Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 98



Andrew mengusap kasar wajahnya, dia semakin frustasi mendapati apartemennya kosong. Tadi siang dia sibuk mengurus masalah di perusahaan dan menyiapkan pengacara karna mendapat kabar kalau Amira sudah mengajukan gugatan cerai ke pengadilan.


Andrew berupaya sebisa mungkin untuk menolak gugatan Amira. Bagaimanapun Amira sangat berarti dalam hidupnya.


Di saat dia sibuk mengurus perusahaan dan memikirkan cara agar tidak bercerai dengan Amira, di situlah Andrew mengira kalau Sofia masih bertahan di apartemen dan mau menunggunya kembali.


Tapi saat datang, Andrew tidak mendapati keberadaan istri keduanya itu. Sofia bahkan tidak membawa ponselnya dan meninggalkan cincin pernikahan mereka.


"Kenapa kamu tidak menurut." Andrew meremas kuat rambutnya. Kepalanya mungkin akan pecah jika Sofia tidak di temukan, belum lagi Amira yang tidak mau mempertahankan pernikahan mereka.


Ketakutan Andrew kehilangan keduanya sepertinya benar-benar akan terjadi.


...*****...


"Jangan kekanakan Arumi. Kamu masih marah padaku karna mimpi konyol itu.?" Agam menggeleng heran. Di lihatnya sangat istri yang melirik sekilas dan kembali fokus meloloskan make up di wajahnya.


"Apanya yang konyol.? Mungkin saja itu sebuah petunjuk untukku." Sahut Arumi yakin.


Sebenarnya dia sadar tindakannya salah. Hanya karna bermimpi suaminya berselingkuh, Agam sampai harus menerima kekesalan dan kemarahannya.


Namun Arumi merasa harus selalu waspada dan tidak mempercayai Agam sepenuhnya. Kejadian yang menimpa sang Mama dengan cepat di jadikan pelajaran berharga oleh Arumi.


Mengingat sang Papa yang jelas-jelas selalu bersikap romantis dan sangat baik, membuat Arumi sadar bahwa siapapun bisa saja berselingkuh.


"Terus saja mengatakannya." Balas Agam dengan tatapan tajam. Dia sudah cukup lama menahan diri untuk tidak membentak Arumi, tapi istrinya itu malah terus memancing amarahnya.


"Papa saja bisa selingkuh, padahal dia sangat perhatian dan romantis pada Mamaku." Nada bicara Arumi sedikit bergetar. Setiap kali mengatakan perselingkuhan orangtuanya, hatinya seperti di tusuk-tusuk. Mungkin itu seperti mimpi bagi Arumi.


"Jangan menyamakan ku dengan Papamu.!" Agam mulai sedikit tegas. Mungkin dia terlalu lembut pada Arumi sampai membuat Arumi terus menjawab perkataannya dengan bantahan, bahkan kini ingin membuatnya terpojok.


"Tapi dulu Kakak juga pernah selingkuh. Siapa yang akan menjamin hal seperti itu tidak terjadi lagi.?" Balas Arumi mengingatkan. Namun dia langsung menggigit bibir bawahnya ketika sadar sudah salah berucap di depan Agam. Hati kecilnya merasa takut kalau Agam tersinggung dengan ucapannya.


"Arumi.!" Tegur Agam penuh penekan. Rahangnya tampak mengeras, sorot matanya berkali-kali lipat lebih tajam dari sebelumnya.


Kini dia kesulitan menahan amarahnya akibat ulah Arumi yang terus menguji kesabarannya.


Agam berjalan cepat menghampiri Arumi dan berdiri di sebelahnya yang masih duduk di depan meja rias.


"Apa akhir-akhir ini aku terlalu baik padamu.?" Sindir Agam seraya mencengkram lengan Arumi. Meski tidak menggunakan seluruh kekuatannya, tetap saja cengkraman itu lumayan sakit di lengan Arumi yang ramping.


"Lepas Kak, kamu menyakitiku." Arumi meringis kesakitan. Satu tangannya mencoba menarik cengkraman Agam supaya lepas dari lengannya.


"Aku bahkan memahami kesedihanmu tadi siang. Kenapa kamu malah berulah.?!" Kini Agam menarik dagu Arumi agar mendongak dan menatapnya.


Arumi seperti tidak menghargai apa yang sudah Agam lakukan padanya. Dia sampai mengakhiri rapat penting karna kedatangan Arumi yang tiba-tiba. Lalu berusaha menenangkan Arumi, bahkan menyempatkan untuk menemani wanita itu sampai tidur meski pekerjaannya sangat banyak. Belum lagi mencegah Andrew yang ingin bertemu dengan putri semata wayangnya. Agam melakukan semua itu semata-mata demi ketenangan hati dan pikiran Arumi karna saat itu sedang kacau.


"Maaf,, aku minta maaf,," Lirih Arumi dengan suara tercekat. Matanya sudah berembun sejak tadi karna menyadari kesalahannya pada Agam. Kini Arumi benar-benar menangis. Bukan hanya karna merasa bersalah, dia juga menangisi keadaan yang sudah membuatnya jadi berfikir negatif pada Agam.


Kenyataan bahwa Papanya telah berselingkuh, sulit untuk di terima Arumi. Mengingat sikap Andrew yang hangat pada keluarga kecilnya, jelas Arumi sangat syok mengetahui fakta itu.


"Kita tidak akan pergi." Tegas Agam kemudian keluar dari kamar.


Pria itu sedikit kencang menutup pintu dan membuat Arumi tersentak kaget. Agam pergi dengan amarah yang masih tertahan karna ulahnya.


...*****...


Arumi mengetuk pintu ruang kerja Agam di samping kamar mereka. Tadi setelah Agam keluar dari kamar, Arumi sudah memastikan kalau Agam masuk ke ruangan kerjanya.


Dia membawa nampan berisi kopi untuk suaminya dan meminta maaf lagi padanya.


"Sayang,, aku boleh masuk.?" Seru Arumi setelah 3 kali mengetuk pintu.


Dari dalam ruangan hanya terdengar suara deheman Aham yang datar.


Arumi sedikit ragu saat membuka pintu, dia memasukkan kepalanya lebih dulu untuk mengintip Agam.


Suaminya tengah duduk dan fokus di depan laptop. Dia sudah tidak memakai jas dan menggulung kemeja panjangnya hingga sebatas siku.


Malam ini mereka benar-benar tidak menghadiri acara pertunangan Glen. Walaupun masih ada waktu setengah jam sebelum acara di mulai, tapi melihat situasinya seperti ini, rasanya tidak mungkin akan kembali mengubah keputusan untuk datang ke cara itu.


Arumi memberanikan diri menghampiri Agam dan meletakkan secangkir kopi di atas meja.


Meski sedang serius dengan laptopnya, namun ekor mata Agam menangkap pergerakan Arumi yang berdiri di depannya.


Dia melihat Arumi meletakkan kopi di sana.


"Aku menyesal, maaf karna sudah bicara buruk padamu." Lirih Arumi sendu. Wajahnya tertunduk, sebenarnya dia sangat malu berdiri di depan Agam saat ini. Perkataannya saat tidak pantas dia lontarkan pada suaminya.


Agam tampak menarik nafas dalam dan membuangnya pelan. Dia menutup laptopnya dan beralih menatap Arumi yang terlihat sangat merasa bersalah padanya.


"Jangan menyamakan aku dengan Papamu. Selagi kamu tidak berulah dan menurut, aku tidak akan macam-macam di luar." Agam menatap serius, dia tidak berdusta dengan ucapannya.


Dulu mungkin dia salah karna sudah berselingkuh dengan Bianca ketika masih memiliki istri. Tapi semua itu juga ada alasannya, Karina tidak bisa menjadi istri yang baik, bahkan berselingkuh sejak lama.


Arumi menggelengkan kepala.


"Aku janji tidak seperti ini lagi, maaf,," Arumi memeluk Agam yang masih duduk dari arah samping. Dia membenamkan wajahnya di leher Agam.


"Perbuatan Papa membuatku takut. Takut apa yang di alami Mama akan terjadi juga padaku." Nada bicara Arumi bergetar. Sungguh rasa takut itu tidak bisa di tepis. Di khianati oleh orang yang Arumi cintai pasti akan meninggalkan luka mendalam hingga mungkin sulit untuk di sembuhkan, mengingat baru pertama kali Arumi menjatuhkan hatinya pada seseorang.


Agam membawa Arumi duduk di pangkuannya. Posisi istrinya masih memeluk leher dengan kepala di letakan di bahunya.


"Pikiran kamu terlalu buruk. Pernikahan kita akan baik-baik saja." Ucap Agam meyakinkan seraya mengusap punggung Arumi.


"Aku mohon jangan memasukkan wanita lain dalam hubungan kita. Aku sangat takut,," Lirih Arumi. Dari suaranya sangat jelas kalau ketakutan dalam dirinya sudah menguasai hati dan pikiran.


"Tidak akan." Jawab Agam cepat.