RAINA

RAINA
Chapter 89



Arga menyandarkan dirinya pada pagar pembatas balkon, menikmati hari yang mulai menggelap, lampu-lampu mulai menyala terang membuat malam kian indah dengan salju yang berjatuhan menambah kesan romantis. Matanya mengarah pada menara eiffel yang menjadi ikon kota paris.


“Apa tujuanmu datang kesini?” Tanya Raina menyandarkan punggungnya di pintu kaca menatap punggung Arga dengan membawa dua cangkir yang berisi coklat dan juga kopi panas.


“Rupanya aku terlambat.” Ucapnya tanpa menoleh kebelakang.


Alis Raina mengernyit, ia menyimpan kopi untuk Arga di meja kecil sedangkan dirinya duduk di kursi santai sembari menangkup cangkir yang berisi coklat panas mencoba untuk memberikan sedikit kehangatan pada tubuhnya.


“Apa kamu sudah bahagia dengannya Rain?” Tanya Arga membalikan badan.


Kini Raina tahu maksud Arga, mungkin Arga salah paham ketika dirinya bersama Darrel tadi. Hening... Tak ada jawaban dari Raina.


“Sepertinya kamu tak ingin bicara denganku.” Arga mengambil cangkir kopi dimeja dan menyesapnya perlahan sembari mengamati wajah Raina yang terlihat enggan menatap ke arahnya dan tak banyak bicara.


“Lebih baik cepat katakan apa tujuanmu dan segera pergi!!.” Tutur Raina memalingkan wajah dengan meninggalkan Arga masuk kedalam dan kembali duduk di sofa depan tv lalu menyalakannya untuk menghilangkan kecanggungan.


“Apa ini?” Raina mendongak dengan kening berkerut melihat Arga menyodorkan sepucuk surat dan flashdisc padanya ketiak ia berusaha fokus pada siaran televisi.


“Aku hanya ingin memberikan ini.” Seru Arga. “Ini dari Nadine, dia datang pada Dhafin dan menitipkan ini, dan sekarang aku berikan padamu.” Arga menyimpan surat serta flashdisc diatas meja.


“Baiklah, sepertinya aku harus segera pergi dan terima kasih atas kopinya.” Arga tersenyum dan berbalik.


“Arga..” Panggil Raina membuat langkahnya terhenti.


“Aku sudah berhenti mencintaimu dan aku juga sudah menemukan kebahagiaanku, semoga kamu segera menemukan kebahagiaanmu. Aku mohon berhentilah menghubungiku!!” Ucapnya tanpa melihat Arga yang diam mematung dengan mengepalkan kedua tangannya.


Satu sudut bibirnya terangkat, entah mengapa ia merasa kesal dengan perkataan Raina.


“Aku tak akan pernah berhenti mencintaimu Rain..” Ucapnya tertahan membuat Raina mengalihkan pandangannya menatap punggung Arga. “Tapi.. Aku akan berhenti menunjukannya.” Sambungnya melangkah pergi meninggalkan Raina yang diam seribu bahasa.


Saat suara pintu tertutup, tangannya meraih amplop pink yang tergeletak di atas meja, ia membukanya dan mengeluarkan selembar kertas putih.


Dear Raina, sahabat gue atau lebih tepatnya mantan sahabat terbaik gue :)


Kalo lo udah baca surat ini, itu tandanya Arga dan semua keluarganya sudah tau isi dari flashdisc yang gue kasih pada kak Dhafin. Maaf jika gue udah berani ikut campur urusan lo, dan gue juga mau minta maaf karena keegoisan gue persahabatan kita rusak, Rain... Gue gak pernah berharap bisa jadi temen baik lo lagi, tapi jujur gue sangat berharap maaf dari lo.


Nadine.


Raina melipat kertas tersebut dan memasukannya kembali ke dalam amplop, ia sedikit tak mengerti dengan maksud Nadine yang menyatakan jika Arga dan keluarganya sudah tau isi dalam flashdisc.


“Emang apa isinya ini?” Heran Raina mengamati benda kecil itu.


Dengan rasa penasaran yang tinggi Raina mengambil laptop di dalam kamarnya dan segera membuka isi flashdisc.


Tercengang..


Terkejut..


"Lo jahat Rangga, gue kira lo udah berubah." Geram Raina menutup laptopnya keras.


“Mau kemana Rain?” Darrel dan Adrian yang baru masuk terkejut melihat Raina berlari dari dalam kamarnya keluar dari apartemen begitu saja.


“Raina..” Panggil Adrian.


“Aku ingin bertemu dengan Arga pa, sebentar…” Teriak Raina di balik pintu saat ia mendengar suara Adrian memanggilnya.


“Di luar dingin.…” belum selesai Adrian bicara Raina sudah keluar begitu saja tanpa memakai mantel ataupun jaket untuk menghangati tubuhnya.


Darrel yang belum mengerti bahasa indonesia bertanya pada Adrian mengenai Raina yang pergi begitu saja, karena merasa khawatir ia segera menyusulnya. Pasti Raina sudah di lantai dasar pikirnya.


Raina berlari menuju lantai dasar melewati tangga darurat karena tak sabar dengan pintu lift yang tak kunjung terbuka.


“Aaaaaakkkhhh” pekik Raina saat ia tergelincir dan nyaris terjatuh jika saja ia tak berpegangan kuat pada pagar sisi tangga.


“Sakittt…” Isaknya duduk di anak tangga mengusap kaki yang keseleo.


Tangannya sibuk mencari ponsel, ia merutuki kebodohannya yang tak memakai mantel hingga ia melupakan ponsel yang tersimpan di saku mantelnya.


Di loby Darrel Tak sengaja bertemu dengan Raka yang baru masuk bersama Abiela.


“Ke arah mana Raina lari?” Raka tak mengerti dengan pertanyaan Darrel.


“Raina pergi begitu saja saat aku dengan om Adrian kembali.”


“Kami tak melihat Raina.” kata Abiela.


kepanikan Raka menjadi saat mendengar Raina pergi menyusul Arga yang entah pergi kemana tanpa memakai mantel dan membawa ponsel hingga mereka memutuskan untuk berpencar, Darrel di tugaskan Raka untuk menelusuri tangga darurat sedangkan Raka dan Abiela akan menyusulnya naik lewat lift siapa tahu Raina kembali ke atas atau berada di rooftop.


Insting Raka benar, Darrel melihat Raina duduk meringkuk dengan tubuh bergetar, marah dan kesal yang ia rasakan pertama kali melihatnya.


“Rain…” Darrel datang melihat tubuh Raina yang duduk dengan terisak kecil menahan sakit di kakinya.


“Rel..” Raina mendongakan wajahnya melihat Darrel yang mentapnya tajam.


“Apa yang dia lakukan padamu HAh???” Bentak Darrel geram melihat Raina mengeluarkan air mata kesakitan dengan memegang bahu Raina.


Raina menggeleng.


“Kakiku sakit…” Lirihnya memegang kaki kanannya.


Darrel melihat ke arah tangan Raina, ia melihat kaki kanan Raina yang mulai membengkak.


Kedua tangan Raina melingkar erat di lehermya saat tiba-tiba saja Darrel menggendongnya, “Sudahlah jangan menangis, aku akan menyembuhkan lukamu.” Ucapnya melangkah naik.