Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 99



Kini Arumi berani mengangkat wajah, dia tersenyum lebar pada pria yang sedang memangkunya. Ada perasaan hangat dan lega ketika Agam dengan cepat menjawab bahwa dia tidak akan memasukkan wanita lain dalam rumah tangga mereka.


"Makasih,, aku mencintaimu." Arumi dengan sangat berani mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Agam sekilas lalu melepaskannya.


Arumi membuat Agam terbelalak sejenak karna gerakan yang tiba-tiba. Apalagi Arumi jarang berinisiatif untuk menciumnya lebih dulu.


"Menggodaku.?" Tanya Agam seraya mengeratkan pegangannya di pinggang Arumi. Dia meremas lembut pinggang Arumi dalam dekapannya.


Di sebut sedang menggoda, Arumi justru menunjukkan tingkah yang semakin menjadi. Dia menurunkan satu tangannya dari leher Agam, bergerak menggoda dari leher dan berhenti di dada bidang suaminya itu.


Jari-jari lentik Arumi bermain di sana, membuat gerakan memutar, ataupun bergerak naik turun. Perbuatan Arumi tentu saja membuat gairah Agam terbakar. Apalagi posisi mereka sangat intim saat ini, dengan Arumi yang duduk di atas pangkuan Agam dan satu tangannya bergelayut di lehernya.


Agam menahan gerakan tangan Arumi di dadanya karna bergerak semakin liar. Jemari Arumi sempat menyusup masuk di antara celah kemeja Agam.


"Gadis nakal." Ujar Agam sebelum mengangkat tubuh Arumi dan mendudukkannya di meja. Agam dengan sigap menyingkirkan beberapa benda yang ada di atas meja. Termasuk laptop yang sudah di simpan dia atas nakas.


Arumi makin tersenyum menggoda ketika Agam memindahkannya di atas meja. Kedua kalinya langsung melingkar di pinggang Agam yang berdiri di depannya.


Tak mau membuang waktu, Agam menyambar bibir Arumi dengan rakus dan hampir tidak memberikan kesempatan pada Arumi untuk membalas ciumannya. Perlahan Arumi mulai mengimbangi ciuman panas suaminya. Dia semakin erat memeluk leher dan pinggang Agam ketika lidah pria itu mengobrak-abrik rongga mulutnya.


Kini tubuh keduanya sudah polos, kain yang tadi membalut tubuh mereka sudah berceceran di lantai. Agam melebarkan kedua kaki Arumi yang masih duduk di atas meja kerjanya.


"Sh*it.!!" Umpat Agam ketika kesulitan menerobos masuk. Meski sudah beberapa kali melakukannya, tidak di pungkiri jika Agam harus berusaha lebih keras untuk melakukan penyatuan dengan Arumi.


"Sayang, pelan-pelan,," Rintih Arumi seraya menahan dada Agam menggunakan satu tangannya. Sedangkan satu tangannya lagi bertumpu pada meja untuk menopang tubuhnya agar tetap duduk.


Tidak menjawab, Agam malah membungkam bibir Arumi dengan ciuman. Bersamaan dengan itu, dia menghentakkan pinggulnya hingga Arumi teriak tertahan. Benda itu masuk seluruhnya dengan sedikit hentakan kasar dan menimbulkan rasa sakit pada inti Arumi.


"Maaf baby,,," Bisik Agam setelah melepaskan pagutan bibirnya. Dia menggigit kecil dan menji lat telinga Arumi, membuat tubuh seksi gadis itu menegang karna nikmat.


Suara khas percintaan itu memenuhi ruangan kerja Agam. De -sa han dan erangan saling bersautan. Keduanya hanyut dalam gulungan ombak kenikmatan.


Saling menyebut nama masing-masing di sela-sela de Sa han, mereka begitu menikmati percintaan panas itu. Seolah tidak pernah terjadi apapun sebelumnya di antara mereka.


Hampir 1 jam berlalu, Arumi tampak sudah kelelahan setelah 3 kali mendapat pelepas. Sedangkan pria yang berdiri di belakang tubuhnya, belum menunjukkan tanda-tanda akan selesai.


Kedua tangan Arumi berpegang pada ujung meja. Hentakan Agam membuat tubuhnya yang sudah lemas itu mengikuti irama hentakannya.


"Sayang kakiku sudah lemas,," Keluh Arumi tak berdaya.


Padahal bukan pertama kalinya Agam menggagahi Arumi, tapi gadis itu masih saja heran dengan kekuatan dan ketahanan fisik Agam dalam ber cinta.


"Tahan sebentar baby, aku hampir sampai." Agam mere mas kuat dua bukit yang menggantung. Gerakannya juga semakin cepat dan dalam.


"I love you baby,," Ucap Agam di sela-sela nafasnya yang tersenggal.


Arumi tidak merespon, tubuhnya sudah lemas dan remuk dalam dekapan Agam. Bahkan kalau Agam tidak memeluknya dari belakang, mungkin Arumi sudah merosot ke lantai karna karna kakinya tidak sanggup lagi berdiri.


...******...


Sebuah mobil sport warna hitam berhenti di depan Gea. Tak lama seorang pria gagah dengan setelan jas abu-abu turun dari mobil mewahnya. Senyum manis di bibir Gea tersungging, menyambut kedatangan pria di hadapannya.


Sempat tertegun sejenak ketika pria tampan itu membalas senyumannya. Seandainya tidak terikat perjanjian dengan Glen, sudah pasti Gea sangat senang di dekati oleh pria seperti Ricko.


"Kamu sangat cantik,," Sebuah pujian terlontar dari bibir Ricko, sorot matanya tak bisa berbohong kalau dia memang mengangumi sosok Gea.


Sebenarnya banyak wanita yang jauh lebih cantik di sekeliling Ricko, tapi Gea memiliki daya tarik sendiri yang tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata.


Gea tersenyum tipis, sedikit malu mendapatkan pujian dan tatapan kagum dari Ricko.


"Silahkan masuk tuan putri,," Kata Ricko setelah membukakan pintu mobil untuk Gea.


"Terimakasih, tapi Kak Ricko berlebihan. Panggilan seperti itu tidak pantas untukku." Gea tersenyum getir. Dalam dirinya sudah tidak ada yang spesial lagi, rasanya sangat miris jika Ricko menyamakannya seperti seorang putri.


"Siapa yang peduli pantas atau tidak, intinya kamu sangat cantik." Sahut Ricko dan tersenyum lebar.


Lagi-lagi Gea hanya tersenyum tipis, dia kemudian masuk ke dalam mobil dan disusul Ricko yang duduk di sampingnya. Pria itu lantas melajukan mobilnya menuju hotel tempat acara pertunangan Glen.


Pria yang sedang menyetir itu sempat melirik Gea dengan senyum penuh arti. Takdir seolah sedang berpihak padanya. Sejak mengetahui Glen ada affair dengan Gea, Ricko sudah memiliki rencana untuk membawa Gea ke acara pertunangan Glen.


Ricko sengaja ingin membuat Glen murka di hari bahagianya. Mengingat Glen paling tidak suka wanitanya di dekati oleh temannya sendiri.


Ricko tertawa jahil dalam hati. Dia bisa membayangkan suasana hati Glen akan buruk di saat sedang melangsungkan pertunangan dengan wanita lain dan melihat Gea datang bersamanya.


"Aku mengajakmu pergi, apa seseorang tidak akan marah.?" Tanya Glen pura-pura. Dia akan bersikap tidak tau tentang hubungan gelap Gea dengan Glen.


Gea menatap serius, harusnya Ricko sudah mengetahui hubungannya dengan Glen. Mengingat Ricko pernah memancing amarah Glen dengan memamerkan nomor ponsel Gea pada Glen. Gara-gara kejadian itu, Gea sampai mendapat perlakuan kasar dari Glen karna tidak terima jika dia bertukar nomor dengan pria lain.


"Aku tidak memiliki seseorang yang berhak marah jika melihatku pergi dengan teman pria." Tutur Gea dan tersenyum kaku. Dia tidak memiliki kekasih, harusnya memang bebas dekat dan pergi dengan teman pria tanpa harus ada seseorang yang akan marah padanya. Tapi ada Glen yang siap menghukumnya jika hal itu sampai di ketahui.


"Jadi, apa aku memiliki kesempatan besar.?" Tanya Ricko penuh harap. Gea di buat terpaku dengan perkataan Ricko, sampai harus menatap intens mata pria itu dari samping.


"Kesempatan.?" Ulang Gea dalam hati.


Seandainya Ricko benar-benar serius dan bisa menerima masa lalunya, mungkin setelah membalas rasa sakit hanya pada Sean, Gea akan mengembalikan Glen lagi pada pemiliknya.