Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 108



Andrew tampak frustasi karna sampai sekarang belum mengetahui keberadaan Sofia. Dua hari di Surabaya hanya di gunakan untuk mencari istrinya itu. Jelas Andrew sangat mengkhawatirkan Sofia, mengingat wanita itu sangat rapuh dan sedang mengandung darah dagingnya.


Jika sesuatu terjadi pada Sofia dan bayi yang tidak berdosa itu, rasa bersalah Andrew pasti akan semakin besar. Dia yang sudah membawa Sofia masuk ke dalam hidupnya, menjanjikan sebuah kehidupan yang nyaman dan bahagia.


Semua yang sudah terjadi adalah murni kesalahannya, jadi Andrew tidak akan membiarkan Sofia ataupun anak mereka yang menanggung kesulitan.


Pagi itu Andrew kembali melakukan rutinitasnya. Dia keluar dari hotel pukul 6 pagi untuk menyusuri sepanjang jalanan di kota Surabaya. Dia selalu menaruh harapan besar setiap kali menyusuri jalanan, berharap bisa bertemu dengan Sofia.


Sebuah panggilan masuk membuat Andrew terpaksa menepikan mobilnya. Andrew langsung merogoh ponsel di saku celana dan menjawab panggilan dari William.


"Ya,, ada apa Wil.?" Andrew tampak tidak bersemangat berbicara dengan William. Karna setiap kali William menelfon, pasti ada kabar tak menyenangkan tentang kelanjutan rumah tangganya bersama Amira.


"Nyonya menyuruh saya untuk menanyakan kapan Tuan akan kembali ke Bandung." Tutur William di seberang sana.


Andrew sedikit terkejut, entah kenapa dia berharap Amira sedang menunggunya pulang untuk memperbaiki hubungan mereka. Ya, meski itu sangat mustahil, mengingat Amira bukan tipe wanita yang bisa mengubah keputusan kapan saja.


"Apa Amira berubah pikiran soal gugatan perceraian kami.?" Tanya Andrew meski dia tak yakin sepenuhnya akan hal itu.


"Maaf Tuan, Nyonya Amira hanya meminta anda untuk segera menandatangani berkas pengalihan saham dan properti milik Anda." Ujar William yang terdengar tak enak hati. Bagaimanapun dia sudah bekerja lama dengan Andrew. Dan kabar ini pasti menjadi kabar buruk bagi Tuannya itu.


Suasana menjadi hening, Andrew memaku dengan segala perasaan yang berkecambuk. Kehilangan Amira bukan hanya menjadi mimpi buruk untuknya, tapi akan menjadi kenyataan yang mungkin tinggal menghitung hari.


Sungguh penyesalan itu ada dalam diri Andrew, tapi semuanya sudah terjadi. Jika Amira tak mau kembali, maka Andrew tak akan membuat kesalahan lagi dengan mengabaikan Sofia.


"Hallo Tuan, Anda masih di sana.?" William terdengar panik. Takut terjadi sesuatu dengan Andrew.


"Will, selama ini aku sangat mengandalkan dan mempercayakan semuanya pada mu." Andrew kembali bersuara dan kali ini lebih serius dari sebelumnya.


"Aku tidak lebih baik darimu." Ada penyesalan dalam nada suaranya. Andrew bahkan sampai menunduk.


"Tolong jaga Amira untukku,," Suara Andrew kini tercekat, matanya memerah dan mulai berkaca-kaca.


Bukan tanpa alasan Andrew meminta William untuk menjaga Amira. Hanya William satu-satunya orang yang tidak akan berkhianat. Andrew yakin Amira dan perusahaan mereka akan baik-baik saja jika William masih setia menjadi orang kepercayaannya.


"Apa maksud Tuan.? Anda baik-baik saja kan.?" William tampak terkejut. perkataan aneh Andrew membuatnya jadi berfikir macam-macam tentang kondisi Tuanya itu.


"Tidak Will, aku baik-baik saja." Jawab Andrew cepat.


"Hanya kamu yang bisa di percaya, tolong tetap berada di samping Amira untuk membantunya mengelola perusahaan." Pintanya memohon.


"Tapi Tuan, saya,,"


Andrew langsung memutuskan panggilan telfonnya tanpa tanpa membiarkan William bicara lagi. Pikirannya semakin kalut, meski Andrew sudah tau jika perceraiannya dengan Amira benar-benar akan terjadi.


...******...


Arumi menggoncang pelan lengan besar suaminya. Pria gagah itu masih terlelap dengan bertelanjang dada.


Sudah 3 kali Gino menelfon, Arumi tidak tau karna sebelumnya dia sedang membuat sarapan di dapur.


"Hmm,, tolong kamu angkat." Agam menggeliat, dia sudah membuka mata meski tampak belum sepenuhnya sadar.


Arumi melakukan perintah Agam, dia mengangkat panggilan dan mengaktifkan mode speaker.


"Ya Kak, Kak Agam baru saja bangun. Ada apa.?" Tanya Arumi tanpa mengalihkan pandangannya pada wajah Agam yang masih tetap tampan meski baru bangun tidur. Kini pria itu mendekat dan memeluk pinggang Arumi yang tengah duduk di tepi ranjang. Agam juga membenamkan wajahnya di perut Arumi, membuat wanita itu meringis kegelian.


"Begini Nona, ada sedikit masalah di hotel Jakarta. Tuan Agam harus ke hotel itu untuk menyelesaikan masalah di sana." Tuturnya.


"Apa tidak bisa kamu handle.? Sebesar apa masalahnya sampai aku harus turun tangan." Agam bicara datar namun penuh penekanan. Di seberang sana bisa di pastikan Gino sedang menelan ludah dengan susah payah.


"Maaf Tuan, ada kecerobohan dari karyawan hotel pada pengunjung. Manager sudah berusaha menanganinya dan meminta maaf, tapi pengunjung itu ingin pemilik hotel yang meminta maaf langsung padanya." Suara Gino terdengar gemetar.


"Ck..! Percuma saja aku menggaji kalian.!"


"Tidak berguna." Gerutu Agam dan langsung turun dari ranjang dengan wajah masam. Arumi sampai bengong melihat suaminya sudah marah-marah sepagi ini.


"Saya minta maaf,," Lirih Gino takut.


"Ini aku Kak." Sahut Arumi.


"Maaf kalau perkataan Kak Agam keterlaluan, sepertinya moodnya sedang tidak baik." Arumi merasa tidak enak hati pada Gino. Apalagi Agam memarahi Gino di saat ada orang lain. Pasti itu membuat Gino sangat tidak nyaman.


"Tidak apa Nona, saya mengerti."


"Jangan khawatir, aku akan membujuk Kak Agam untuk pergi ke Jakarta."


"Kali begitu aku tutup telfonnya."


Arumi langsung menghampiri Agam ke kamar mandi. Dia mengetuk pintu beberapa kali dan Agam membuka pintu dengan wajahnya yang masih tampak masam.


"Mau mandi bersama.?" Tawar Arumi seraya tersenyum teduh


"Pertanyaan bodoh macam apa itu,!" Jawab Agam yang langsung menarik tangan Arumi untuk di bawa masuk ke kamar mandi. Agam menutup pintu menggunakan satu kakinya.


"Sayang pelan-pelan,,!" Tegur Arumi dengan bibir mengerucut. Agam sedang berusaha melepaskan kancing piyamanya dengan gerakan kasar.


"Lain kali jangan pakai piyama seperti ini.! Menyusahkan saja.!" Agam menggerutu, tapi tangannya terus bergerak melepaskan kancing piyama Arumi. Dia langsung melempar piyama itu ketika berhasil melepaskannya.


"Kamu ini sebenarnya kenapa.? Marah-marah tidak jelas sepagi ini." Ujar Arumi heran.


"Tanya saja pada Gino, dia yang membuatku marah-marah." Jawab Agam acuh. Dia lantas menyambar bibir Arumi sangat rakus, tangannya juga bergerilya pada benda kenyal yang masih memakai penutup.


Arumi hanya bisa pasrah mendapatkan serangan fajar dari suaminya.