
Raina berjalan tak tau mau kemana, melihat kantin yang begitu ramai dengan murid yang bolos dijam pelajaran menjadi enggan kesana, apalagi banyak siswa yang bersiul berusaha untuk menggodanya. Ia pun berbalik arah dan berjalan menaiki anak tangga dan sepertinya ini jalan menuju rooftop sekolah, dulu disekolah asalnya jika saat tak ada guru ia selalu menghabiskan waktunya dengan Nadine atau Rangga.
Nadine Novelia merupakan teman terdekat Raina, orang yang selalu Raina percaya dalam segala hal, namun sayang ia telah menegecewakannya dengan memeberikan luka yang amat dalam dihatinya.
sedangkan Rangga Elang Saputra merupakan mantan kekasihnya, Rangga termasuk siswa terpopuler disekolahnya yang terdahulu.
Raina juga begitu terkenal siswi terpopuler di sekolahnya, bukan hanya populer karena ia cantik dengan wajahnya yang selalu polos tanpa make up, namun ia terkenal dengan kepintarannya dan tak lupa ia merupakan siswi terbaik dalam kepribadiannya. Bagaimana tidak? Ia tak pernah membuat ulah dengan teman sekelas ataupun murid lainnya.
Raina sangat menikamati hari-harinya di sekolah terdahulu, namun karena ada satu alasan, ia menjadi tak ingin bertemu dengan orang yang telah mengecewakannya hingga ia pun lebih memilih menghindr dengan pindah sekolah.
Raina menghela nafasnya dalam, ia duduk di bangku yang sudah tak terpakai, menikmati kesunyian ditambah pemandangan kota dari atas sana tanpa memperdulikan matahari yang sebentar lagi akan menyegat kulit putihnya, hembusan angin kencang menerbangkan rambut panjangnya yang bergelombang. Ia memejamkan matanya hingga sekelebat masa lalu hadir dalam memorinya.
Flashback on
"Rain, gue pulang duluan ya." Tutur Nadine membereskan bukunya, ia memasukan semua buku kedalam tas. "Jangan lupa tugas gue lo kerjain ya!! gue gak bisa soalnya" Sambungnya mengingatkan Raina tentang tugas yang hendak dikumpulkan besok, dengan tergesa Nadine keluar kelas meninggalkan Raina sendirian.
Raina sudah biasa mengerjakan tugas sahabat maupun kekasihnya, tentu saja karena ia adalah orang baik yang tak pernah mempermasalahkan apapun, saking baiknya teman sekelasnya sering sekali meminta bantuannya untuk mengerjakan tugas ataupun menjelaskan materi yang mereka tak mengerti.
"Ga, aku udah siap nih." Ucap Raina menghubungi Rangga melalui ponselnya, karena seperti biasa jika bubar sekolah ia selalu di hampiri Rangga dan mereka pulang bersama.
"Honey sorry banget, aku ada janji sama temen aku, gak apa kan kalo kamu pulang sendiri? atau kamu hubungi supir kamu aja!!. Jawab Rangga dibalik telfonnya.
"Ohh.. ya udah gak pa-pa. Aku hubungi pak Anton aja biar dia jemput aku" Dengan tersenyum getir Raina menjawab, terlihat jelas jika saat ini dirinya sangat kecewa, karena sudah seminggu lebih Rangga selalu banyak alasan dan ia seperti menjauh. Biasanya Rangga selalu memberi kabar dulu jika ia pulang duluan, sehingga Raina tak harus menunggu lama.
"Maaf ya honey." Rangga meminta maaf seolah ia sangat menyesal.
"Iya... gak pa-pa kok." Jawab Raina dengan membenarkan kaca mata tebalnya.
***
"Dimana ya bukunya??" Gumam Raina berdiri di depan lemari bukunya, ia harus segera mengumpulkan buku-bukunya sekarang karena ia akan mengerjakan tugasnya dan juga Nadine.
"Mbak Liat buku pelajaran biologi aku gak?" Teriak Raina dari dalam kamar pada mbak Ana yang bekerja sebagai ART di rumahnya.
"Buku yang mana non?" Seru Mbak Ana menghampiri kamar Raina karena kebetulan ia sedang menyapu lantai atas dimana kamar Raina berada.
"Apa tertinggal di rumah Nadine ya? Soalnya waktu itu aku pulang terburu-buru. Aku coba cek dulu aja deh." Gumam Raina sambil mengingat-ingat dan membereskan kembali buku yang berserakan karena ulahnya.
Raina mencoba menghubungi Nadine saat ia dalam perjalanan menuju rumahnya diantar Pak Anton, Sudah beberapa kali panggilan tak juga tersambung, saat sudah samapi di komplek perumahannya, ia tak sengaja melihat motor Ninja milik Rangga terparkir rapi di samping rumah Nadine.
Mungkin itu hanya motor yang sama. pikirnya karena ia hanya melihat sekilas dan motor tersebut seperti tersembunyi.
"Sore mbak." Sapa Raina ketika pintu terbuka.
"Sore non Rain, Non Nadine lagi dikamar sama temennya."
Setelah di persilahkan masuk oleh ART Nadine, ia pun masuk kedalam rumah, ia tak berteriak memanggil namanya karena kata ART Nadine bilang jika Nona majikannya sedang berada dikamar bersama temannya, Raina sempat berfikir siapa teman Nadine yang dimaksud mbak ART, karena Raina tahu siapa saja teman Ndine, baik itu teman lelaki atau perempuan. Tanpa pikir panjang Raina pun menaiki anak tangga satu persatu dengan santai karena kamar nadine berada di lantai dua, dimana hanya ada kamar Nadine dan juga ruang bersantai keluarganya disana.
"Aakhhh.."
"Aakhhh.."
"Eemmssphh"
Saat tangannya akan memegang Handle pintu, tak sengaja Raina mendengar suara aneh dari dalam kamar Nadine
"Akhhhshh"
"Emmpshh" Suara aneh itu kembali terdengar, Raina mencoba menempelkan daun telinganya pada pintu, berusaha untuk lebih dekat mendengar dengan lebih jelas, takutnya ia salah dengar. Namun saat ia akan mendengarkan dengan seksama, ia sama sekali tak bisa mendengar kembali suara aneh itu karena sudah tergantikan dengan suara musik yang begitu keras menggema memenuhi kamar Nadine bahkan mungkin sampai kebawah.
Mungkin Nadine sedang olah raga, atau jangan-jangan?? dia sedang nonton film???. Pikir Raina negatif karena ia sering mendengar teman-teman sekelasnya membicarakan film-film yang disangkut pautkan dengan warna biru.
Tangan kanan Raina menarik handle pintu berwarna perak dan didorongnya pintu tersebut berniat untuk mengagetkan dan menangkap basah temannya jika benar sedang menonton film, Pintu kamar ber-cat pink itu terbuka lebar menampakan sepasang manusia yang sedang bergulat untuk mencari kesenangan.
Tubuhnya mematung seketika dengan mata membulat lebar seakan-akan hendak keluar, ia di buat terkejut saat matanya menangkap basah Rangga yang notabene sebagai kekasihnya sedang diduduki oleh Nadine teman terdekatnya, bahkan ia sudah menganggapnya sebagia saudara. Terlihat Nadine menaik turunkan pinggulnya dengan wajah mendongak keatas, matanya terpejam menikmati apa yang ia lakukan, baju seragamnya terbuka lebar menampakan tubuh bagian atasnya karena Rangga sedang asyik memainkan dan menghisap gundukan dada Nadine secara bergantian.
Raina bergeming, kakinya seolah mati rasa tak dapat ia angkat untuk dibawa berjalan, hatinya menjerit kesakitan namun mulutnya tertutup rapat seolah-olah bibirnya ia lem dengan perekat, jantungnya berpacu dengan cepat, tangannya hanya bisa menopang tubuhnya agar tak terjatuh.
Sungguh... entah karena apa ia hanya bisa diam menyaksikan perbuatan menjijikan itu. Kini mata suci yang selalu Raina jaga sekarang sudah ternodai gara-gara Nadine dan juga kekasihnya.