RAINA

RAINA
Chapter 61



Raina turun dari dalam mobil mengenakan kebaya biru berbahu tansparan dengan ornamen brokat timbul di padukan dengan rok yang senada. Wajahnya yang cantik semakin mempesona dengan riasan natural dan rambut yang ia sanggul sederhana. Raina berjalan sejajar dengan Adrian memasuki ruang aula dimana acara akan di selenggarakan. bibir mereka terus terangkat ketika banyak yang menyapanya.


Pandangan matanya mengedar seluruh ruang aula untuk menemukan Arga, Raina duduk di kursi yang terpisah dengan Adrian dan orang tua lainnya.


“Rain.. lo cantik banget.” Puji Rizki dan Rico duduk di sebelah kiri dan kanan Raina.


“Cintya mana?” Tanya Raina tak melihatnya.


“Bentar lagi juga datang.” Ujar Rizki.


Tak lama yang di bicarakanpun datang dan segera duduk di sebelah Rizki. Penampilan Cintya tak kalah menarik dari Raina hingga banyak mata yang melihat ke arah mereka.


Raina melihat Anya yang datang bersama orang tuanya dan ia segera duduk bersama para dayangnya. Senyum sinis selalu Anya berikan pada Raina, dan Raina tak kalah sinis membalas senyuman Anya.


“Kok Arga belum datang? Padahal acara segera di mulai ini.” Ucap Raina cemas, bagaimana tak cemas semalam ia di beritahukan Rizki bahwa Arga kembali ke rumah Neneknya.


“Tadi sih gue telfon katanya lagi siap-siap.” Sahut Rico.


Acara pun di mulai dan tanpa terasa acara sudah berada penghujung lagi namun Raina tak kunjung melihat Arga datang, Adrian menghampiri Raina yang dari tadi duduk sembari meremas ponselnya.


“Ayo pulang sayang.”


“Papa duluan aja ya, aku masih ada acara bersama yang lain.”


“Iya om, kami akan mengadakan acara kecil di rumah.” timpal Rizki.


Raina tersenyum.


“Ya udah papa duluan, kamu telfon pak Anton saja nanti.”


Raina mengangguk dan mencium punggung tangan Adrian di ikuti oleh teman-temannya.


“Emang acara apa Rain?” Tanya Sandi ketika Adrian sudah pergi.


“Sin lo bawa mobil?” Raina tak membalas ucapan Sandi.


“Bawa, emang mau kemana sih kita?”


“Gue pinjem.” Raina menengadahkan tangannya meminta kunci mobil Cintya.


“Gue duluan.” Imbuh Raina berlari meninggalkan teman-temannya setelah Cintya memberikan kunci mobilnya.


“Rain tunggu…” Sahut Rico hendak mengejar Raina namun di tahan oleh Rizki.


“Biarin aja. Nanti kita telfon kalo si Raina gak ada kabar dalam satu jam.” imbuh Cintya.


Jas yang di pakai Arga sudah berantakan serta wajah yang sedikit lebam, Raina yakin jika Arga memang hendak berangkat ke acara perpisahan namun terhalang karena kehadiran Dhafin.


“Papa gak mau tau, kamu harus tanggung jawab atas perbuatanmu!!” Ucap Bagas tegas sembari melempar amplop coklat ke muka Arga.


“Saya sudah bilang dari semalam, bahwa bukan saya pelakunya!”


“Mana ada maling ngaku? Semua jelas terbukti dari hasil foto itu.” Timpal Dhafin.


“Diam brengsek.!!” Bentak Arga murka memukul kembali Dhafin.


“HENTIKANN.” Teriak Bagas.


Tubuh Raina mematung menyaksikan pertengkaran mereka, dan pikirannya melayang dengan apa yang telah Arga lakukan hingga ada bukti foto?


“Jangan buat malu papa Arga!”


“Saya katakan sekali lagi bukan saya pelakunya.”


“Papa tak mau tahu kamu harus menikahinya karena ia sedang mengandung, ayahnya terus saja menekan keluarga kita.”


Bagai petir di siang bolong Raina tertunduk lesu, hatinya remuk redam mendengar perkataan Bagaskara barusan. tubuhnya merosot dan bulir bening mengalir begitu saja dari kelopak matanya, kedua tangannya menahan mulut agar tak mengeluarkan suara.


“Kalian percaya begitu saja? Saya sama sekali tak pernah melakukannya.” Sanggah Arga.


“Tapi foto kalian tidur bersama itu membuktikan semuanya.” imbuh Dhafin.


“Diam lo brengsek. Kalian semua tak pernah mengerti saya, sekali lagi saya tekankan bukan saya pelakunya, dan buat lo.. bukankah lo adalah anak kesayangannya? Kenapa bukan lo yang berkorban buat keluarga? Kalian semua brengsek.”


PLLAAKKKK


“Anda menampar saya lagi?” Tanya Arga di selingi tawa hambar.


“Maaf kan papa Arga.” Ucap Bagas memyesal.


“Tidak cukupkah anda membuang saya? Tidak cukupkah anda menyakiti kami? Gara-gara kalian mama meninggal, apakah kalian tak sadar akan itu?”


“Ibumu meninggal karena kemauannya Arga, papa tak pernah membuangmu.”


“Dengan anda membawa mereka ke rumah itu sama saja anda membuang kami, hidup mama hancur setelah anda membawa mereka, tak cukupkah kalian merusak kebahagian saya hah???” Ucap Arga dengan nada tinggi.


Raina termenung dengan perkataan mereka, ia segera bangkit dan menutup pintunya dengan sempurna, kini ia mengerti kenapa mereka tak pernah akur, Raina menghapus air matanya dan mebalikan badan, tubuhnya kembali mematung melihat perempuan yang baru ia kenal berdiri di hadapannya.


Jangan lupa dukungannya😁