
3 hari berlalu sejak acara pernikahan Glen dan Gea. Kini Gea sudah di bawa kembali ke Jakarta oleh Glen dengan status yang berbeda dan tentunya atas ijin orang tua Gea. Meski Hendra sempat menghajar Glen habis-habisan, tapi Glen langsung diterima sebagai anggota keluarga baru setelah menikahi Gea. Hendra mungkin sudah ikhlas dan berdamai dengan keadaan. Karna semuanya sudah terjadi, terus menaruh kebencian pada Glen juga tidak mengubah keadaan. Jadi lebih baik memaafkan asal Glen tulus mau bertanggungjawab dan bisa membahagiakan Gea serta calon cucunya kelak. Begitu juga dengan Farah yang sudah memaafkan Glen. Keduanya berharap pernikahan putri mereka dilimpahi kebahagiaan sampai maut memisahkan.
Hal serupa juga mulai di rasakan oleh Gea. Sekeras apapun batu, lama-lama akan terkikis kalau terus-terusan ditetesi air.
Begitu juga dengan perasaan Gea yang perlahan mulai luluh dengan pengorbanan dan perhatian Glen akhir-akhir ini. Gea bisa merasakan ketulusan dan keseriusan Glen padanya diluar dari kata tanggungjawab atas darah daging mereka.
Intinya Gea sudah tau kalau Glen memang benar-benar mencintainya.
...****...
3 minggu kemudian,,
Pagi itu Glen sengaja bangun lebih pagi dari biasanya karna ingin mengajak Gea ke pantai.
Senyumnya mengembang saat melihat Gea tidur lelap di sampingnya. Paginya terasa lebih cerah dan penuh energi akhir-akhir ini, karna Gea sudah tidak pernah protes lagi untuk tidur satu ranjang dengannya sejak kembali dari Surabaya.
"Sayang, bangun,," Glen mengusap lembut pipi Gea. Pipinya sedikit lebih chubby, sepertinya berat badan Gea naik beberapa kilo.
Gea menggeliat. Dia langsung membuka matanya karna pada dasarnya tidak sulit jika dibangunkan. Apalagi semalam tidur dari jam 9, jadi pagi ini sudah kenyang tidur.
"Aku mau mengajakmu ke pantai, ayo siap-siap." Ujar Glen yang langsung mendaratkan kecupan di kening Gea sembari mengusap lembut perutnya. Rutinitas yang selalu dilakukan oleh Glen setiap kali bangun tidur sejak 2 minggu yang lalu. Gea juga tidak pernah protes, sekarang malah sudah terbiasa.
Gea lantas melirik jam dinding yang baru menunjukkan pukul 5 pagi.
"Sepagi ini.?" Tanya Gea heran. Rasanya masih terlalu pagi untuk pergi ke pantai.
"Biar tidak panas, kita akan sarapan di pantai." Sahutnya kemudian turun lebih dulu dari ranjang.
"Mau mandi duluan.? Atau aku dulu.?" Tawar Glen. Dia mengulurkan tangan untuk membantu Gea bangun.
"Kamu duluan saja." Jawab Gea dan tidak mau beranjak dari ranjang.
Sekarang Gea sudah tidak memanggil Glen dengan sebutan Om lagi karna Glen melarangnya. Dia akhirnya memanggil Glen sebutan kamu atau namanya saja.
"Bagaimana kalau mandi bersama saja untuk menghemat waktu.? Kita harus berangkat 30 menit lagi." Usul Glen yang sebenarnya ingin mencari kesempatan agar lebih intim dengan Gea. Pasalnya sejak menikah sampai sekarang, dia belum pernah mandi bersama dengan Gea, apalagi bercinta. Pedangnya sudah lama menganggur tapi tidak berani minta di asah karna takut Gea akan marah lagi padanya.
"Aku tidak usah mandi." Sahut Gea. Dari nada bicara dan gerak geriknya yang terlihat enggan turun dari ranjang, sepertinya Gea memang sedang malas mandi.
"Kamu sedang hamil, harus jaga kebersihan supaya kamu dan anak kita sehat. Ayo bangun,," Glen membangunkan Gea kemudian menggendongnya.
"Turunkan aku, aku tidak malas mandi." Gea meminta di turunkan, tapi Glen malah tetap menggendong Gea ke kamar mandi.
"Kalau malas duduk manis sada di bathtub, biar aku yang memandikan kamu." Sahut Glen.
Gea mencebikkan bibir sambil mencubit dada Glen. Dia tau kalau suaminya sedang mencari-cari kesempatan untuk menyentuh dan melihat tubuh polosnya.
Meski sudah tau akal bulus Glen, tapi Gea sudah berhenti protes. Dia membiarkan Glen membawanya ke kamar mandi. Mungkin memang sudah saatnya Gea berhenti membatasi diri untuk berinteraksi dengan Glen. Pria itu sekarang sudah menjadi suaminya, jadi tidak seharusnya masih menjaga jarak.
Gea yang awalnya santai, sekarang jadi salah tingkah dan tidak berani menatap Glen. Pasalnya wajah suaminya itu terlihat jelas sedang menahan gairah.
Dua orang lawan jenis di dalam kamar mandi, sama-sama tidak memakai apapun, dengan status suami istri dan keduanya sangat normal, mustahil kalau tidak terjadi sesuatu. Pada akhirnya mereka hanya bertahan 10 menit, setelah itu terjadi adegan panas yang sudah sangat lama di rindukan oleh Glen.
Gea bahkan tidak menolak setiap sentuhan yang Glen berikan. Pada dasarnya mereka berdua sama-sama merindukan sentuhan dan kepuasan batin. Karna dulu mereka melakukannya hampir setiap hari.
...******...
Pukul 7 pagi mereka baru sampai di pantai. Glen mengajak Gea duduk di tepi pantai untuk menikmati udara pagi dan mendengarkan deburan ombak yang menenangkan. Sengaja memilih tempat yang lebih sepi, Glen ingin menikmati waktu berdua dengan Gea agar lebih berkesan tanpa ada gangguan.
Gea reflek menoleh ketika Glen menggenggam tangannya. Pria itu melempar senyum dan tatapan teduh, kemudian mencium punggung tangan Gea.
"Terimakasih sudah bertahan dan memaafkanku." Ucapnya tukus.
"Aku sadar kesalahanku sangat fatal, aku sendiri bahkan sulit memaafkan kesalahanku. Tapi demi kebahagiaan kita bertiga, aku harap kamu tidak mengingat-ingatnya lagi." Pinta Glen memohon.
"Hatimu pasti sangat sakit kalau mengingatnya kan.?" Tanya Glen. Dia tau karna merasakan hal yang sama. Bagaimana pun janin itu juga darah daging Glen. Tentu dia ikut sakit jika mengingat kepergiannya yang tragis akibat kesalahannya.
"Lebih dari sakit. Aku merasa gagal melindungi darah daging ku." Sahut Gea sendu.
"Tapi hidup terus berjalan, aku akan berusaha melupakan kejadian itu tanpa melupakan darah daging ku yang sudah pergi."
"Selama kamu tidak menyakiti kami lagi, aku tidak akan mempermasalahkan kejadian itu di kemudian hari."
Glen mengulum senyum karna lega dengan jawaban Gea. Dia kembali mencium punggung tangan Gea sebelum membawa wanita itu ke dalam dekapannya.
"I love you,," Bisik Glen.
...******...
Hubungan Glen dan Gea semakin membaik sejak saat itu. Kini sudah 7 bulan berlalu dan keduanya sedang gelisah menantikan buah hati mereka yang akan lahir beberapa hari lagi.
Berbeda dengan Arumi dan Agam, mereka sedang berbahagia setelah dikaruniai 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan. Arumi melahirkan ketiga anak kembarnya melalui proses persalinan sesar 1 minggu yang lalu.
Rumah mereka mendadak ramai dan dipenuhi kebahagiaan sejak kehadiran bayi-bayi yang menggemaskan itu. Orang tua Agam dan orang tua Arumi jadi berebut ingin tinggal bersama di rumah mereka agar setiap saat bisa melihat ketiga cucu mereka yang menggemaskan itu.
...****...
End,,,,,
Maaf kalau endingnya gak memuaskan, tapi kalau diteruskan juga alurnya seputar itu saja. Konflik sudah selesai, semua pemeran sudah bahagia.
Jangan lupa mampir di novelku yang lain.
Ada yang baru "Godaan adik ipar"