
Raina termenung melihat rumah Abi dan Nisa yang jauh dari kata layak, menurut Raina ini bukan rumah namun sebuah gubuk. saat berjalan menuju rumah Abi ia melihat rumah sebelumnya masih terbilang layak namun kenapa rumah Abi sperti ini? bahkan banyak sekali botol bekas menumpuk di luar.
"Ayo kak masuk." Nisa menarik tangan Raina.
Mereka masuk kedalam rumah, rumahnya tak ada atap sama sekali, mungkin jika hujan bisa bocor, hanya ada 3 ruangan di dalamnya yang terlihat sempit dan ruangan tersebut hanya terhalang oleh kain lusuh, bahkan lantainya saja beralaskan tanah.
"Kakak ingin ke toilet." Ujar Raina setelah ia masuk kedalam rumah karena ia tak melihat toilet di rumahnya.
Abi yang sedang menggelar tikar langsung memberhentikan kegiatannya.
"Toiletnya agak jauh kak, kita harus jalan kaki." Tutur Abi melanjutkan menggelar tikarnya.
"Jalan kaki?" Raina mengerutkan kedua alisnya.
"Iya, karena toilet umum kak." Timpal Nisa membawa 2 gelas air putih yang ia letakan di tikar.
"Mari pak, kak di minum dulu." Abi mempersilahkan Raina dan Pak Anton untuk meminum air yang telah di suguhkannya.
"Terima kasih." Jawab Raina dan Pak Anton bersamaan, mereka meneguk sedikit airnya.
"Abi, ibu kalian kemana?" Raina sama sekali tak melihat ibu Abi dan Nisa, padahal ia mempunyai bayi. bukankah seharusnya berada di rumahnya.
"Mungkin ibu sedang mencuci baju di rumah tetangga kak."
"Bukankah kalian punya adik bayi?"
"Di bawa kerja sama ibu kak."
"Assalamualaikum." Sapa wanita menggendong bayi masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam." Balasnya bersamaan.
"Siapa ini?" Ujar wanita tersebut pada Raina dan Pak Anton.
"Saya Ina ibunya Abi dan Anisa." wanita tersebut tersenyum melihat sikap sopan dari Raina.
"Terima kasih sudah mau mampir ke rumah kami yang begini."
"Sama-sama bu, saya hanya ingin mengenal keluarga Abi dan Nisa."
Karena asyik bercanda Raina tak sadar ternyata hari sudah hampir petang, Raina segera pamit pada Ibu Ina, niatnya ia ingin menunggu ayah Abi namun karena belum datang juga akhirnya Raina pulang karena tak mungkin menunggu terus.
"Permisi." Raina berjalan di ikuti oleh pak Anton, mereka melewati kumpulan ibu-ibu yang sedang bergurau.
Ibu-ibu yang melihat Raina hanya memberikan senyuman mereka, tak menyangka ada gadis cantik di sekitaran kompleknya.
"Non Capek?" Pak Anton memberikan botol air mineral pada Raina.
"Terima kasih pak." Raina mengambil botol tersebut dan meminumnya.
Raina kembali melanjutkan jalannya, rumah Abi ternyata sangat jauh dari jalan raya hingga mengharuskan Raina berjalan kaki begitu jauh.
"Akhirnya sampe juga." Ujar Raina masuk ke dalam mobilnya.
Raina terdiam melihat padatnya antrian kendaraan yang terhenti di traffic light, sorot matanya tertuju pada pengendara motor yang berhenti di samping mobinya.
"Perasaan kemarin bukan itu ceweknya. Dasar cowok, liat yang bening dikit yang lama di tinggal." Gumamnya saat melihat laki-laki pengendara motor tersebut di peluk mesra oleh wanita.
Saat Raina sedang melihatnya, pengendara motor tersebut menoleh ke arahnya.
"Rain." Gumamnya.
Raina segera memalingkan wajahnya, melihat wajahnya ia menjadi kembali kesal, mobilnya kembali melaju dan ia melihat ke arah belakang.
Jangan lupa beri like dan komentar kakak Readers ; )