
Glen tidak memperdulikan kondisinya yang sudah lemas akibat muntah-muntah selama berada di kantor. Alih-alih pergi ke dokter untuk memeriksakan diri, Glen meninggalkan kantor karna ingin segera menemui Gea. Dia harus memastikan Gea hamil atau tidak.
Pembahasan dengan Pamannya soal kehamilan Clara yang berdampak pada Devon, membuat Glen langsung berfikir ke arah sana. Itu sebabnya Glen buru-buru meninggalkan kantor.
Sebelum sampai ke apartemen, Glen lebih dulu berhenti di apotik. Dia membeli alat tes kehamilan yang nantinya akan dia berikan pada Gea.
Glen tidak tau kalau Gea juga baru saja melakukan tes kehamilan dan hasilnya positif. Entah bagaimana reaksi Glen jika mengetahui hal itu.
Apa dia akan bertanggungjawab pada Gea dan membatalkan pernikahannya dengan Adeline, atau justru sebaliknya. Tetap melanjutkan pernikahan dengan Adeline dan tidak mau bertanggungjawab atas darah dagingnya, karna sejak awal sudah ada perjanjian kalau Gea tidak boleh hamil.
Hubungan mereka hanya sebatas teman di atas ranjang dan sebagai hukuman karna Gea sudah mencuri jam tangan milik Glen.
Sampainya di apartemen, Glen langsung menuju ke kamar Gea. Pria itu membuka pintu kamar tanpa mengetuk pintu lebih dulu, membuat penghuni kamar terkejut dan menjatuhkan benda di tangannya. Namun buru-buru di singkirkan menggunakan kaki hingga benda itu masuk ke kolong ranjang.
"O-oom,,, ada apa.?" Gea mendadak panik. Dia belum tau bagaimana caranya menyampaikan kehamilannya pada Glen. Itu sebabnya dia menyembunyikan alat tes kehamilan yang tadi sempat terjatuh di lantai. Sebelum Gea memastikan Glen bersedia bertanggungjawab, Gea akan menutupi kehamilannya.
Glen tak menjawab pertanyaan Gea. Pria itu berjalan semakin mendekat dan berhenti beberapa senti di depan Gea.
"Tampung urine mu disini." Titah Glen seraya meletakkan gelas kecil ke tangan Gea.
"Maksudnya.?" Gea menatap penuh tanda tanya.
Pikiran Gea langsung mengarah pada tes kehamilan karna dia juga baru saja menampung urine untuk mengetes kehamilan. Namun yang membuat Gea bingung, bagaimana bisa tiba-tiba Glen memintanya menampung urine.?
Mungkinkah Glen juga merasakan ada kehidupan baru di antara mereka.? Pikir Gea. Wanita itu sampai tersenyum dalam hati. Merasa terharu seandainya Glen juga memiliki feeling yang sama dengannya.
"Jangan banyak tanya, lalukan saja perintah ku." Tegas Glen tampak tidak sabar. Raut wajah Glen semakin gusar, membuat Gea merasakan sinyal yang tidak baik.
"Tidak mau, Om jawab dulu itu untuk apa.?" Desak Gea. Selama Glen belum memberikan alasan yang jelas, Gea tentu tidak akan gegabah melakukan perintah Glen.
Glen menghela nafas frustasi.
"Aku harus memastikan kamu hamil atau tidak." Serunya.
Gea sempat terkejut, namun dia berusaha menahan diri untuk tetap bersikap tenang.
Sekarang dia tidak tau harus senang atau takut setelah mengetahui bahwa Glen juga mencurigai kehamilannya. Tapi seandainya raut wajah Glen tidak frustasi seperti itu, Gea tentu dengan senang hati akan menunjukkan alat tes kehamilan miliknya.
"Tapi untuk apa memastikan hal itu.?" Tanya Gea pura-pura.
Glen berdecak kesal. Mungkin karna Gea terlalu banyak bertanya dan tidak segera melakukan perintahnya.
"Kamu tau aku aka menikah dengan Adeline sebentar lagi, jadi jangan sampai kamu hamil.!" Tegas Glen dengan tatapan tajam penuh peringatan.
Gea menelan ludah susah payah mendengar pernyataan Glen. Ternyata apa yang dia takutkan benar-benar terjadi. Mungkin mimpinya terlalu tinggi karna berharap Glen akan menerima kehamilannya jika tau.
Tapi pada kenyataannya, Glen menolak kehamilan itu sebelum memastikan Gea hamil atau tidak.
Pikirannya mendadak kacau. Glen tidak menginginkan darah daging mereka, hal itu membuat Gea membayangkan bahwa kehancuran masa depannya sudah di depan mata.
Dia juga tidak berani mengaku hamil dan meminta pertanggungjawaban dari Glen. Takut Glen akan memaksanya melenyapkan kehidupan di dalam rahimnya. Jadi lebih baik dia menutupi kehamilannya dari Glen. Setidaknya sampai kontrak perjanjian berakhir dan dia bisa lepas dari Glen.
Glen tampak menghela nafas lega. Pria itu terlihat sangat senang setelah Gea mengatakan kalau dia sedang kedatangan tamu bulanan. Hal itu membuat dada Gea semakin sesak.
"Bagus kalau begitu. Pastikan kamu tidak melupakan pil penunda kehamilan." Ujar Glen, kemudian pergi begitu saja tanpa memaksa Gea lagi untuk menampung urine.
Pria itu langsung percaya kalau Gea tidak hamil.
Gea paham kenapa Glen lebih percaya ucapannya alih-alih tetap memaksa melakukan tes kehamilan. Karna Glen sudah mendapatkan jawaban yang dia inginkan.
...******...
"Hueekk,,," Agam langsung menutup mulut menggunakan tangan dan berlari ke wastafel.
"Ya ampun sayang,," Seru Arumi seraya beranjak dari meja makan untuk menyusul suaminya.
Dia berdiri di belakang Agam dan memijat tengkuk suaminya itu dengan lembut.
Kekhawatiran jelas tergambar di wajah Arumi. Lama-lama dia tidak tega juga melihat Agam selalu muntah-muntah dan sulit menerima makanan yang masuk ke perutnya.
"Sepertinya anak-anak sedang menghukumku." Gerutu Agam setelah mencuci wajah dan mulutnya. Dia tidak tau dosa apa yang sudah dia perbuat pada istri dan ketiga anaknya yang masih di dalam perut. Sampai gejala kehamilan dilimpahkan semua padanya.
Agam sudah pasti sangat tersiksa karna muntah-muntah setiap pagi sampai menjelang siang. Belum lagi indera penciumannya yang dirasa bermasalah karna terkadang mencium aroma yang tidak enak sampai membuat perutnya mual. Lebih parahnya lagi, tiba-tiba Agam selalu ingin muntah ketika melihat / mencium aroma makanan tertentu yang sebelumnya biasa dia makan.
"Jangan menyalahkan anak-anak ku, mereka tidak tau apa-apa." Ujar Arumi dengan bibir mencebik. Dia menyodorkan gelas berisi air hangat pada Agam.
"Sayang, mereka juga anak-anak ku." Protes Agam yang juga ingin di akui sebagai orang tua dari ketiga anaknya.
"Habiskan airnya. Aku buatkan salad buah saja untuk kamu makan." Arumi membuka lemari pendingin dan mengeluarkan beberapa macam buah dari sana.
Agam memilih duduk lagi di kursinya dan menunggu sampai Arumi selesai membuatkan salad buah untuknya.
"Kapan kita memberitahu soal kehamilanmu.?"
"Orang tuaku dan Mama mu pasti senang mendengar kabar bahagia ini." Ujar Agam begitu Arumi menyodorkan semangkuk salad buah padanya.
"Bagaimana kalau lusa saja.? Kita undang mereka makan malam di restoran." Sahut Arumi. Agam mengangguk setuju. Ini akan menjadi makan malam bersama pertama kalinya setelah mereka menikah.
"Tolong suapi, aku ingin makan dari tanganmu." Agam tiba-tiba merengkuh pinggang Arumi dan mendudukannya di pangkuan.
"Dasar manja." Ujar Arumi seraya menggeleng heran. Suaminya itu jadi banyak berubah beberapa hari terakhir. Lebih manja dan tidak tahan lama-lama berpisah darinya. Sampai jam pulang kantornya di percepat 2 jam dari biasanya hanya karna tidak tahan menahan rindu.