
Arumi melongo gak percaya. Dia sampai berdiri di tempat tanpa berniat untuk menghampiri keduanya yang tampak sama-sama menikmati ciuman panas itu. Tangan Gea bahkan sampai melingkar di leher Glen. Rasanya tidak mungkin kalau sahabatnya itu di lecehkan jika posisi Gea seperti yang Arumi lihat.
Gea jelas menerima ciuman itu dan menyambutnya tanpa canggung. Hal itu membuat Arumi tak bisa berkata-kata. Melihat mereka berdua sangat lengket, sedangkan beberapa menit lalu Glen menggertak Arumi penuh amarah. Gea juga ketakutan melihat Glen. Tapi apa yang Arumi lihat saat ini.?? Dia jadi bertanya-tanya, apa yang membuat keduanya sampai bisa berciuman sangat intim seperti itu.
Ciuman mereka semakin menuntut, mulut Arumi semakin menganga lebar saat melihat tangan Glen mere-mas bongkahan daging kenyal dari balik baju Gea. Tak mau membuat kedua matanya semakin ternodai, Arumi kemudian buru-buru masuk lagi ke dalam kamar Agam.
"Kenapa.?" Suara berat Agam mengagetkan Arumi yang baru menutup pintu kamar. Pria itu hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya hingga memperlihatkannya roti sobek di perut dan otot-otot di bagian lain. Meski sudah beberapa kali melihatnya, namun air liur Arumi terkadang memaksa untuk menetes saat melihat pahatan seksi dan gagah itu. Dia sampai tidak menjawab pertanyaan Agam lantaran tergiur dengan pemandangan indah di depan mata.
"Belum puas.?" Goda Agam seraya mendekat. Arumi yang sadar, seketika menggeleng cepat.
"Om Glen dan Gea sedang mesum juga." Tutur Arumi dan menoleh ke arah pintu kamar, menunjukkan pada Agam kalau di luar dua orang itu sedang bercumbu.
"Biarkan saja. Mungkin itu cara mengganti jam yang sudah di jual temanmu." Jawab Agam santai. Dia tampak tidak terusik sedikitpun dengan perbuatan Glen dan Gea di rumahnya. Atau mungkin karna merasa dia dan Glen tidak ada bedanya.
"Aku tunggu disini saja sampai Om selesai pakai baju." Kata Arumi dan gadis itu duduk di kursi dekat pintu balkon. Daripada dia harus menangkap basah dua sejoli itu dan hanya akan membuatnya ikut malu, lebih baik menunggu di kamar Agam sampai pria itu selesai memakai baju.
Agam tak menjawab dan pergi ke walk in closet.
...*****...
"Ingat, kamu akan membayarnya selama 5 bulan ke depan." Busuk Glen setelah melepaskan pagutan bibirnya. Gea menunduk canggung kemudian mengangguk setuju. Tidak ada pilihan lain untuk mengembalikan sisa uangnya, kecuali menerima tawaran gila dari Glen.
"Bagus.!" Ucap Glen puas.
"Sekarang rapikan bajumu,," Titahnya sebelum beranjak dan berpindah ke sofa lain.
Gea langsung menjalankan perintah Glen, merapikan baju dan kain pembungkus bongkahan kenyal yang tersingkap ke atas.
Masalah jam selesai. Keduanya sepakat berdamai dengan sebuah perjanjian. Sudah pasti perjanjian yang akan memberikan banyak keuntungan bagi Glen, meski Gea juga tidak perlu susah payah mengembalikan uang hasil penjualan jam tersebut. Karna Glen hanya menyuruh Gea memberi tau siapa yang telah membeli jamnya. Pria itu berniat untuk membeli jam itu kembali karna menurutnya sangat berharga.
5 bulan ke depan, Gea akan menjalani hari-harinya sebagai budak pemu -as. Gea di runtut untuk selalu siapa kapanpun Glen membutuhkannya.
Pria itu bahkan menjanjikan Gea tinggal di apartemen milik Glen selama masa perjanjian itu berlangsung. Dalam artian, mereka akan tinggal bersama selama 5 bulan tanpa ikatan apapun.
"Maaf lama, aku tiba-tiba sakit perut." Suara Arumi memecah keheningan di ruang tamu. Dia tersenyum kikuk pada Gea yang tampak menundukkan wajahnya.
Arumi lantas duduk di sebelah Gea. Tak lama Agam menyusul dan ikut bergabung di ruang tamu.
"Jadi bagaimana penyelesaian soal jam itu.?" Agam membuka obrolan lebih dulu. Meski malas dan tidak suka itu campur urusan orang lain, tapi dia tetap mencoba untuk menuruti permintaan Arumi.
"Sudah selesai." Jawab Glen cepat. Arumi yang mendengar hal itu sontak menatap Gea meminta penjelasan. Bagaimana bisa tiba-tiba selesai begitu saja dalam hitungan menit.
"Selesai bagaimana Om.?" Tanya Arumi pada akhirnya. Karna Gea hanya diam dan terlihat enggan untuk memberikan penjelasan.
"Dia sudah mengembalikan uangnya. Lalu sisanya akan di cicil." Jawab Glen yang tampak tenang dan santai walaupun baru saja berbohong. Gea bahkan sampai tak percaya kalau Glen akan memberikan alasan seperti itu. Tapi setidaknya Glen tidak membongkar perjanjian yang sudah mereka sepakati bersama.
"Semudah itu.?" Tanya Arumi tak habis pikir.
"Sudah bagus Glen berubah pikiran dan mau berdamai. Apa kamu mau Glen melaporkan Gea saja.?" Agam jadi kesal sendiri pada Arumi. Wanita memang sangat sulit untuk di mengerti.
Harusnya Arumi senang setelah tau Glen tidak memperpanjang masalah pencurian itu, tapi ekspresi Arumi tampak penuh curiga pada Glen dan Gea.
"Bukan, bukan begitu maksudku. Tapi,,,"
"Sudah selesai Arumi," Tegur Agam lirih.
"Glen.! Kamu boleh pergi. Tolong sekalian antar Gea pulang karna aku ada urusan dengan Arumi." Ujar Agam dan Glen langsung mengangguk cepat.
"Baiklah, aku pulang." Glen beranjak. Arumi seketika memberikan protes pada Agam.
"Tapi Om, aku juga harus pulang sekarang. Gea akan tinggal di rumahku mulai malam ini." Pintanya.
"Kamu mau membantahku.?" Agam berucap pelan tapi menekankan kalimatnya.
"Nggak masalah Ar, aku tidur di kosan saja malam ini." Gea beranjak seraya mengukir senyum pada Arumi.
"Tenang saja, di kosan juga sangat nyaman." Gea meyakinkan Arumi. Lagipula dia juga tidak mau membuat Agam jadi kesal pada Arumi karna lebih memilih mementingkan sahabatnya.
"Tapi kamu yakin akan pulang dengan Om Glen.?" Arumi tampak cemas. Gea mengangguk yakin.
"Om Glen sebenarnya sangat baik, jangan khawatir." Ujar Gea seraya melirik ke arah Glen.
"Kalau aku jahat, aku pasti akan tetap melaporkan sahabatmu." Timpal Glen.
"Sudah sana pergi.!" Usir Agam tak sabaran.
Glen mendengus kesal dan langsung menarik tangan Gea untuk keluar dari rumah Agam.
"Ge, hati-hati. Kabari kalau sudah sampai." Teriak Arumi dan hanya di iyakan oleh Gea.
"Ya ampun Om,,!" Arumi terpekik kaget karna tiba-tiba Agam mengangkat tubuhnya. Pria itu berjalan ke arah pintu untuk menutup pintu lebih dulu dan membawa Arumi ke kamarnya.
"Kita mau ngapain lagi.?" Tanya Arumi tanpa ada perlawanan. Dia malah mengalungkan tangannya di leher Agam dengan manja.
"Da -damu masih perlu di perbesar." Agam menjawab santai.
"Memangnya harus sebesar apa lagi.? Apa ukuran yang sekarang belum cukup membuat Om puas.?" Arumi menatap heran. Padahal da- danya sudah lebih besar, mungkin dua kali lipat dari ukuran sebelumnya.
"Sampai ukurannya jadi 36D." Jawab Agam dan Arumi langsung melongo.
"Om yang benar saja." Keluhnya dengan tubuh yang meremang. Dia membayangkan tubuh langsingnya memiliki ukuran da da sebesar itu.