Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 61



Sudah 4 hari sejak Glen pergi meninggalkan apartemen tanpa mengatakan pada Gea akan pergi kemana.


Dan sejak kemarin malam Gea seolah menunggu kepulangan Glen, karna pria itu bilang hanya pergi selama 3 hari. Tapi sekarang hampir menjelang malam lagi, Glen belum juga pulang ke apartemen.


4 hari tanpa Glen, melakukan aktivasi sendirian di apartemen. Gea jadi sering melamun saat sarapan ataupun makan malam seorang diri. Biasanya ada Glen yang duduk di depannya. Menjadi teman makan meski terkadang bertingkah menyebalkan.


Dan saat ini Gea tampak tidak berselera menikmati makan malamnya yang dia masak sendiri. Gea memasak makanan kesukaan Glen karna berfikir pria itu pasti akan pulang malam ini. Sayangnya setelah menunggu sampai pukul 9 malam, Glen belum muncul juga. Akhirnya gadis itu menyantap makan malamnya seorang diri.


"Kenapa juga aku harus menunggu dia." Keluhnya dengan helaan nafas berat. Gea merasa jika dirinya sangat berharap pada Glen sampai-sampai rela telat makan malam hanya karna menunggu Glen pulang.


Buru-buru menghabiskan makan malamnya, Gea membereskan makanan yang tersisa dan mencuci piring bekas miliknya. Setelah selesai, Gea bergegas pergi ke kamarnya.


Daripada dia terus gelisah memikirkan Glen yang tak kunjung pulang, lebih baik masuk ke dalam kamar dan tidur lebih awal.


Tapi niatnya untuk tidur lebih awal tidak semudah yang dia pikirkan. Setelah 1 jam masuk ke kamarnya, Gea belum juga memejamkan mata. Dipikirkannya selalu muncul wajah pria itu. Padahal mungkin saja Glen sedang bersenang-senang dengan kekasihnya. Menghabiskan waktu bersama selama berhari-hari.


Membayangkan Glen bersama kekasihnya, menikmati waktu berdua dan menghabiskan malam bersama, seketika Gea merasakan hatinya tercubit. Sedikit sakit dan ngilu.


Gea membuang nafas kasar. Gadis itu langsung merutuki dirinya sendiri setelah menyadari kecemburuannya pada Glen yang tak beralasan.


Wajar jika Glen menghabiskan waktu bersama kekasihnya. Sedangkan dia dan Glen tidak memiliki hubungan apapun.


Jika di pikir-pikir, seharusnya kekasih Glen lah yang lebih berhak untuk cemburu. Karna Glen membawa wanita untuk tinggal di apartemennya, bahkan hampir setiap hari Glen ber cinta dengannya. Wanita mana yang tidak akan cemburu jika kekasihnya tinggal dan berhubungan dengan wanita lain.


Suara pintu yang tertutup membuat Gea menyibak selimut dan turun dari ranjang. Dia membuka sedikit pintu kamarnya untuk mengintip. Walaupun sudah tau siapa yang membuat suara itu, tapi Gea tetap ingin memastikannya sendiri.


"Hmm,, aku baru sampai." Glen terdengar berbicara dengan seseorang melalui sambungan telpon.


Tidak mau ketahuan mengintip, Gea buru-buru menutup pintu kamarnya dan kembali merebahkan diri di atas ranjang. Pintu di biarkan tertutup tanpa di kunci. Tentu saja itu peraturan dari Glen. Gea di larang mengunci pintu kamarnya. Mungkin agar Glen bisa bebas keluar masuk ke kamar Gea kapanpun dia mau.


Gea memejamkan mata ketika mendengar pintu kamarnya di buka.


"Bangun. Aku tau kamu pura-pura tidur.!" Suara berat Glen terdengar dingin. Pria dengan perawakan tinggi itu berjalan menghampiri ranjang Gea. Wanita yang sudah dia manfaatkan selama 3 minggu itu tampak berbalik badan ke arahnya.


"Aku memang mau tidur." Lirih Gea seraya memberingsut ke tengah lantaran Glen semakin mendekat.


"Aku baru saja pulang, kamu malah mau tidur.?" Glen tersenyum miring. Senyum itu menjelaskan kalau Glen tidak akan membiarkan Gea tidur begitu saja.


"Om juga mau istirahat kan.? Pasti cape karna baru pulang." Kata Gea mencoba melepaskan diri dari tatapan buas Glen yang kelaparan.


"Bangun dan pergi ke kamarku. Aku tunggu 5 menit dari sekarang." Tegas Glen seraya berlalu dari kamar Gea.


Pria itu membuat Gea melongo tak percaya. Dalam keadaan baru pulang yang pastinya lelah dan butuh istirahat, Glen seperti tidak mau rugi sama sekali. Dia seolah tak mau melewatkan hari tanpa ber cinta dengan Gea selagi ada di dekatnya.


Turun dari ranjang dengan buru-buru, Gea berkaca sejenak untuk memastikan wajah dan rambutnya tidak acak-acakan. Padahal Gea sempat kesal saat tau jika Glen ingin meminta haknya, tapi gadis itu masih sempat memikirkan penampilannya agar tidak mengacaukan suasana hati Glen yang sedang menggebu.


Keluar dari kamarnya, Gea bergegas pergi ke kamar Agam. Pintu kamarnya tampak sengaja dibiarkan terbuka. Gea masuk dan menutup pintunya. Detak jantungnya mulai tidak beraturan. Raut wajahnya jelas menunjukkan kegugupan. Gea berjalan pelan ke arah ranjang berukuran king size itu.


Glen tidak terlihat di sana. Si pemilik kamar tampaknya sedang berada di kamar mandi.


Gea memilih duduk di tepi ranjang sembari menunggu pria itu keluar dari dalam kamar mandi.


Di tengah-tengah rasa gugupnya, Gea di buat terkejut dengan dering ponsel milik Glen di atas nakas. Awalnya Gea hanya melirik acuh, tapi entah kenapa matanya tak mau beralih dari benda pipih itu. Ada rasa penasaran yang tiba-tiba menyeruak dalam benaknya. Ya, Gea ingin tau siapa yang menelfon Glen.


Gea beranjak dari duduknya untuk melihat ponsel Agam di atas nakas. Tapi sebelum menghampiri ponsel Glen, Gea lebih dulu melirik ke arah pintu kamar mandi untuk memastikan keadaan aman.


Jangan sampai Glen keluar dari kamar mandi di saat ponselnya sedang berada di tangan Gea. Bisa-bisa pria itu akan berfikir kalau Gea akan mencuri lagi.


Ponsel Glen masih berdering, Gea buru-buru mengambilkan dan menatap dengan teliti layar ponsel milik Glen. Saat itu juga kedua mata Gea membelalak sempurna. Ponsel mahal milik Glen hampir jatuh dari tangannya. Gea berusaha menenangkan diri sendiri dan meletakkan ponsel itu di tempat semula sebelum dia menjatuhkannya karna kaget.


"Kenapa dunia sempit sekali." Lirih Gea tak habis pikir. Dia jelas mengenali sosok wanita yang baru saja menghubungi Glen. Kontak yang diberi nama Honey itu memajang foto profil dirinya dan Glen dengan latar belakang pantai.


"Sean, apa ini karma karna kamu sudah mencampakkan ku seperti sampah.!" Gumam Gea dengan seringai penuh kebencian dan dendam pada sosok mantan kekasihnya itu.


Tiba-tiba sebuah niat jahat terbesit dalam benak Gea untuk membalaskan rada sakit hatinya pada Sean yang sudah meninggalkannya begitu saja.


Padahal Sean tau kalau Gea sangat mencintainya sampai rela memberikan kesuciannya pada laki-laki itu. Tapi Gea harus menelan pil pahit karna Sean memutuskan hubungan mereka secara sepihak setelah ketahuan berselingkuh.


Hari itu mungkin akan menjadi hari paling buruk dalam hidup Gea. Laki-laki yang selama ini dia cintai, tega mengkhianatinya dan memutuskan hubungan hari itu juga.


Gea buru-buru duduk kembali di tepi ranjang setelah mendengar pintu kamar mandi di buka.


Glen langsung di sambut senyum manis yang mengembang sempurna di wajah cantik Gea.


Sesaat Glen terpaku akan senyuman itu, tanpa tau jika di balik senyum itu Gea memiliki sebuah rencana yang melibatkan dirinya.