Arga yang sedang menelfon.
“Lagi telfonan ama siapa sih? Pulang yuk..” Ajak Raina manja.
“Ini Rico, katanya kita ke rumah Rizki sekarang.”
Sindy yang mendengar suara manja Raina merasa kesal, meski ia tak melihatnya tetap saja hatinya kesal karena Arga mendapatkan wanita yang tak kalah cantik darinya. Apalagi Raina terlihat berani di depannya. Sindy pun berlalu meninggalkan mereka.
“Kapan hasilnya keluar?” Tanya Raina ketika mereka berjalan menuju parkiran.
“Iya.” Tutur Raina lembut.
“Kapan kamu berangkat ? ahh.. Apa aku bisa berjauhan denganmu? Tadi pagi aja aku udah stres karena kamu mengabaikan panggilan telfonku.”
“Tadi karena aku kesal dan juga.. entahlah pokoknya tadi pagi aku gak mood buat ngomong.” Arga mengacak rambut Raina gemas hingga yang punya menjadi kesal dan cemberut. Mereka menaiki motor dan saling melempar canda. Tanpa mereka sadari sepasang mata menatapnya kesal dengan kemesraan mereka.
***
“Gue udah nyari tahu ada hubungan apa mereka, dan bener dugaan kita kalo mereka pernah pacaran.” Ucap Rico memainkan ponselnya.
“Pernah? Jadi mereka udah putus?” Tanya Arga.
“Kayaknya, karena orang yang gue suruh cuma bilang kalo si Rangga udah lama gak pernah ke rumah si Sindy lagi.” Sahut Rico memberikan informasi di ponselnya ke Arga.
“Tunggu, Rangga? kalian ngomongin siapa sih?” Tanya Raina penasaran
“Mantan kamu.” Sahut Arga kesal.
“Kenapa si Rangga bisa sama Sindy?” Tanya Raina.
Arga hanya menggedikan bahunya tak peduli.
“ya mereka pacaran lah.” Sahut Rizki.
“Pacar si Rangga tuh Nadine, apa mereka udah putus ya?” Tanya Raina pada dirinya sendiri.
“Yaelah Rain, lo putus ama dia karena dia selingkuh kan? Bisa aja dia juga nyelingkuhi si siapa tadi kata lo?” Timpal Rico.
“Trus kenapa kalian mencari tahu tentang mereka?” Tanya Raina lagi.
“Lo kalo masalah ginian lemot juga ya? Gue kira lo pinter dalam segala hal.” Sahut Rizki
“Gue nanya serius ini.” Kesal Raina.
“Sindy selingkuh sama si Rangga, dan ada kemungkinan bayi itu juga milik si Rangga, karena kata orang yang gue suruh cuma si Rangga yang sering main ke rumahnya.” Jawab Rico menjelaskan.
“Jago juga ya orang suruhan lo bisa tau informasi secepat itu, padahal mereka udah putus tapi dia bisa nyari tahu dengan detail.” Kata Rizki.
“Lo harus bayar mahal ini.” Ujar Rico menerima ponselnya kembali.
“Iya bawel, nanti gue transfer uangnya.” Kata Arga.
“Haii semuanya.” Sapa Cintya yang datang bersama Indri.
Dan mereka pun kini hanya berkumpul seperti biasa, menghabiskan waktu bersama dengan ngobrol, makan, main game dan saling melempar canda hingga lupa waktu.
Happy Reading..
Jangan lupa dukungannya😁