RAINA

RAINA
Chapter 70



Raina bersandar pada sofa dengan menyilangkan tangannya di perut menatap lelaki yang duduk bersebrangan dengannya, ia memalingkan wajahnya serta menggerutu gak jelas ketika si lelaki tersebut mencoba menggodanya dengan mengedipkan mata. Waktu terasa lama ketika ia menunggu kakaknya yang tak juga muncul. ponsel yang terus saja berdering ia biarkan begitu saja karena saat ini ia hanya ingin bertemu dengan kakaknya meminta penjelasan kenapa ia bisa bebas memasukan orang lain ke apartemennnya.


“Rain..” Panggil Raka masuk dengan nafas tersenggal, sepertinya ia berlari.


“Kamu apain adikku?” (Anggap aja pake bahasa prancis atau bahasa inggris ya😁)


Tanya Raka pada lelaki yang tengah duduk menatap ke arahnya dan juga Raina.


Lelaki tersebut hanya mengedikan bahunya dan kembali memakan snak tanpa mnjawab pertanyaan Raka.


“Dia temen lo kak?” Tanya Raina dalam bahasa indonesia.


“Iya, namanya Darrel. Lo gak di apa-apain kan?” Tanya Raka menatap tubuh gadis kecilnya.


Merasa namanya di panggil darrel pun menyahut. “Kalian bisa kan pake bahasa yang bisa aku mengerti? Bahasa inggris misalnya.”


“Sorry rel, ini Raina adikku. Dia akan melanjutkan sekolahnya di universitas yang sama dengan kita.” Ucap Raka mengenalkan Raina menggunakan bahasa prancis.


“Aku Darrel, aku teman Raka kakakmu.” Ujar Darrel mengulurkan tangannya.


"Dia baik kok." Ucap Raka dengan berbisik.


Raina yang sedikit mengerti bahasa prancis menjabat uluran tangan Darrel. “Aku Raina, sorry tadi.. aku kira kamu kakak aku.”


“Gak pa-pa.” Jawab Darrel tersenyum tak melepaskan tangan Raina, merasa risih Raina menarik paksa tangannya namun tertahan hingga terlepas ketika Raka memaksa Darrel berhenti mengganggu adiknya.


“Kamu nih, adikku ini..” Timpal Raka.


“Ponsel kamu bunyi terus tuh.” Raka menyuruh Raina untuk menjawab panggilan yang masuk ke ponselnya.


Raina melihat nama ‘Calon suami’, wajahnya berubah sendu awalnya ia hanya diam, karena Raka hendak mengangkatnya maka ia memutuskan bangkit dan berlalu membawa ponselnya menuju kamar sebelah, kamar yang tersedia untuknya.


Setelah pintu tertutup sempurna Raina menggenggam ponselnya di depan dada, rasa ragu begitu menyelimuti hatinya. Bayangan Arga kemarin yang berusaha untuk menghampirinya membuat ia terharu, tapi ia tak bisa jika terus seperti ini. Ia harus mengakhiri semuanya.


Dengan menarik nafas ia menjawab panggilan masuk dari Arga, lalu mendekatkan benda pipih tersebut ke dekat telinganya.


“Rain..”


"Hallo..” Terdengar suara Arga begitu parau di sebrang sana.


Baru saja ia mendengar suara Arga, rasa rindu yang ia pendam semakin menjadi, namun setengah hatinya begitu sakit jika mengingat Arga telah menghianatinya.


Ponselnya kembali berbunyi saat ia memutuskan secara sepihak tadi dan orang yang menghubunginya masih orang yang sama.


"Hallo Rain, aku mohon jangan di tutup dulu.” Ucap Arga terburu-buru takut Raina mematikan kembali panggilannya.


Raina tak mengucapkan apa-apa, ia hanya menunggu apa yang akan di katakan Arga.


“Honey... Aku gak berbohong padamu, aku berani bersumpah.” Ucap Arga mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya, padahal Raina juga tak akan melihatnya. “Aku juga gak ngerti kenapa hadilnya bisa seperti itu.” Sambungnya


“Udah lah Ga.” Raina menghela nafas sejenak. “kamu gak usah menyangkal lagi. Semua udah jelas dan aku udah siap untuk melupakanmu.” Ucapan Raina membuat di sebrang sana menjadi hening.


Hening untuk beberapa menit, dan Raina hendak menutup panggilan dari Arga. Tapi entah kenapa hatinya mengatakan untuk jangan melakukan hal tersebut.


“Rain, aku.. aku tahu aku bukanlah orang baik, Bahkan kamu tahu bagaimana diriku dulu sebelum mengenalmu. Tapi satu hal yang harus kamu tahu jika aku tak pernah melakukan hal di luar batas dengan cewek manapun, terserah kamu mau percaya atau tidak.”


“Arga.. Kita akan bertemu pada titik terbaik menurut takdir, jika kita memang berjodoh aku yakin pemilik hati ini akan menyatukan kita kembali tanpa merubah perasaan kita masing-masing. Tapi sayang aku rasa kau bukan lah bagian dari takdirku.” Ucap Raina dengan menahan tangisnya.


“Rain…” Lirih Arga.


“Aku ikuti keputusanmu, jika memang kita tak bisa bersama dan harus berakhir. Aku minta maaf dan juga terima kasih Rain... ” Arga berhenti sejenak membuat Raina merasa penasaran dengan apa yang akan di ucapkan Arga selanjutnya.


“Denganmu.. aku semakin paham tidak ada lagi yang aku butuhkan selain kehadiranmu di sisiku. Maaf jika aku tlah menyakitimu. Aku tak akan menyerah untuk mendapatkan kembali hati dan kepercayaanmu.” Tegas Arga penuh penekanan.


“Arga…” lirih Raina.


“Aku akan menyerah jika kau sudah menemukan kebahagiaanmu.” Ucap Arga parau.


Tak kuasa membendung air matanya Raina segera menutup panggilan telfonnya, ia menangis dalam diam agar kakaknya tak mengetahui.


Bagaimana aku akan menemukan kebahagiaan jika bahagiaku adalah bersamamu. Batin Raina.


“Rain..” Teriak Raka dari balik pintu.


Mendengar kakaknya mendekat ia segera masuk ke dalam kamar mandi dan menyalakan air shower agar kakaknya tak mendengar isakan dari tangisnya.


“Aku mau keluar lagi bareng Darrel, kamu gak apa kan di tinggal?” Tanya Raka dari balik pintu.


“Iya, aku gak pa-pa kamu pergi aja.”


"Kamu seperti menangis. kenapa Rain?" Tanya Raka mengetuk pintu kamar mandi.


"Aku baik kak, udah pergi aja."


Raka berlalu meninggalkan kamar Raina.


“Kak…” Teriak Raina kembali membuat Raka menghentikan langkahnya.


“Tolong beliin aku sim card. Aku lupa belum membelinya tadi.” Ucap Raina kembali.


“Cuma itu aja?”


“Iya. Udah itu aja.”


“Ya udah, aku berangkat ya..”


Mendengar pintu yang tertutup Raina mematikan air nya dan ia membasuh wajahnya sebelum keluar dari kamar mandi.


Raina berjalan menuju ranjang, ia membuka koper dan mengganti bajunya dengan yang lebih santai setelah itu ia merebahkan tubuhnya di ranjang.


Kini Kisahnya dengan cowok gak jelas yang hampir memberikan hari-harinya penuh cinta dan warna telah kandas.


.


.


.


.


Maaf-maaf nih awal part kan Raina sama Raka manggilnya lo-gue. Di sini ganti jadi aku-kamu ya, soalnya setahu aku lo-gue adalah kata +62..😅😁 jangan di bully😁


Happy Reading all..


Jangan lupa dukungannya ya😊