
Semenjak kejadian di perpus Raina dan Arga resmi pacaran, itupun karena paksaan Arga, Hari-hari mereka di lewati bersama dari berangkat sekolah sampai main ke rumah Abi selalu bersama tak segan Arga selalu membantu Abi menjual atau mengantar bolu kukus pesanan pelanggan bu Wulan, kedekatan mereka membuat Raina senang.
“Ada apa papa kemari??” Tanya Arga ketika ia bertemu papanya di ruang kepsek.
“Nilaimu sama sekali tak ada peningkatan. Kau akan selamanya seperti ini?”
“Bukan urusan papa.”
“Arga… kau anakku.”
“Anak?? Bukannya hanya dia anak papa?” Arga tersenyum miris.
“Arga.. kalian adalah anak papa, jadi papa harap dirimu berguna bagi keluarga!” Bagaskara bangkit membenarkan jasnya dan keluar dari ruang kepsek.
***
Arga duduk di bawah pohon belakang sekolah, wajahnya mendongak menatap langit biru yang cerah.
“Lo gak apa-apa kan Ga?” Tanya Cintya duduk di sebelah Arga.
Arga bergeming.“Gue akan selalu ada buat lo Ga, lo bisa cerita ke gue.” Tukas Cintya menepuk bahunya karena ia tahu Arga membutuhkan bahu untuknya bersandar.
Arga menyandarkan kepalanya di bahu Cintya, Tangan Cintya mengusap rambut belakang Arga seolah memeberikan kekuatan padanya.
Kenapa harus lo yang peduli sama gue? Batin Arga memeluk Cintya.
Raina datang membawa softdrink di tangannya, Tubuhnya terpaku melihat Arga dan Cintya. Matanya perih seakan ingin mengeluarkan sesuatu dan dadanya begitu sesak melihat mereka berpelukan. Apakah ia cemburu? Apakah ia mulai menyukai Arga?.
Raina membalikan badannya dengan meremas kaleng softdrink di tangannya, Cintya yang melihat kepergian Raina hanya tersenyum.
“Thanks Sin.” Arga tersenyum melepaskan pelukannya.
Cintya mengangguk dan membalas senyuman Arga,“mereka nungguin kita di kantin.” Ujar Cintya bangkit menarik tangan Arga.
Arga berdiri mengikuti langkah kaki Cintya menuju kantin, matanya ia edarkan untuk melihat keberadaan Raina namun tak menemukannya di penjuru kantin, mungkin dia sedang di kelas, Kenapa Raina tak menyusulnya ke kantor kepsek? Jelas ia mengetahui bahwa Arga di panggil. Pikir Arga kesal melihat Raina yang belum juga menyukainya.
“Ga lo pengen apa dari kita? Tumben lo belum nagih.” Tanya Rico mensejajarkan tubuhnya dengan Arga yang sedang berjalan menuju kelas.
“Kalian pasti tau kenapa gue gak ngajuin kemauan gue..”
“Karena lo menolak menjadikan ia taruhan kan?.” Tebak Rico.“Kayaknya lo suka beneran sama dia.” sambungnya.
Sudut bibirnya kembali terangkat sempurna, entahlah apa yang ia rasakan saat ini? Apa ia benar menyukai Raina ataukah hanya ingin menaklukkan Raina? sedangkan Cintya yang berjalan di belakangnya menguping pembicaran mereka hanya tersenyum senang mengetahui tujuan Arga mendekati Raina.
"Raina dimana San?" Tanya Arga tak melihat keberadaan Raina di sebelah Sandi.
"Bukannya tadi nyamperin kamu ya?" Sandi balik bertanya.
Arga segera berbalik badan menuju rooftop, langkahnya ia hentikan ketika melihat Raina sedang duduk dan berbicara sendiri.
“Gue benci perasaan ini.” Raina meneguk softdrink untuk Arga sembari mengumpat perasaanya.
“Gak mungkin gue suka sama dia? Gak.. gak boleh.. dia itu bad boy sama kayak Rangga, yang ada dia bakal nyakitin lo Rain.” Raina berbicara sendiri dengan tersenyum masam.
Raina bangkit berdiri ketika softdrink nya telah habis, ia terkejut melihat Arga sudah berdiri di belakangnya dengan senyuman yang mempesona, tubuhnya hampir limbung kebelakang namun terselamatkan oleh tangan kekar Arga.
“Lo suka sama gue kan?” Tanya Arga dengan senyum jahilnya.
“Pede banget sih lo. Lepasin tangan lo!”
“kenapa mata lo merah? Lo habis nangis?” Tanya Arga setelah membantu Raina berdiri tegak.
“Enggak, ini kelilipan.” Raina berkilah.
“Masih perih?”
“Masih perih?” Tanya Arga dan di jawab dengan gelengan kepala.
“lepasin tangan lo!! gue gak mau ya tangan yang di pake buat peluk cewek lain nyentuh gue.” Raina menepis tangan Arga.
“Tangan? Peluk?” Ulang Arga dengan wajah polos dan senyuman jahilnya.
“Iya,tangan ini tadi udah di pake meluk cewek lain kan?” Raina tersadar dan membuang wajahnya karena telah salah berucap.
Arga tersenyum sumbringah. “Lo cemburu.”
“Enggak” sanggah Raina.
“trus kenapa lo tau kalo tangan gue abis meluk cewek lain?” Tanya Arga membuat Raina tak bisa menjawabnya.
“Fix lo cemburu, pasti lo tadi nyamperin gue kan? Tuh buktinya softdrink. Biasanya juga lo minum jus alpukat.”
“Pede banget sih lo.” Raina berjalan melewati Arga.
Tubuhnya kembali mematung ketika ia merasakan tangan kekar memeluk pinggangnya.
“Gue seneng lo cemburu, itu buktinya lo suka sama gue. Thanks Rain.” bisik Arga.
“Lepas Ga…” Raina berontak.
“Enggak.”
Raina menginjak Kaki Arga karena ia tak juga melepaskan tangannya membuat arga meringis kesakitan.
“Jangan kurang ajar ama gue.”
“Lo galak banget sih jadi pacar.” Arga memegang kaki sebelah kanannya yang tadi injak keras oleh Raina.
“kenapa lo di panggil ama guru tadi?” Tanya Raina kembali duduk di lantai kotor.
“Biasa.”
“Lo kenapa gak belajar yang bener sih Ga? Gue yakin lo tuh pinter, lo gak mau banggain orang tua lo?” Tanya Raina menoleh pada Arga.
Arga bergeming menatap luasnya langit biru.
“Gue mau lo belajar yang bener, gue mau lo bisa membuat bangga orang tua lo dan gue gak mau ya punya pacar yang bodoh jadi lo harus buktiin ke gue kalo lo bisa lulus dengan nilai sempurna.”
“Hadiahnya apa kalo nilai aku bagus nanti?”
“Hadiah??” ulang Raina.
“Lo kayak anak SD minta hadiah segala.” Raina terkekeh geli mendengar kata hadiah dari Arga.
“Aku mau hadiah spesial nanti, apapun yang gue mau lo harus nurutin.” Tukas Arga menatap Raina.
“Oke deal, apapun yang lo mau.” Raina tersenyum.
“Udah yuk, kita masuk panas di sini.” Ajak Arga menarik tangan Raina.
Jangan lupa dukungannya kakak readers.
Jika suka like, komen, vote dan rate ya ;)