Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 132



1 minggu berlalu, Gea sudah melakukan aktivitas seperti biasa sejak saat itu. Kemunculannya di kampus menjadi pusat perhatian teman-teman di kelasnya yang selama ini menanyakan keberadaan Gea. Belum lagi rentetan pertanyaan dari Arumi, Aileen dan Sena yang harus Gea jawab satu persatu. Kini Gea tak lagi menyembunyikan apapun dari ketiga sahabatnya, dia mengakui soal kehamilannya dan hubungannya dengan Glen selama ini. Mungkin karna sudah tidak tahan memendam semuanya sendirian, Gea akhirnya jujur untuk berbagi beban yang selama ini dirasakan seorang sendiri.


Hubungan Gea dengan Glen belum ada kemajuan sampai sekarang. Gea lebih banyak diam dan mengabaikan keberadaan Glen meski 1 minggu terakhir mereka tidur di atas ranjang yang sama.


Glen belum berhasil meluluhkan hati Gea, dia sedikit kesulitan mendapatkan maaf dari wanita tersebut. Hati Gea mungkin sudah terlanjur hancur atau bisa jadi sudah mati rasa untuk pria yang bernama Glen itu. Jadi walaupun sudah berkali-kali Glen meminta maaf dan berjanji akan menebus kesalahannya, hati Gea tidak tergerak sama sekali.


Gea juga tidak merasa besar kepala meski sadar dia sedang di kejar-kejar oleh pria tampan yang tadinya bersikap dingin itu. Kalau Glen mengejarnya sebelum kejadian buruk 2 minggu lalu, mungkin Gea bisa merasa bangga di kejar Glen.


Pagi ini Gea tengah bersiap pergi ke kampus. Dia baru saja selesai mandi dan kini duduk di depan meja rias. Meja rias itu baru di beli Glen 1 hari setelah mereka menempati apartemen. Pria itu cukup peka dengan kebutuhan wanita. Gea bahkan hampir tersentuh karna Glen membeli meja rias itu khusus untuknya, tapi mengingat Glen yang membuatnya ada disini dengan situasi serumit ini, Gea berfikir sudah seharusnya Glen memenuhi semua kebutuhannya tanpa terkecuali.


"Sudah selesai.?" Suara lembut Glen membuyarkan lamunan Gea. Dia sudah selesai merapikan rambut memoles make up dan lipstik tipis di bibirnya tapi malah duduk melamun menatap dirinya dalam pantulan cermin.


Pandangan Gea beralih pada pria yang tengah berdiri di belakangnya. Tidak hanya Gea yang sudah rapi, Glen sudah rapi dengan celana panjang dan kemeja panjang warna putih. Tanpa memakai dasi dan jas seperti biasanya. Gea tidak merasa aneh dengan hal itu, dia berfikir kalau Glen hanya belum memasangkan dasi dan jasnya saja.


Tanpa menjawab pertanyaan Glen, Gea langsung beranjak dari duduknya serasa menyambar tas dan ponsel. Dia berjalan mendahului Glen seperti biasa. Pria sama sekali tidak tersinggung meski jelas-jelas di abaikan Gea. Glen sadar semua sikap yang dia terima dari Gea adalah hasil dari apa yang sudah dia tabur selama ini pada wanita itu. Jadi Glen mencoba menerima dan berbesar hati memahami sikap Gea.


"Aku ada urusan penting nanti siang, sepertinya tidak bisa menjemputmu." Tutur Glen. Gea hanya mengangguk sebagai respon, dia tak mempermasalahkan bisa dijemput Glen atau tidak.


"Gea,," Glen mencekal pergelangan tangan Gea saat wanita itu hendak membuat pintu apartemen. Gea menatap datar dan membiarkan tangannya di genggam oleh Glen.


"Sampai kapan kamu menyembunyikan kehamilan ini, perutmu akan semakin membesar." Ucap Glen lirih, dia tampak hati-hati dalam bicara, mungkin takut menyinggung perasaan Gea.


Glen diam-diam mencari tau keberadaan orang tua Gea dan sudah mendapatkan alamat tempat tinggal mereka. Sebenarnya dia sudah bicara baik-baik pada Gea agar mau memberitahu tempat tinggal orang tuanya, tapi Gea enggan memberitahu dan meminta Glen supaya tidak menceritakan kehamilannya pada mereka.


"Sepertinya Om benar-benar ingin aku pergi.!" Ujar Gea kesal.


Gea menyadari kesalahannya yang tidak bisa menjaga diri sampai akhirnya harus hamil diluar nikah dan tanpa ada status dengan pria yang menghamilinya. Namun dia tidak cukup berani mengakui kesalahannya di depan kedua orang tuanya. Gea tau kabar kehamilannya hanya akan menghancurkan hati kedua orang tuanya dan membuat mereka malu, jadi Gea berniat menutupinya.


Glen menghela nafas frustasi. Sebenarnya dia bisa saja pergi ke Surabaya dan menemui kedua orang tua Gea untuk meminta maaf dan mempertanggungjawabkan perbuatannya, namun dia takut hal itu akan membuat Gea semakin membencinya.


"Tolong pikirkan anak kita, jangan membuatnya lahir tanpa status." Glen menatap memohon.


"Aku sudah terlalu banyak melakukan kesalahan padamu dan anak-anak, beri aku kesempatan untuk menebus semuanya." Mata Glen berkaca-kaca, dia seperti ingin menangis tapi gengsi. Mungkin tidak mau terlihat lemah di mata Gea, atau takut di bilang modus untuk mendapatkan belas kasihan dengan pamer air mata.


"Tidak ada jaminan Om akan berhenti melakukan kesalahan jika aku memberi kesempatan.!" Tegas Gea seraya menarik tangan dari genggaman Glen.


"Semua orang bisa berubah, terlepas seperti apa masa lalu dan kesalahan yang pernah dia lakukan." Ucapan Glen membuat Gea mengurungkan niat membuka pintu.


Dia tau semua orang punya kesempatan dan keinginan untuk berubah, tapi dia tidak yakin seorang Glen benar-benar bisa berubah.