
Flasback
Gea memalingkan wajah ketika melihat Glen memasuki ballroom bersama Adeline yang menggandeng mesra lengan kekasihnya.
Sesuai perintah Glen, Gea akan bersikap seolah belum pernah mengenalnya.
Memalingkan wajah adalah cara yang tepat agar tidak bertatap muka dengan mereka, terutama Adeline. Karna wanita itu sangat mengenali Gea. Sebenarnya hubungan mereka juga baik, meski hanya beberapa kali bertemu langsung.
Selama ini Adeline memang menetap di Singapura untuk kuliah.
Selama menjalin hubungan dengan Sean, Gea sering berkomunikasi dengan Adeline. Terkadang curhat padanya jika ada sedikit masalah dengan Sean. Tapi saat Sean selingkuh, Gea tidak menceritakannya pada Adeline. Gea malah memutuskan kontak dengan mengganti nomor ponselnya.
"Ge,, kita selfie dulu." Sena menarik lengan Gea agar mendekat. Rupanya Sena dan Aileen sudah ambil pose sejak tadi untuk selfi. Gea tidak menyadari karna sejak tadi sibuk dengan pikirannya sendiri.
Aileen dan Sena terlihat sangat antusias dan semangat mengambil gambar dengan background bunga-bunga segar di belakangnya. Gea hanya menurut saja ketika di minta untuk ganti gaya oleh Aileen. Fokusnya sudah pecah sejak melihat kedatangan Glen dan Adeline. Dia berusaha menghindari mereka agar Adeline tidak melihatnya.
Tapi sepertinya takdir memang menghendaki keduanya bertatap muka. Tiba-tiba saja Adeline sudah berdiri di samping Gea dan menyentuh pundaknya.
"Ge,, kamu disini juga.? Apa kabar.?" Sapa Adeline ramah. Gea terpaksa mengukir senyum pada kakak mantannya.
"Pengantin wanitanya, dia sahabat ku." Ujar Gea menjelaskan. Karna Adeline seperti heran melihatnya ada di acara pernikahan Agam dan Arumi.
"Oo,,," Adeline ber O ria dengan ekspresi wajah yang berbinar. Mungkin karna di sebelahnya ada pria tampan yang selalu berada di sampingnya.
Gea sempat beradu pandang dengan Glen, tatapan pria itu terlihat tajam dan mengintimidasi. Mungkin kaget karna ternyata kekasihnya dan Gea saling mengenal.
Melihat tatapan Glen, Gea merasa kalau pria itu akan kembali memperingatkannya agar tidak bercerita apapun pada Adeline.
"Gimana kabar kamu.? Kenapa nggak pernah telfon lagi.?" Cecar Adeline.
"Sepertinya kamu juga mengganti nomor ponsel." Ujarnya lagi. Adeline memang humble dan banyak bicara. Sifatnya tidak jauh berbeda dengan Sean. Sayangnya Sean telah melakukan kesalahan besar dengan berselingkuh dan lebih memilih selingkuhannya di banding mempertahankan hubungan dengan Gea.
"Aku baik Kak." Gea tampak bingung harus menjawab apa lagi. Sebelumnya dia sangat akrab dengan Adeline, tapi karna ada Glen di sebelah Adeline, Gea jadi harus hati-hati dalam bicara.
"Itu,, sebenarnya ponsel lamaku hilang. Jadi aku kehilangan semua kontak di ponselku." Jawabnya bohong. Tapi Adeline tampak percaya saja.
"Kak Adeline kapan pulang.?" Gea bertanya untuk mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah, tapi kamu harus berikan nomor barumu nanti." Ujar Adeline.
"Sudah 3 minggu aku di Indonesia. Minggu depan aku akan tunangan." Tuturnya seraya melirik Glen dengan senyum yang merekah sempurna. Terlihat jelas dari sorot mata Adeline kalau dia sangat mencintai Glen.
"Kenalin, ini Glen calon suamiku." Tutur Adeline.
"Kak, ini Gea. Dia pacar Sean."
Glen mengulurkan tangan lebih dulu, di susul dengan Gea. Keduanya berjabat tangan.
Gea terlihat memaku sejak tadi, bahkan tidak beraksi apapun ketika berjabat tangan dengan Glen.
Hatinya semakin tidak karuan setelah Adeline mengenalkan Glen sebagai calon suaminya. Gea juga cukup terkejut karna Adeline masih mengira hubungannya dengan Sean baik-baik saja. Padahal sudah 1 bulan lebih hubungan mereka berakhir.
"Mantan Kak." Ralat Gea kemudian.
"Sebenarnya aku dan Sean sudah selesai, lebih dari 1 bulan yang lalu." Tuturnya.
"Apa.?!" Adeline terlihat kaget.
"Tapi kenapa Sean bilang kalau hubungan kalian baik-baik saja.?" Tatapan Adeline kini berubah penuh selidik. Dia tampak penasaran sekaligus curiga.
"Maaf Kak, aku permisi dulu." Gea memilih pergi, dia juga turut 1mengajak Aileen serta Sena. Berlama-lama melihat Adeline menggandeng tangan Glen hanya membuat Gea merasakan sesak, walaupun dia sudah berusaha menahan perasaannya.
Flashback off
Sejak saat itu Gea terus menghindar setiap kali melihat Glen dan Adeline. Gadis itu lebih memilih menempati meja yang jauh dari keramaian agar tidak sering-sering bertemu mereka. Beberapa kali Gea melihat Adeline seperti ingin menghampirinya, tapi Glen menahan wanita itu untuk tidak pergi.
Gea hanya tersenyum kecut saat melihatnya.
...******...
"Kenapa.?" Agam bertanya datar sembari menatap Arumi, tapi nada bicaranya terdengar penuh perhatian.
"Kepalaku sedikit pusing." Jawabnya lirih.
Gadis yang masih berdiri di pelaminan itu terlihat sedikit lebih pucat. Sangat jauh berbeda ketika baru naik ke pelaminan.
"Kamu duduk saja,," Titah Agam. Arumi menggeleng cepat. Masih banyak tamu undangan yang naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat dan berfoto bersama, jadi tidak mungkin Arumi setuju untuk duduk dan membiarkan Agam sendirian menyambut tamu undangan.
"Jangan membantah, wajahmu sedikit pucat." Kali ini Agam bicara lebih tegas agar Arumi mendengarkannya. Tatapannya yang tajam juga semakin mendukung.
Arumi sampai mengangguk patuh tanpa protes, mungkin juga gadis itu enggan memperpanjang perdebatan.
Arumi duduk di belakang Agam yang kini sedang menerima ucapan selamat dari rekan-rekan bisnisnya. gadis itu hanya bisa melempar senyum ramah ketika mereka menatapnya.
Agam selalu mengatakan pada tamu undangan kalau Arumi sedang tidak enak badan, jadi tidak ada yang datang pada Arumi untuk mengajaknya berfoto.
Tapi beberapa di antara mereka malah banyak yang meledek Agam lantaran pengantin wanita sedang tidak enak badan.
Mereka mengatakan kalau malam pertamanya akan tertunda sampai pengantin wanita sudah sehat.
Saat sudah tidak ada tamu undangan yang menghampirinya, Agam ikut duduk di sebelah Arumi. Gadis yang tengah memainkan ponselnya itu malah langsung mengajak Agam untuk selfi.
"Kita belum foto pakai ponselku." Katanya seraya mengarahkan ponsel ke depan tanpa meminta persetujuan dari Agam.
"Lebih dekat Om." Perintah Arumi. Jarak dia dan Agam sedikit jauh, tidak seperti pasangan pengantin yang lebih sering menempel ketika sedang berada di pelaminan.
Agam sempat menghela nafas sebelum merapatkan tubuhnya pada Arumi.
Mendengar Agam menghela nafas, Arumi reflek melirik tajam. Hanya di minta berfoto saja respon Agam seperti di minta menggendongnya untuk keliling dunia. Memang dasar manusia dingin.
Arumi kemudian menyuruh Agam untuk tersenyum. Dia terus menginterupsi Agam agar hasil fotonya bagus. Tidak lucu kalau foto selfie mereka di pelaminan memperlihatkan wajah datar Agam. Bisa-bisa orang yang melihat foto itu akan beranggapan kalau Agam terpaksa menikah dengannya.
Arumi sibuk melihat hasil jepretannya. Dia senyum-senyum sendiri memperhatikan satu persatu foto selfinya dengan Agam.
Sementara itu, Agam juga sibuk dengan ponselnya.
"Om,, lebih bagus yang mana fotonya.?" Tanya Arumi sembari menyodorkan ponselnya pada Agam.
"Aku akan memakainya sebagai wallpaper." Tuturnya antusias. Tapi meski sudah bicara panjang lebar, Agam sama sekali tidak merespon. Dia masih sibuk menggerakkan jarinya di layar ponsel. Sibuk mengirimkan pesan pada seseorang. Arumi mengerucutkan bibir karna Agam mengacuhkannya.
"Sepertinya malam pertama kita memang harus di tunda.!" Seru Arumi. Dia terkejut karna Agam langsung meliriknya dengan sorot mata tak bersahabat.
Memang dasar pria mesum, giliran Arumi membicarakan soal malam pertama, mendadak pendengarannya sangat normal.
"Memangnya siapa yang mengijinkanmu untuk menundanya." Ujar Agam tegas.
Arumi menelan kasar ludahnya. Sepertinya akan ada pergulatan luar biasa setelah ini.