RAINA

RAINA
Chapter 74



“Ash Sial..” Umpat Nadine yang gagal mengejar Arga. Jika saja ia tak bertabrakan dengan pelayan tadi pasti sekarang ia bisa menyerahkan rekaman Rangga dan Sindy tadi.


Di dalam kamarnya Nadine terus saja menggenggam ponselnya, ia sangat bingung bagaimana caranya untuk bertemu Arga. Kedua kakinya terus saja melangkah dari kiri ke kanan dan dari kanan ke kiri mondar mandir tak jelas seperti setrikaan.


“Anya.” Ingat Nadine.


“Lo dimana An?” Tanya Nadine ketika samungan telfonnya terhubung.


“…”


“Ke rumah sekarang!, gue tunggu oke.”


Nadine segera menghidupkan laptopnya dan menyalin rekaman dari ponselnya, ia memasukannya ke flashdisc.


Ting.. Tong..


Mendengar bel rumahnya berbunyi Nadine segera keluar kamar dan melihat ke bawah, terlihat Anya yang kini berjalan menaiki anak tangga untuk sampai pada orang yang telah menyuruhnya untuk datang.


"Ada apa? gue mau jalan juga." Tanya Anya pura-pura kesal saat ia sampai berhadapan dengan yang punya rumah.


"Lo tahu cowok ini?" Tanya Nadine menyerahkan ponselnya.


“Arga?” Anya mengernyit heran, sejak kapan Nadine kenal Arga? Pikirnya.


Nadine tersenyum, ia tak salah menyuruh Anya ke rumahnya. cowok yang sering Anya ceritakan pasti Arga yang sama dengan yang ia kenal. ia juga tahu jika Anya begitu tak menyukai Raina tapi ia harus minta tolong padanya demi menebus kesalahannya di masa lalu.


“Lo pasti tau kan alamat Arga? Gue minta.”


"Pasti Arga yang sering lo ceritain itu adalah dia kan? orang yang satu sekolah sama lo dan Raina.”


“Raina? Lo kenal tu cewek Nad?”


Nadine mengangguk tanda meng-iya-kan.


“Buat apa lo tau alamat dia?” Anya menyerahkan ponsel pada sang empunya.


“Penting, gue mau nebus kesalahan gue sama si Rain.”


“Kesalahan?” Tanya Anya begitu penasaran, ia menyimpan tas kecilnya di atas nakas dan duduk di atas tempat tidur Nadine.


“Panjang ceritanya.”


“Ya udah lo ceritain dulu.” Perintahnya.


“Ckk..” Nadine mencebikan bibirnya dan ia pun menceritakan kesalahan yang ia buat pada Raina dari awal ia bisa berteman dengan Raina hingga Raina bisa berubah dalam sekejap padanya.


“Lo serius?”


“Ssttt..Udah sekarang lo kasih tau alamat Arga, atau lo temennin gue ke rumahnya.”


Anya menutup mulutnya dengan kedua tangan.


“Ckk.. lo gak dengerin dari tadi gue ngoceh?”


“Denger, cuman gue gak percaya kalo tuh cewek ampe segitunya, gue aja yang cinta ama si Arga gak gitu-gitu amat.”


“Sekarang lo anter gue ke rumah si Arga, gue mau kasih ini biar tuh cewek nyesel udah berani rebut si Rangga ama malu-malu in gue.”


“Trus gue gimana? Gue cinta sama si Arga Nad. Gue gak mau.”


“Gini kalo misalkan si Arga gak sama si Rain emang dia mau sama lo?”


“Kayaknya enggak sih, soalnya gue dari dulu ngejar juga dia malah menjauh.”


“Ya udah, lebih baik lo cari cowok yang bener-bener sayang sama lo jangan kayak gue. Banyak makan ati, udah ngasih semuanya malah di tinggal juga.”


***


Dalam perjalanan pulang Arga terus saja mengumpat dengan kebodohannya, sesekali ia memukul stir untuk melampiaskan amarahnya.


“Anj**g” Umpatnya keluar dengan keras menutup pintu mobilnya.


“Istighfar woy, di rumah gue gak ada tuh hewan.” Sahut Rico sedang mengurus mesin motornya.


“Diem lo.” Bentak Arga.


“Kenapa lagi si?” Tanya Rizki


“Emang bener licik tuh cewek, Bangs*t.”


“Kenapa? Jadi bener dia yang udah merubah hasilnya?”


Arga terdiam, ia duduk di kursi depan rumah Rizki menopang wajah dengan kedua tangannya. Sesekali rambutnya ia remas kebelakang dengan kuat.


“Gue udah gep-in dia tapi dia malah nantangin gue gob**k.”


“Nantangin gimana maksud lo?” Tanya Rico menyimpan gitar yang ia mainkan mendekati Arga.


“Gue udah denger semua nya dan bodohnya gue gak ngerekam omongan mereka, gimana gue mau buktiin omongannya coba? Yang ada gue malu lagi kayak kemarin.”


“Udah lo sabar aja, gue kan pernah bilang kalo emang lo gak merasa jangan takut. Sekarang ikuti apa maunya tuh cewek, buat dia menderita.”


“Gimana kalo si Raina udah sama cowok lain ki? Gue udah cinta mati sama dia. Gue ngerasa gak guna kalo hidup gue tanpa dia. Kalian ngerti kan?”


Udah terkena virus bucin nih orang, dulu sering ngatain gue bucin, sekarang lo tau rasa kan gimana rasanya? Batin Rizki.


“Trus sekarang lo mau gimana?”


“Gue gak tau, kayaknya emang gue mesti ngerelain si Rain dan hidup dengan cewek brengsek yang sama sekali gak pernah ada di hati gue.” Ucap Arga pasrah.


Rizki dan Rico hanya mengedikan bahu bersama melihat temannya hanya pasrah. Mereka hanya bisa mendo'akan semoga Arga mendapatkan yang terbaik dan bahagia meski tanpa Raina.