
Suasana di ruang make up seketika hening. Arumi tampak acuh, diam di tempat duduknya dan menyibukkan diri dengan ponsel. Padahal sudah tau ada Agam yang sengaja menyuruh semua orang keluar dari ruangan hanya untuk bicara empat mata padanya.
"Acara pernikahan kita 2 jam lagi. Masih mau pasang wajah cemberut seperti itu.?" Tegur Agam lembut. Belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, dia merasa harus berucap lembut dan hati-hati jika bicara dengan Arumi. Entah karna hatinya yang terlalu lembut, atau memang Arumi gampang tersinggung dan baper. Yang jelas Agam merasa serba salah kalau sudah berdebat dengannya.
Arumi melirik sekilas, menatap Agam yang kini menempati kursi kosong di sebelahnya. Arumi sempat memperhatikan penampilan Agam, rambut pria itu terlihat habis di potong rapi, wajahnya juga bersih dari bulu-bulu halus yang biasanya menghiasi area tulang pipi dan dagu.
Di mata Arumi, Agam sangat tampan dan gagah. Wajahnya tidak menunjukkan kalau sebenarnya pria itu sudah cukup dewasa.
Arumi menggeleng cepat beberapa kali setelah menyadari apa yang ada di isi kepalanya. Bisa-bisanya dia masih mengagumi Agam di saat sedang kesal padanya.
Tapi pesona dan kharisma Agam memang sulit untuk di tolak. Setiap wanita yang melihat Agam mungkin akan merasakan hal seperti yang di rasakan oleh Arumi.
"Om sangat menyebalkan." Bibir Arumi mencebik. dia juga membuang muka ke arah lain, padahal belum puas menatap wajah tampan Agam. Beberapa hati tidak bertemu, kadar ketampanan Agam jadi bertambah di mata Arumi. Sayang sekali dia belum memaafkan Agam, kalau sudah, mungkin dia akan memeluk Agam. Melepaskan kerinduan tertahan setelah berhari-hari tidak bertemu.
"Terimakasih pujiannya,," Ucap Agam.
Arumi sontak menoleh, keningnya berkerut. Dia baru saja mencibir Agam, tapi pira itu malah berterimakasih padanya dan menganggap hal itu sebagai pujian. Mungkin telinga Agam sedikit bermasalah, jadi salah dengar.
"Aku sedang mencibir Om.!" Sahut Arumi. Masih menunjukkan kekesalannya di depan Agam, tapi tatapan matanya jelas berkata lain. Agam bisa merasakan kalau Arumi sebenarnya rindu padanya dan perasaan cintanya tidak luntur sedikitpun. Itu terpancar dari sorot mata Arumi ketika menatapnya.
"Ck,, dasar gengsian."
Cibir Agam dalam hati. Agam tidak sadar kalau dia dan Arumi sebenarnya sama saja. Memiliki gengsi dan ego yang tinggi. Entah akan seperti apa jika kedua kepala itu di satukan dalam ikatan pernikahan. Mungkin setiap hari rumah mereka akan di hiasi dengan perdebatan.
"Aku pikir kamu baru saja menyebutku tampan." Ujar Agam santai. Tingkat kepercayaan dirinya membuat kedua bola mata Arumi membulat sempurna.
"Di depan Om sudah di sediakan cermin, silahkan berkaca." Jawab Arumi ketus. Bibirnya yang sensual kembali mencebik, Agam sampai gemas ingin menyambar bibir itu menggunakan bibirnya dan me nye sapnya kuat agar Arumi tidak banyak bicara lagi.
"Ayolah Arumi,, jangan membuat kedua orang tuamu dan orang tua kita khawatir di hari pernikahan kita. Apa yang akan mereka pikirkan kalau melihat mu cemberut dan memasang wajah menyedihkan seperti itu.?" Agam benar-benar membujuk Arumi dengan menurunkan ego serendah-rendahnya. Tidak peduli dengan citranya dan sifatnya yang memang sejak dulu terkenal dingin dan acuh.
"Salah siapa Om membuatku kesal.!" Arumi malah mendengus.
Agam menarik nafas dalam. Kesabarannya yang setipis lingerie pengantin baru, harus membuat pria itu berkali-kali menarik nafas dalam ketika sedang beradu dengan Arumi.
"Kamu sendiri yang menyuruhku bersikap tegas pada Livia. Aku sudah bertemu dengannya dan memberinya peringatan. Dia nggak akan berani lagi mengganggu kamu ataupun aku." Tutur Agam menjelaskan. Dia sampai bosan menjelaskan hal itu pada Arumi.
Sebenarnya kekesalan Arumi semakin bertambah ketika mengetahui Agam menemui Livia. Dan Agam sudah menyadari hal itu. Dia jadi merasa serba salah. Jelas-jelas Arumi sendiri yang memintanya untuk bersikap tegas. Tapi setelah bilang akan bertemu dengan Livia, kekesalan Arumi semakin bertambah dan malam itu langsung mengusir Agam dari rumahnya.
Agam melongo, mendadak kepalanya terasa nyeri. Jemarinya langsung reflek memijat pelipis.
Ooh,,, dasar Arumi, remaja yang baru akan beranjak dewasa. Sulit sekali memahami isi hati dan kepalanya. Agam menggerutu dalam hati.
"Kamu juga nggak bilang kalau mau ikut. Arumi, aku bukan dukun yang mengaku-ngaku bisa membaca isi kepala orang.!" Ujar Agam penuh penekanan.
"Harusnya waktu itu kamu bilang padaku, jangan mempersulit diri sendiri." Agam mendorong kening Arumi dengan telunjuknya.
"Omm.!!" Arumi memukul lengan Agam.
Padahal Agam hanya mendorongnya pelan-pelan, tapi Arumi membalasnya dengan pukulan yang lumayan sakit. Memang dasar wanita, hobby sekali menyakiti pria. Agam bergumam dalam hati.
"Apa harus di cium dulu supaya kamu berhenti marah-marah." Agam menarik kursi Arumi agar semakin dekat, dia juga memutar kursi mereka hingga posisinya saling berhadapan.
Agam bergerak sangat cepat ketika meraih tengkuk Arumi. Gadis itu sampai tidak punya kesempatan untuk menghindar.
Detik berikutnya, Arumi merasakan bibirnya di lu mat dan di Hi sap cukup dalam oleh Agam.
Agam tidak memberinya kesempatan untuk melawan. Kedua tangan Arumi dipegangi Agam, membuatnya tidak bisa mendorong tubuh kekar yang memiliki tenaga cukup besar.
Cukup lama Agam mengabsen setiap inci bibir Arumi. Dia membuat gadis itu hampir kehabisan nafas.
Agam kemudian melepaskan ciumannya, tapi tidak melepaskan Arumi begitu saja. Bibirnya kini pindah ke telinga Arumi, melakukan sesuatu yang manpu meruntuhkan pertahanan Arumi. Tubuhnya tidak lagi memberontak, kini malah terasa menegang.
"I love you,," Sebuah kalimat yang sejak dulu sangat ingin di dengar oleh Arumi dari bibir Agam.
Arumi memaku, beberapa kali mengerjapkan mata tak percaya. Agam baru saja mengungkapkan kalimat sakral itu tepat di telinganya.
"Aku mencintaimu Arumi, berhenti marah padaku dan jangan berfikir macam-macam lagi." Agam mempertegas ucapannya lantaran Arumi memaku tanpa mengatakan apapun. Tatapan matanya bahkan menerawang jauh.
Arumi mencoba mengatur detak jantungnya yang tiba-tiba bergemuruh setelah Agam mempertegas pernyataan cintanya. Ucapan Agam terdengar sangat tulus. Itu yang membuat Arumi tak bisa berkata-kata. Dia yakin Agam tidak berbohong, ataupun asal mengungkapkan cinta hanya untuk membujuknya saja.
Mata Arumi berkaca-kaca. Dia sangat terharu. Dia pikir cintanya pada Agam hanya bertepuk sebelah tangan. Bahkan Arumi sempat berfikir cintanya mungkin tidak akan pernah terbalas untuk waktu yang sangat lama. Mengingat selama ini sikap Agam padanya sangat acuh dan dingin.
"Aku mengajakmu bicara berdua supaya kamu berhenti memasang wajah sedih, kenapa sekarang malah menangis.?" Agam kebingungan melihat Arumi yang tiba-tiba meneteskan air matanya. Tanpa menjawab pertanyaan Agam, Arumi malah menghambur ke pelukan pria itu.