
"Kamu kenapa Rain?" Tanya Sandi melihat plaster di kening Raina.
"Gak kenapa-napa." Ujar Raina mengeluarkan peralatan menulisnya.
"San, kalo aku minta anter jemput selama 3 hari kamu mau gak?" Tanya Raina.
Sandi tersenyum dan mengangguk antusias, siapa yang tak mau berduan terus bersama wanita cantik seperti Raina.
"Itu leher lo kenapa ada bekas merah."
Raina kembali menutupi lehernya, ia mengambil pondation dalam tas dan pergi menuju toilet. Raina segera mengoleskan pondation di lehernya supaya menyamarkan bekas merah tersebut.
"Rain, kamu beneran gak papa?" Tanya Sandi melihat Raina keluar dari toilet dan terlihat matanya sembab.
"Kamu habis nangis?"
"Enggak." Raina menggeleng dan berjalan cepat menuju rooftop, ia sungguh benci pada Rangga, bisa-bisa ia melakukan hal yang tidak pantas.
"Rain." Teriak Sandi.
Arga berpapasan dengan Raina namun ia hanya membiarkannya, Rico langsung menyeret Sandi ke dalam kelas dan tentu membuatnya ketakutan.
"Lo apain si Rain heh?" Ujar Rico mendudukan Sandi di kursinya.
"Ee.. enggak ngapa-ngapain, cuma nanya dia kenapa karena ada plaster dan juga bekas kemerahan di lehernya, aku takut dia sakit." Sandi terbata-bata ketika Rico mencengkram kerah seragamnya.
"Jangan banyak tanya sama dia!!" Ujar Rico melepaskan cengkraman tangannya.
"Bba..baik." Sandi mengangguk.
Raina kembali masuk ke dalam kelas ketika bel berbunyi, Sandi hanya diam saja, bibirnya terasa gatal ingin tahu namun ketika melihat tatapan Arga, Rico dan Rizki nyalinya menciut.
Pelajaran pertama pun selesai, Raina hanya diam dan ia minta Sandi untuk membelikan air mineral, Sandi hanya menurutinya.
Arga dan yang lainnya keluar, ia tahu Raina masih merasa takut dengan kejadian kemarin, Rico dan Rizki yang sudah mengetahui semuanya pun tak berani mengganggu Raina.
***
"Ayo Rain." Ujar Sandi memberikan helmnya pada Raina.
Sania teman yang biasa pulang dan pergi bareng Sandi memberengut, ia menatap sinis Raina seolah.
"Gue minta jemput mang Didi saja." Raina kembali memberikan helm nya pada Sandi.
"Lo gak usah liat gue gitu, tuh gue gak jadi pulang bareng pacar lo." Ujar Raina pada Sania.
"Dia bukan pacar aku Rain." Sandi kesal pada Raina.
"Hehe Udah sana kalian pulang, ingat ya langsung pulang." Raina tersenyum menggoda Sandi dan Sania.
"ya udah, kita balik duluan ya."
Mereka pun pergi meninggalkan Raina sendiri, Raina mengeluarkan ponselnya, ia duduk di bangku dekat pos satpam.
"Mang, jemput Raina bisa?"
"…"
"Raina takut ahh, pake motor aja gak papa kok."
"…"
"Ishh aku bilangin papa ya, ya udah iya, Raina naik taxi aja."
Raina memberengut, dari kemarin sial terus lagi-lagi dirinya kesiangan karena tak bisa tidur memikirkan kejadian kemarin bersama Arga, tanpa sadar pipinya merona.
"Kalo enggak sama gue Rain, gue jomblo gak akan ada yang marah." Ujar rico tersenyum menggoda.
Cintya yang dalam boncengan Rizki hanya mencebikan bibirnya, pantas saja Arga tak mau bersamanya ternyata karena ia ingin bersama Raina.
"Enggak." Raina hanya memutar kedua bola matanya melihat senyum Rico yang menggelikan.
"Ya udah, gue bilang bokap lo ya biar dia tahu." Arga yakin Raina tak menceritakan kejadian kemarin pada Papanya.
"Ishhh.. bisa gak usah ngancem dehh.." Raina beranjak berdiri dan naik ke atas motor Arga, ia memakai helm nya dan langsung menyimpan tas ranselnya di depan.
"Kalian duluan, nanti gue nyusul." Arga berkata pada teman-temannya.
Tak ada percakapan di antara Arga dan Raina.
"Pegangan Rain!!" Titah Arga.
Raina memegang bahu Arga.
"Lo kira gue ojek." Arga menggedikan bahunya Arga tangan Raina terlepas, Raina hanya tersenyum.
Arga menarik tangan Raina dan menempelah tubuh Raina di punggung Arga, Raina hendak menolak namun tangannya di pegang oleh Arga.
"Lepas ish.." Raina memukul punggung Arga menggunakan tangannya yang bebas.
"Ya udah." Arga melepaskan tanga Raina namun ia dengan sengaja menancap gas motornya hingga Raina memeluk Arga.
Arga tersenyum puas, ia langsung memegang kedua tangan Raina agar tak terlepas dari perutnya.
Raina mencebikan bibirnya kesal, karena tangannya di pegang kuat oleh Arga ia hanya pasrah, tohh hanya memeluknya tidak lebih.
Selama perjalanan Arga dengan sengaja melambatkan laju motornya.
"Motor lo kayak siput, lambat." Umpat Raina dengan tangannya berusaha untuk lepas dari pegangan Arga.
"Diem!! kalo kita celaka gue gak bakal tanggung jawab." Ujar Arga nyengir kuda, kapan lagi ia bisa menaklukan cewek sombong ini, pikirnya.
Raina menjadi bungkam ketika Arga mengingatkan tengang kecelakaan, Raina bergidik ngeri..
Raina melihat jam di pergelangan tangannya, Perjalanan yang biasanya hanya di tempuh 30 menit sekarang menjadi 55 menit, ia memutar kedua bola matanya dan membuang muka ketika Arga tersenyum merekah dengan pesonanya.
"Gue gak mau kenapa-napa, ada pepatah bilang alon-alon asal kklakon."
"Whatever, pulang gih !! Ngapain lo masih di sini?"
"Ya nungguin lo masuk lah, lo sendiri ngapain di sini?"
Raina langsung memutar tubuhnya berlalu meninggalkan Arga.
"Gue kira lo bakal nyuruh gue mampir sebagai tanda terima kasih."
Raina tersenyum, ia berbalik badan dan melihat Arga tersenyum, terlihat sekali jika Arga mengharapkan Raina berterima kasih dan mengajaknya mampir.
Duagaan Arga meleset, ternyata Raina berbalik hanya untuk menunggu ia ART nya masuk bersama.
Raina menjulurkan lidahnya dan masuk bersama mbak Ana, Arga hanya tersenyum simpul, Raina terlihat manis kali ini, biasanya ia hanya diam tak berekspresi.
siapa tau ada yang ingin tau sandi sama sania.