
"Jawab Sean.!! Apa yang kamu lakukan pada Gea.?! Sekarang dia ingin membalas perbuatanmu dengan merebut Glen dariku.!" Wajah Adeline memerah. Dia mencengkram kuat kerah kemeja Sean, menuntut penjelasan atas perbuatan yang di lakukan pada Gea hingga Gea bertekad merebut Glen sebagai balas dendamnya.
"Kak, tenang dulu.!" Sean melepaskan cengkraman Adeline dari kerah kemejanya.
"Bagaimana bisa Kakak mempercayai orang lain.? Gea tidak sebaik yang Kak kira, itu hanya alibi saja agar punya alasan untuk menggoda Kak Glen."
"Itu sebabnya aku mengakhiri hubungan dengan wanita itu, dia tidak lebih dari seorang penggoda.!" Cibir Sean tanpa ada rasa salah sedikitpun saat mengatakannya.
Sungguh dia berdusta, menghina Gea yang jelas-jelas sudah dia rusak kemudian di tinggalkan begitu saja demi wanita lain. Tak peduli hancurnya perasaan Gea kala itu, di tinggalkan setelah memberikan semua miliknya.
"Kamu jangan bohong Sean.! Gea berubah seperti itu pasti ada alasannya.!" Adeline tak percaya begitu saja, mengingat perubahan sikap Gea hampir 180 derajat. Wanita yang dia kenal sangat baik dan tidak pernah bersikap kurang ajar pada siapapun, tadi siang menunjukkan sisi yang berbeda. Adeline bisa melihat amarah dan kebencian dalam sorot mata Gea. Bahkan Gea berani membentaknya dan terang-terangan mengatakan akan merebut Glen darinya.
Jika di pikir-pikir, rasanya tidak mungkin Gea bisa berubah dalam sekejap kalau tanpa alasan.
Meski sekarang Adeline sangat membenci dan kecewa pada Gea, tapi dia tak gelap mata untuk menumpahkan kesalahan pada wanita itu.
Adeline harus mencari tau alasan Gea ingin menghancurkan kebahagiaannya.
"Kakak lebih percaya wanita itu daripada adik sendiri.?!" Sentak Sean geram. Itu adalah cara untuk menutupi kesalahannya di depan Adeline. Dia tidak akan mengakui perbuatannya terhadap Gea pada Adeline karna enggan di salahkan.
Diam-diam Sean mengepalkan kedua tangannya, dia akan membalas Gea karna sudah mengusik keluarganya.
"Aku tidak akan melepaskanmu, sialan.!" Geramnya dalam hati, mengumpat kasar atas tindakan Gea yang cukup berani.
"Lalu apa kamu bisa jelaskan kejadian di toilet hotel saat acara pertunanganku dengan Glen.?!" Bentak Adeline penuh penekanan. Dia tak akan berhenti mendesak Sean sampai mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Sean tertegun, dia sampai kehabisan kata-kata saking terkejutnya karna ternyata Adeline melihat semuanya.
"Saat itu kamu berusaha melecehkannya bukan.?! Glen bahkan datang untuk menolongnya. Dan luka di bibir kamu malam itu karna tinjuan dari Glen." Tatapan Adeline semakin menelisik. Melihat Sean terdiam dan tampak menelan kasar ludahnya, Adeline semakin yakin kalau Sean memang sudah menyakiti Gea.
"Aku tidak mau tau Sean.!! Kalau sampai dia berhasil merebut Glen dariku, lebih baik aku mengakhiri hidup.!" Ancam Adeline kemudian keluar dari kamar Sean dengan membanting pintu.
Sean berteriak frustasi sembari meremas kasar rambutnya. Dia tidak menyangka Gea akan bertindak sejauh itu untuk balas dendam. Kakaknya bahkan tidak tau apa-apa, tapi harus menjadi sasaran balas dendam.
"Gea,! Kamu akan habis di tanganku.!"
...******...
"Mamah,,," Arumi menghambur ke pelukan Amira. Dia pulang ke apartemen Mamanya sesuai perintah Agam. Karna suaminya itu akan pulang larut malam ini, bahkan kemungkinan bermalam di Jakarta dan baru kembali besok pagi.
"Agam benar-benar tidak pulang hari ini.?" Tanya Amira memastikan. Tadi pagi menantunya itu menelfon dan menitipkan Arumi padanya karna khawatir tidak bisa pulang hari ini.
"Aku belum menelponnya lagi Mah. Tadi pagi hanya berpesan agar aku pulang ke sini setelah kuliah." Arumi melepaskan pelukannya dan masuk ke dalam apartemen, di susul Amira setelah menutup pintu.
"Ya sudah kamu disini saja. Kalaupun nanti malam Agam bisa pulang, minta saja untuk menemui di sini." Ujar Amira seraya mengikuti langkah putrinya menuju dapur.
Amira duduk di kursi meja makan, sementara itu Arumi membuka kulkas dan mengeluarkan minuman dingin untuk di teguk. Dia kemudian bergabung dengan Amira di meja makan dengan duduk di seberangnya.
"Aku tidak melihat Papa sejak hari itu." Ujar Arumi dengan senyum kecut yang menyayat hati. Senyum yang di balut kekecewaan terlampau dalam, bahkan seumur hidupnya baru kali ini dia begitu kecewa dengan seseorang.
"Itu jauh lebih baik, Mama bisa bernafas lega selagi Papa mu tidak muncul." Sahut Amira acuh.
Hal itu menggelitik rasa penasaran Arumi, dia lantas menatap lekat netra sang Mama. Dia ingin memastikan sesuatu dan ternyata memang hanya ada kecewa dan amarah dari sorot matanya.
Nyatanya cinta bisa pudar begitu saja karna pengkhianatan. Pasti sakit dari pengkhianatan sangat dahsyat sampai bisa menghancurkan cinta yang sudah berdiri kokoh selama belasan tahun.
Arumi baru selesai mandi, di keluar dari kamar tamu dan menghampiri Amira di ruang keluarga.
Sang Mama tampak sibuk dengan setumpuk berkas dan macbook di atas meja.
Arumi sudah pernah di ceritakan oleh Amira tentang semua aset milik sang Papa akan segera berpindah tangan. Bahkan meja kepemimpinan perusahaan sebentar lagi akan di duduki oleh sang Mama.
Arumi baru tau kalau ternyata ada perjanjian pranikah yang dilakukan kedua orang tuanya. Dia cukup senang mengetahui 90 aset akan jatuh ke tangannya dan tangan sang Mama.
"Mah,,," Lirih Arumi yang sebenarnya tidak ingin menganggu konsentrasi Amira.
"Ya, kenapa sayang.?" Amira langsung mengalihkan tatapannya pada sang putri.
"Apa berpisah akan membuat Mama jauh lebih baik.?" Arumi menatap sendu netra sang Mama. Dia menyimpan luka yang tidak mau di tunjukkan pada Amira, luka batin melihat wanita yang sangat berharga dalam hidupnya di sakiti dengan begitu tega tanpa perasaan.
Wanita yang selama belasan tahun menjadi istri terbaik dan penurut, namun di balas dengan sebuah pengkhianatan.
"Tentu saja. Kamu jangan berfikir Mama sedih karna harus berpisah dari Papa mu."
"Sebuah pengkhianatan tidak bisa di tolerir, Arumi. Kecuali Mama melakukan kesalahan dan tidak menjadi istri yang baik untuk Papa mu. Mungkin itu bisa si maklumi." Ujar Amira. Dia sudah lebih tenang karna mencoba ikhlas atas semua yang terjadi dalam hidupnya.
"Aku akan mendukung apapun keputusan Mama, selagi itu membuat Mama merasa tenang dan lebih baik." Arumi berpindah duduk ke samping Amira dan langsung memeluknya.
*****
Othor kehabisan ide 🙏🏻 maaf kalo jarang up.