RAINA

RAINA
Chapter 97



Raina keluar rumah dengan mengenakan mini dress tanpa lengan, sneaker putih andalannya terpakai untuk melindungi kakinya. Dibalik helmnya Abi tersenyum melihat Raina yang kian mendekat kearahnya.



Tak ada yang berubah dari kakaknya, wajahnya yang manis namun akan terlihat judes bagi yang tak mengenalnya, kulitnya putih mulus tak seperti kebanyakan wanita Indonesia pada umumnya, siapapun akan mengira jika Raina bukanlah orang Indonesia asli, ditambah body goalsnya begitu sempurna.


Abi jadi berandai, Andai saja ia pria seumuran dengan Raina pasti ia akan jatuh cinta padanya.


“Hey.. Kelamaan ya? Maaf ya soalnya si Aksa tadi kekeh mau ikut.” Ucap Raina menyadarkan Abi dari lamunannya, Raina menerima helm dari tangan Abi.


“Gak apa-apa kak.” Jawab Abi, Abi sempat ikut masuk kerumah Raina untuk menengok kembali keadaan Adrian, namun saat Aksa memaksa ingin ikut, Abi segera keluar untuk menunggunya di luar gerbang rumah, itupun atas perintah Raina.


Setelah Raina siap diatas motornya, Abi segera menarik tuas gas motor, dengan kecepatan sedang motornya melaju menuju cafe yang telah di share lokasinya oleh Sandi.


Jalanan sore di ibu kota begitu padat dan ramai dengan lalu lalang para pekerja yang keluar meninggalkan pekerjaannya. Setelah 30 menit mereka pun sampai, Abi memarkirkan motornya dan Raina pun turun.


“Makasih ya.” Ucap Raina memberikan helmnya dan berlalu meningglkan Abi diparkiran.


“Kok kamu ikut turun juga?” Tanya Raina saat Abi membuka helmnya dan ikut turun dari atas motornya.


“Aku kan kerja disini kak.” Jawabnya santai,


Abi berjalan menarik tangan Raina yang sedikit terkejut masuk kedalam cafe. Membuat semua mata pengunjung pria menatap iri padanya, begitupun dengan para fans Abi yang kecewa karena waiters tampan kesayangannya menggandeng wanita.


“Untung aja ada kakak, kalo enggak..” Seru Abi melepaskan tangan Raina saat ia sampai di depan pintu khusus karyawan.


“Kenapa?” Tanya Raina penasaran karena Abi tak melanjutkan perkataannya.


“Tidak.”


“Itu karena Abi banyak fans ceweknya, makanya jaga baik-baik cowoknya biar gak direbut orang!” Celetuk teman Abi yang baru keluar setelah berganti baju memakai pakaian khusus karyawan.


"mftttss ..ffttsst.. ” Abi dan Raina menahan tawa, karena tak kuat merekapun tertawa bersama, Raina menahan perutnya yang sakit karena tertawa.


“Pada kenapa sih? Pasangan aneh.” Tuturnya berlalu.


“Ya udah kak, maaf udah merepotkan kakak. Aku kerja dulu ya.” Tukas Abi dengan menahan tawanya.


Raina masih belum bisa menghentikan tawanya, namun karena tersadar akan beberapa mata menatap kearahnya ia pun segera menghentikan tawanya. Ia segera merogoh tas slempangnya untuk mengambil ponsel.


Raina mengarahkan pandangannnya ke setiap sudut cafe mencari keberadaan sahabatnya tanpa melepaskan ponsel dari telinganya.


“Sudah sampai Rain?” Tanya Sandi ketika panggilan mereka terhubung.


“Hmm.” Jawab Raina dengan gumaman.


“Aku diatas. kamu naik aja.” Sandi memberi tahukan keberadaannya.


Raina melangkahkan kaki jenjangnya, menapaki anak tangga, menatap setiap pigura dengan lukisan wanita yang tampak memunggunginya atau berdiri miring hingga ia tak dapat melihat dengan jelas gambaran dari wanita tersebut, serta kata-kata motivasi yang tergantung di dinding. Hal pertama yang Raina lihat saat tubuhnya berhasil sampai dilantai 2 adalah keindahan langit senja dengan lampu kuning temaram yang menggantung indah mempercantik suasana cafe di bawah atap kaca sehingga mereka dapat melihat gelapnya langit penuh bintang dengan indah jika malam hari.


Senyum Raina merekah indah di bibir ranumnya ketika matanya menangkap sepasang kekasih sedang duduk berhadapan dan melambaikan tangan padanya. Seketika langkahnya dipercepat dan bertegur sapa dengan kedua sahabat yang telah lama tak ia jumpai.


“Bagaiman kabarmu Rain?” Tanya Sandi saat Raina melepaskan pelukan Sania.


“Baik, jika tidak mana mungkin aku berada disini sekarang.” Jawabnya dengan wajah riang, karena tak menyangka dapat berkumpul lagi bersama mereka.


“Kapan kalian menikah?” sontak saja pertanyaanya membuat Sania yang sedang minum langsung tersedak.


“Karena aku merasa sudah sepantasnya kalian menikah bukan? Jangan sampai Sania direbut pria lain.” Raina mendudukan tubuhnya disebelah Sania membantunya mengusap-usap punggung Sania berusaha agar batuknya mereda.


“Ya ampun Rain, umurku masih 23 tahun.. aku masih mau bekerja untuk mengumpulkan uang.” Jawab Sania merasa dirinya belum siap jika harus menikah muda.


“Ya.. ya aku kan hanya bertanya.” Tukas Raina meminum jus alpukat yang sudah tersedia dihadapannya. Karena dia berpikir jika itu untuk dirinya, mana mungkin untuk orang lain sedangkan dimejanya tak ada lagi orang lain.


Mereka berkumpul melepas rindu, banyak yang mereka ceritakan tentang perkuliahannya, bahkan Raina pun tak segan membagikan pengalamannya tinggal dinegri orang, begitupun dengan Sandi menceritakan kehidupannya selama di jogja yang kini telah sukses bekerja di perusahaan ternama. Meski hanya sebagai karyawan biasa namun menurutnya itu sangatlah membanggakan untuk keluarga serta dirinya.


Menjelang malam cafe semakin ramai, sekarang adalah malam minggu hingga banyak muda-mudi yang berkumpul dengan sahabat dan pacaran tentunya.


Musik tak pernah berhenti mengalunkan lagu-lagu indah dan syahdu, namun tepat jam 7 musik tak kembali terdengar, suasana ramai semakin terdengar dengan suara tepuk tangan dilantai bawah, musik akustik gantinya.


🎶 Aku tlah tahu kita memang tak mungkin


Tapi mengapa kita selalu bertemu


Aku tlah tahu hati ini harus menghindar


Namun kenyataan ku tak bisa


Maafkan aku terlanjur mencinta


Senyuman itu


Hanyalah menunda luka


Yang tak pernah kuduga


Dan bila akhirnya kau harus dengannya


Mengapa kau dekati aku


Terdengar suara wanita yang begitu merdu menyanyika lagu 'Terlanjur Mencinta' yang sedang booming dengan petikan gitar mengirinya. Setiap bait begitu mengena dihati Raina.


“I love you Arga.”


kata sang vokalis diakhir lagu membuat semua pengunjung bersorak dengan bertepuk tangan, terdengar bagiamana histerisnya pengunjung wanita disertai siulan dari pengunjung pria.


DEG..


DEG..


Tubuh Raina mematung mendengar nama Arga disebutkan.


Senyum samar terlintas dibibirnya, ternyata ia masih belum bisa melupakan Arga, meski 5 tahun sudah berlalu tetap saja hatinya masih berlabuh dengan nama Arga Satya Pratama.


“Ciee… Cieee….” Sorak pengunjung dibawah.


Setelah itu tak terdengar kembali wanita itu bernyanyi, kini hanya lagu yang diputar dari audio musik. Raina memegang dadanya yang masih saja bergemuruh hingga ia hanya bisa terdiam tanpa bisa berkata.


"Rain.." Tegur Sandi.


"Sorry.. sorry.. sampe mana tadi?" Raina meminum kembali minumannya untuk menghilangkan rasa tak menentu di dalam hatinya.