RAINA

RAINA
Chapter 76



Raina keluar dari mobil Darrel begitu saja, Darrel yang bingung dengan perubahan sikap Raina mengejarnya, seperti dalam mobil Darrel hanya diam karena setiap ia bertanya padanya Raina hanya menjawab singkat atau seperti deheman.


Mereka keluar bersama dari lift dan Darrel kembali mengekori langkah Raina, Darrel menyangka Raina sedang marah padanya karena biasanya Raina akan kesal jika ia mengikutinya tapi kali ini di abaikannya.


“Rain tunggu!” Ujarnya mencegah langkah Raina masuk lebih dalam.


“Kamu kenapa? Aku punya salah? Biasa nya kamu akan kesal jika aku terus mngikutimu tapi sekarang kamu hanya diam saja, ada apa? Maaf jika perkataanku tadi membuat hatimu tak nyaman.”


“Lepas!!” Raina menghempaskan tangan Darrel dengan kasar dan ia masuk begitu saja ke dalam kamar tanpa menyapa Abiel dan juga Raka yang sedang mengerjakan tugas kampusnya.


“Rain..” Darrel mengetuk pintu kamar Raina yang terkunci.


“Kenapa dia? Kamu buat masalah dengannya?” Tanya Raka dengan tatapan tajam.


“Tidak, aku hanya bercanda dengannya dan dia jadi bersikap aneh padaku.”


“Aneh? Maksudmu?”


“Dia diam saja dan jika di tanya hanya menjawab seperlunya.”


“Biarkan saja, mungkin dia merindukan pacarnya.”


“Apa?” Kaget Darrel. “Dia punya pacar?” Sambungnya.


“Ya.” Jawab Raka melanjutkan mengerjakan tugasnya.


“Jangan bilang kamu menyukai adik Raka.” Tebak Abiel.


“Awalnya aku hanya gemas dengan sikapnya yang selalu manja padamu dan terlihat angkuh jika bersama orang lain. Dan sekarang aku mulai menyukainya.” Jawab Darrel pada Raka tegas agar Raina bisa mendengarnya.


Raka dan Abiel hanya tersenyum tipis, ia sudah paham dengan sikap Darrel yang usil namun selalu perhatian pada Raina, bahkan semenjak ada Raina hampir setiap hari ia datang ke apartemen Raka yang biasanya hanya ada perlu atau sedang jenuh.


Raina yang sedang di dalam kamar tentu mendengar apa yang di bicarakan mereka, ia hanya memeluk guling dan menatap layar ponselnya.


"Sikapnya begitu mengingatkanku padamu.” Ucap Raina sendiri pada ponselnya.


Dengan mata terpejam ibu jarinya menghapus semua isi galeri ponselnya, ia tak ingin melihat wajah Arga lagi. Raina menurunkan kedua kakinya dari ranjang, ponselnya ia simpan di atas nakas dan bergegas ke luar membawa laptopnya.


“Lagi apa kak?” Tanya Raina duduk di sebelah Abiel.


“Melihat fashion yang sedang trend.” Jawab Abiel.


“Dari tadi kamu bukannya bantu aku malah sibuk liat fashion.”


“Rain..” Sapa Darrel dari arah dapur.


“Apa?”


“Kamu sudah tak marah?”


“Marah karena apa?”


“Tadi kamu hanya diam saja.”


“Aku kebelet, kamu malah menghalangiku.”


“Aku kira kamu marah.”


“Untuk apa aku marah?”


Raina berjalan menjauh dari Raka dan teman-temannya, ia duduk di kursi santai yang berada di balkon apartemen. Laptop yang ia bawa di simpan di atas pahanya, ia segera mengenakan earphone dan menghubungi orang yang begitu ia rindukan.


“Haii kak Rain.” Sapa anak kecil dari sebrang sana melambaikan tangan serta memangku anak berusia 1,5 tahun di pangkuannya bersama Abi yang duduk di sampingnya.


“Baik, kakak adeknya berat.” Abi memberikan ponselnya pada Nisa dan ia mengambil alih memangku adiknya.


“Kami baik kak, kata ibu dan bapak bagaimana kabar kakak di sana?”


“Baik, oh iya Abi apa kamu sudah menyelesaikan ujiannya?”


“Sudah kak, Aku lulus dengan nilai baik, dan minggu depan akan di adakan acara perpisahan.”


“Selamat ya, kamu ingin hadiah apa?”


“Aku ingin boneka besar kak.” Sahut Nisa.


“Kak Rain nanya nya ke kakak bukan ke kamu.” Seru Abi membuat Nisa mendelik.


Raina hanya tersenyum sembari mengelengkan kepalanya. Ia benar-benar bahagia telah mengenal Abi dan juga Nisa.


“Kak, kemarin kak Arga datang ke sini, dia bantuin ibu buat kue lagi.” Imbuh Nisa.


“Benarkah? Bagus dong.” Raina memekasakan tersenyum mendengar nama Arga.


“Iya, kemarin itu ada pesanan dari kampung sebelah, untung ada kak Arga dan teman-temannya jadi ibu gak kualahan bikinnya.”


“Oh iya, kata kak Arga kalo libur sekolah dia akan ajak kita liburan ke kakak.”


“Sssttt.. mulut kamu gak bisa di kunci.” Abi memarahi Nisa.


Raina terpaku mendengar Arga akan menyusulnya ke sini, apa ia sudah mengetahui tempat tinggalnya? Lalu bagaimana dengan pernikahannya.


“Kakak…”


“Ahh iya sayang.” Ucap Raina cukup terkejut dengan panggilan Nisa.


“Kakak kenapa kok bengong?”


“Enggak, kakak gak bengong, kakak senang kalo kalian ada di sini.”


“Kapan kakak pulang?”


“Hahaha kakak gak akan pulang sayang, karena papa kakak yang akan ke sini.”


“Kata kakak akan pulang tiap tahun.” Cemberut Nisa.


“Kalo kakak libur pasti pulang, kakak udah kangen sama kalian.”


“Kami juga kangen kak.” Sahut Abi tersenyum.


Raina tersentak ketika ada yang memegang bahunya, ia mendongak dan melihat kakaknya membawa jus alpukat.


“Lagi video call sama siapa?” Tanya Raka.


“Nih..” Ucap Raina memperlihatkan layar laptopnya.


“Hai kak Raka..” Sapa Abi dan Nisa bersamaan di sertai lambaian tangan.


“Hai adik-adikku.” Sapa Raka yang terlihat menyapanya.


“Aku akan keluar, kamu tak apa sendiri?”


“Tak masalah, ada mereka juga.” Tunjuk Raina pada layar laptopnya.


Raina kembali menyapa Abi dan Nisa, mereka melepas rindu dengan bertukar cerita, Raina menjadi pendengar yang baik ketika Nisa terus saja berceloteh dengan cerita di sekolahnya bahkan Nisa terus saja meledek Abi yang sudah di dekati anak wanita. Terkadang Abi merajuk karena Nisa dan Raina sama kompaknya dalam meledek dan mereka pun tertawa bersama.