
“Rain..” Panggil seorang lelaki menghampirinya ketika ia selesai kelas.
“Ngapain kamu?” Tanya Raina ketika si lelaki sudah di dekatnya.
"Aku duluan ya Rain." Ucap teman baru Raina.
Raina mengangguk dengan memberikan senyuman manisnya.
“Masih ada kelas gak?”
“Enggak.”
“Ya udah kita langsung pulang aja, aku udah bilang sama kakak kamu.” Darrel menarik tangan Raina dan mengajaknya untuk lebih mengenal kota yang sekarang ia tinggali.
“Aku bisa buka sendiri Rel.”
“Udah masuk aja!.” Perintah Darrel mendorong tubuh Raina agar segera masuk ke dalam mobil.
Darrel segera berlari ke pintu yang satunya dan segera duduk di kursi kemudi.
“Mau kemana kita?” Tanya Raina setelah ia memakai sabuk pengamannya.
“Keliling aja, aku ajak kamu ke coffe shop yang terkenal di sekitar sini.”
Tak lama, karena tempat yang mereka datangi tak begitu jauh hingga mereka pun sampai dengan cepat. Raina melihat begitu banyak yang antri untuk masuk ke dalam coffe shop yang mereka datangi.
“Di sini kue dan kopinya enak, kamu harus cobain.” Ucap Darrel saat dirinya sedang berbaris antri.
Tatapan Raina bertemu dengan barista cantik yang sedang meracik kopi, ia tersenyum ke arahnya membuat Raina menengok ke belakang takut salah orang, namun ternyata wanita tetsebut benar-benar senyum padanya membuat Raina pun menyunggingkan bibirnya ke atas membentuk sebuah senyuman manis nan indah.
“Hai Rel, Hai..” Sapa barista cantik tersebut pada Raina dan juga Darrel ketika giliran mereka yang pesan.
“Cantik.” Ucapnya kembali menatap Raina.
“Hati-hati dengannya! ” Ujar barista cantik sedikit membungkukan setengah badan untuk bisa berbisik pada Raina.
“Aku dengar Al..”
Wanita cantik tersebut hanya terkekeh.
“Aku Aleta.. Kakaknya lelaki yang ada di sampingmu.”
Raina menatap kembali pada Darrel, dan tersenyum kembali pada Aleta.
“Raina kak.” Ucapnya memperkenalkan diri.
Ia pun segera berjongkok dan mengambil gambar dua burung kecil yang sedang hinggap di atas pagar seperti sedang menari senang karena cinta yang mereka punya, Darrel yakin ke dua burung itu adalah pasangan karena jika yang satu berjalan dan yang satunya mengikuti, setelah mendapat gambar bagus ia mengecek du kameranya dan tersenyum melihat hasilnya yang begitu cantik. Dan ia pun segera mengarahkan kamera pada Raina yang sedang duduk di tangga dengan mengeluarkan sebuah buku.
Sikap Raina begitu menggemaskan meski kadang wanita itu sering membuatnya kesal karena terlalu manja dengan Raka, padahal ia sedang mencoba untuk mendekatinya. Raina memang berbeda dengan wanita yang pernah Darrel temui sebelumnya. Untungnya dirinya sedang jomblo jadi Raka tak pernah masalah jika ia mendekati adiknya.
Merasa ada yang memperhatikannya, Raina mendongak setelah Darrel memalingkan wajahnya dan segera mengarahkan kamera nya pada arah lain agar Raina tak curiga. Senyumnya mengembang kembali melihat hasil fotonya. Raina begitu manis semanis gula bahkan semanis madu membuatnya merasa tak ingin jauh darinya. Bagaikan semut yang selalu mencari gula. Meski dengan riasan tipis tapi ia begitu cantik melebihi model papan atas di negaranya.
“Ngapain?” Tanya Darrel duduk di sebelah Raina.
“Baca buku aja.”
“Tiap aku liat kamu tuh baca buku terus.”
“Trus aku harus gimana? Harus ngobrol terus sama kamu?” Raina mencebikan bibirnya.
“Kamu kesel terus kalo sama aku, hati-hati nanti jatuh cinta sama aku.”
Darrel memalingkan wajahnya ketika Raina menatapnya tajam, Raina kembali melihat buku di atas pahanya. Ia kembali teringat dengan Arga, waktu itu juga ia sering kesal dengannya dan sekarang ia tak bisa melepaskan cintanya untuk Arga.
Buku yang ia pegang pun di tutupnya segera di masukan ke dalam ranselnya, ia beranjak berdiri di ikuti Darrel.
“Mau kemana?”
“Pulang.”
“Kamu marah Rain? Aku cuma becanda.” Ucap Darrel merasa perubahan dari wajah Raina.
“Enggak.”
“Trus kenapa tiba-tiba pulang?”
“Aku mau pulang aja.”
Raina mengambil cup berisi sisa kopi alpukatnya, ia berjalan meninggalkan Darrel yang hanya mematung, entah apa yang ada dalam pikiran lelaki tersebut.
"Mau sampai kapan kamu diam di situ?" Tanya Raina setelah ia membuang cup ke tempat sampah.
Setelah tersadar Darrel segera mengejar langkah Raina, ia pun mensejajarkan tubuhnya dengan Raina.
Apa ia marah dengan candaanku tadi? Pikir Darrel melihat tingkah Raina yang berubah.
Sebelum pulang Raina tersenyum terlebih dahulu pada Aleta yang masih berkutat dengan kesibukannya dan mereka pun segera pulang karena Raina benar-benar sudah berubah moodnya. Darrel hanya diam karena takut salah dalam berbicara.