Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 48



Malam itu Agam datang ke rumah Arumi sesuai janjinya untuk pergi menonton.


sebenarnya Agam masih punya beberapa pekerjaan. Akhir-akhir ini dia sangat sibuk lantaran sedang mengerjakan proyek barunya.


Tapi entah kenapa Agam lebih memilih menepati janji pada Arumi di banding menyelesaikan pekerjaannya.


Saat ini Agam tengah duduk di ruang tamu, di temani Andrew dan juga Amira. Sedangkan Arumi masih bersiap di dalam kamarnya. Tidak tau apa yang gadis itu lakukan hingga tak kunjung keluar dari kamar.


"Bukannya perusahaan sedang banyak pekerjaan.?" Ujar Andrew setelah mereka berdua membicarakan seputar perusahaan masing-masing.


"Arumi memang suka ngambek kalau permintaannya nggak di turuti, tapi kamu bisa menolak kalau memang sedang banyak pekerjaan. Jangan sampai pekerjaan kamu jadi terbengkalai hanya karna menuruti permintaan Arumi." Tuturnya menasehati.


Ucapan Andrew memang ada benarnya, tapi hal itu justru membuat Agam merasa heran. Harusnya Andrew senang karna hubungan putrinya dan Agam akan semakin dekat dengan sering pergi berdua. Tapi disini jeles sekali Andrew tidak ingin putrinya menganggu pekerjaan Agam.


"Nggak masalah Om. Saya masih bisa menghandle pekerjaan." Jawab Agam santai. Dia tidak keberatan sama sekali untuk menemani Arumi pergi.


"Ayo Kak, aku sudah siap." Suara ceria Arumi yang khas, menggema di ruangan besar itu. Ketiganya kompak menoleh, menatap gadis yang baru saja menuruni tangga.


Arumi tampak cantik dalam balutan dress warna putih sebatas lutut dan tanpa lengan. Dipadukan dengan sneakers putih dan tas selempang hitam. Rambut panjangnya di kuncir kuda, Arumi hanya menyisakan sedikit rambut di bagian depan sebagai poni. Gadis berusia 18 tahun itu kini terlihat jauh lebih muda dari usianya.


Mungkin jika orang lain yang tidak mengenal Arumi, mereka akan mengira gadis itu masih duduk di bangku SMP. Walaupun postur tubuh Arumi cukup tinggi.


"Duduk dulu Arumi, Papa ingin bicara." Andrew meminta putrinya untuk bergabung dengan mereka. Ekspresi wajahnya tampak serius, membuat Arumi langsung duduk di sebelah Agam.


"Ada apa Pah.?" Arumi di buat penasaran. Entah apa yang akan di bicarakan oleh sang Papa padanya, dan dia harap bukan sesuatu hal yang buruk.


"Kamu jangan terlalu sering meminta pergi dengan Agam. Calon suamimu sedang banyak pekerjaan akhir-akhir ini. Kamu harus bisa mengerti." Ujar Andrew menasehati. Bukan tanpa alasan Andrew menasehati putrinya agar bisa memahami pekerjaan Agam. Karna pria paruh baya itu berharap perusahaan milik orang tua Agam semakin besar. Dengan begitu, Arumi juga yang akan menikmati hasilnya.


"Tapi Pah, kami jarang pergi bersama. Aku yang lebih banyak datang ke kantor Kak Agam." Protes Arumi. Bibirnya tampak mencebik karna sekarang malah di larang untuk sering-sering pergi berdua dengan Agam. Padahal beberapa hari lalu Papanya selalu menanyakan hubungannya dan sangat mendukung jika akan bertemu Agam.


"Lagipula besok hari sabtu, apa salahnya kalau malam ini aku pergi sama Kak Agam." Masih dengan gaya bicaranya yang manja, Arumi melirik sang Mama dan Agam untuk meminta pembelaan.


"Sudah Pah, biarkan saja mereka pergi. Agam juga nggak keberatan nemenin Arumi jalan." Amira menyentuh lembut lengan Andrew seraya menatap teduh.


Sebagai seorang ibu, Amira lebih memilih untuk mementingkan kebahagiaan Arumi. Dia tentu tidak akan melarang Arumi jika ingin bertemu ataupun pergi dengan Agam terus-menerus.


Andrew awalnya masih bersikeras menahan Arumi dengan cara menasehatinya terus menerus,


Tapi kemudian dia tampak pasrah ketiga Agam pamit untuk membawa Arumi jalan.


...*****...


"Kenapa Papa tiba-tiba jadi menyebalkan seperti itu." Arumi menggerutu. Bibirnya tampak mengerucut kesal.


Agam yang tengah fokus melakukan mobil hanya melirik sekilas tanpa meresponnya.


"Om,," Arumi memanggil Agam lantaran tidak ada tanggapan apapun darinya, padahal dia berharap bisa mengobrol santai dengan Agam jika sedang berdua.


"Hem,," Deheman singkat Agam membuat gadis cantik itu menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan.


"Sabar Arumi, bicara dengan kulkas dua pintu memang sedikit menguras emosi." Arumi bergumam pada dirinya sendiri, tapi dia sengaja bicara keras supaya Agam mendengarnya.


"Kamunya aja yang gampang emosi." Sahut Agam. Dia menatap Arumi dari kaca spion dan melihat bibir gadis itu semakin mencebik dengan bola mata membulat sempurna.


Kali ini reaksi Agam membuat Arumi menarik nafas dalam-dalam, karna Agam hanya melirik sekilas.


"Nanti setelah menikah kita tinggal dimana.?" Arumi bertanya serius. Dia sampai memiringkan tubuhnya ke arah Agam agar bisa lebih leluasa menatapnya.


"Aku nggak mau tinggal di rumahku ataupun di rumah orang tua Om Agam." Ujarnya memberi tau. Secara tidak langsung Arumi mengatakan hanya ingin tinggal berdua saja bersama Agam.


Bukan tanpa alasan Arumi memiliki keinginan seperti itu. Meski sikapnya terbilang kekanakan, namun Arumi cukup paham dengan kehidupan rumah tangga. Gadis itu telah banyak belajar. Tak hanya dari kehidupan di sekitarnya saja, tapi juga melalui media sosial.


Dia cukup matang mempersiapkan diri untuk menjalani pernikahan bersama Agam.


"Ada apartemen, kita bisa tinggal di sana kalau kamu mau." Kata Agam yang masih fokus menyetir.


"Atau mau cari rumah saja.?" Tawar Agam. Seketika Arumi semakin antusias untuk membahas tentang tempat tinggal karna respon Agam cukup baik.


"Menurut Om, lebih baik tinggal di rumah atau apartemen.?" Tanya Arumi meminta pendapat.


Obrolan kedua semakin dalam dan tampak serius membahas dimana mereka akan tinggal setelah menikah nanti.


Agam menjelaskan kelebihan dan kekurangan dari kedua pilihan itu. Arumi sangat serius mendengarkan setiap perkataan Agam dan tidak memotongnya sama sekali.


"Kalau begitu tinggal di rumah saja. Kita cari rumah yang dekat dengan kantor Om." Arumi memberi keputusan setelah Agam selesai bicara.


"Aku ingin langsung punya anak setelah menikah." Ujarnya.


Gadis itu berfikir jika apartemen tidak akan cocok untuknya yang ingin segera memiliki anak. Jadi dia memutuskan untuk mencari rumah saja.


Agam hampir tersedak ludahnya sendiri saat mendengar keinginan Arumi. Pria itu terkejut dengan keinginan gadis berusia 18 tahun itu.


Agam pikir Arumi akan meminta untuk menunda memiliki anak, mengingat gadis itu baru saja masuk kuliah.


"Kamu yakin.?" Tanya Agam memastikan.


"Hum,,," Arumi mengangguk yakin.


"Tinggal di rumah akan lebih menyenangkan untuk anak-anak. Mereka bisa,,,".


"Bukan itu maksudku." Potong Agam cepat.


"Lalu.?" Arumi menautkan alisnya saat menatap Agam.


"Soal anak. Kamu yakin ingin hamil di usia muda.? Kamu baru 18 tahun." Agam melirik serius, dia hampir kehilangan fokus menyetirnya karna sedikit kaget dengan keinginan Arumi.


"Sangat yakin Om. Pasti akan sangat menyenangkan punya anak di usia yang masih sangat muda." Ujar Arumi dengan mata yang berbinar. Sejak dulu memang itu impiannya.


"Kamu sedang menyindirku.?" Ketus Agam. Rupanya pria itu tersinggung karna merasa dirinya sudah tua dan belum memiliki anak.


Arumi terkekeh geli lantaran baru menyadari hal itu. Jika nanti mereka menikah dan Arumi langsung hamil, Agam akan memiliki anak di usia 33 tahun.


"Usia nggak penting Om, fisik Om terlihat seperti umur 25 tahun." Puji Arumi untuk menyenangkan hati Agam. Walaupun pada kenyataannya Agam memang terlihat lebih muda dari usianya.