Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 76



Gea menghembuskan nafas kasar. Dia kesal lantaran taksi online yang dia pesan belum juga datang. Sudah lebih dari 15 menit menunggu di lobby hotel. Semua tamu undangan juga hampir seluruhnya sudah meninggalkan tempat acara. Termasuk Aileen dan Sena. Gea memang sengaja menolak saat Aileen menawarkan tumpangan. Karna tidak mau sahabatnya itu tau dimana tempat tinggalnya saat ini.


Begitu juga dengan Glen. Entah kemana pria itu. Mungkin sudah pulang bersama pujaan hatinya.


Sejak tragedi percintaan panas di toilet, Glen tidak menunjukkan batang hidungnya lagi di depan Gea. Gadis itu juga sempat mencari keberadaan Glen dengan mengedarkan pandangan ke semua sudut ballroom, tapi pria itu dan kekasihnya tidak terlihat di sana.


Hal itu membuat Gea sedikit merasakan sesak di dada. Sadar jika hanya di manfaatkan untuk memuaskan naf- su saja, tapi tetap kecewa pada sikap Glen setelah itu.


"Kenapa belum pulang.?" Suara maskulin muncul dari arah belakang. Gea menoleh, penasaran dengan suara asing yang menyapanya.


Tapi rupanya dia sudah pernah mendengar suara itu sebelumnya. Pemilik suara itu adalah seseorang yang dia lihat ada di toilet pria bersama Glen.


Gea lantas mengukir senyum tipis, membalas senyuman pria itu yang terlihat sangat ramah dan hangat.


"Sedang menunggu taksi." Tak banyak bicara, Gea hanya menjawab seperlunya. Lagipula dia tidak kenal dengan pria tersebut, meskipun Glen terlihat berteman dekat dengannya.


"Sudah hampir setengah 12. Nggak baik seorang gadis pulang semalam ini pakai taksi." Komentar Ricko.


"Sebaiknya ikut denganku saja, biar aku antar kamu pulang." Tawarnya.


Memang dasar, pria di mana-mana sama saja. Selalu ada cara untuk melakukan pendekatan.


Tapi Ricko mungkin sedikit berbeda, karna dia malah sengaja mendekati Gea walaupun sudah di peringatkan oleh Glen.


Dia jelas tau konsekwensinya jika bermain-main dengan Glen. Sayangnya rasa penasarannya terhadap Gea jauh lebih besar di banding rasa takutnya pada Glen.


"Makasih tawarannya, aku pakai taksi saja." Gea menolak halus. Dia justru lebih takut jika pulang bersama teman Glen. Selain tidak kenal, Gea tidak mau memancing amarah Glen. Dia sudah di beri peringatan supaya tidak dekat dengan pria manapun selama masih menjadi partner di atas ranjangnya.


"Aku Ricko,." Ricko tiba-tiba memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangannya pada Gea.


"Kamu pasti nggak mau pulang bareng karna kita belum saling kenal kan.?" Tuturnya. Pria itu seolah tau apa yang membuat Gea menolak ajakannya.


Gea tak kunjung menerima jabatan tangan Ricko. Dia sedang berfikir untuk berkenalan dengannya atau tidak. Meski hanya sekedar berkenalan saja, tapi Gea mempertimbangkan peringatkan Glen.


"Apa tampang ku seperti penjahat.? Kenapa seperti takut padaku." Ujar Ricko seraya terkekeh kecil.


Dia jadi semakin penasaran saja pada Gea.


Padahal gadis itu mau ber cinta di toilet dengan Glen. Gadis seperti itu harusnya tidak jual mahal ketika di dekati. Di pikiran Ricko, dia bahkan menganggap Gea gadis murahan yang mau di ajak ber cinta di mana saja.


Tapi setelah melihat sikap Gea yang terlihat tidak nyaman saat di dekati, Ricko bisa merasakan kalau sebenarnya Gea tidak seburuk yang dia pikirkan.


"Bukan begitu,," Gea menggelengkan kepala. Dia jadi tidak enak hati pada Ricko dan terpaksa menerima jabatan tangannya.


"Namaku Gea, Kak." Ucapnya seraya menarik kembali tangannya. Gea tak membiarkan Ricko berlama-lama menjabat tangannya.


Lagi-lagi sikap Gea membuat Ricko yakin kalau Gea memang tidak seperti yang dia pikirkan. Mungkin ada alasan kuat kenapa gadis itu bersedia memuaskan hasrat Glen di toilet dan menjadi salah satu wanitanya.


Glen memang lebih tampan darinya, tapi pesonanya juga tak kalah tampan. Banyak wanita yang senang jika dia dekati. Ricko sampai heran kenapa Gea sama sekali tidak tertarik untuk berkenalan dengannya.


"Gea.?" Ujar Ricko memastikan. Gea mengangguk.


"Nama yang cantik, secantik orangnya." Pujinya. Gea malah terkekeh geli mendengar pujian yang sudah biasa di lontarkan laki-laki.


"Aku sudah sering dengar pujian seperti itu." Ujar Gea setelah terkekeh geli. Sedangkan Ricko tampak menggaruk tengkuknya karna malu.


"Bagaimana dengan tawaranku.? Mau pulang denganku.?" Ricko kembali menawarkan diri untuk mengantar Gea pulang.


Lagi-lagi Gea menolak tawarannya.


"Sekali lagi terimakasih tawarannya, aku bisa pulang sendiri pakai taksi." Gea kemudian fokus pada ponselnya, kembali membuka aplikasi dan mengirimkan chat pada driver karna tak kunjung sampai.


Tak mau membuat Gea ilfil jika terus memaksa pulang bersama, Ricko akhirnya menyerah. Tapi dia tidak pergi dari sana, dia menawarkan diri untuk menemani Gea sampai taksi datang.


Kali ini Gea tidak menolak, dia membiarkan Ricko ikut duduk di sampingnya.


Keduanya terlibat obrolan ringan. Ricko yang lebih banyak bertanya. Gea hanya menjawab seperlunya tanpa membeberkan lebih detail identitasnya.


Namun Gea malah memberikan nomor ponselnya ketika Ricko memintanya. Karna merasa Ricko pria yang baik dan mungkin bisa menolongnya suatu saat nanti, akhirnya Gea bersedia berbagi nomor ponsel.


Dia tidak tau kalau sebenarnya Ricko memiliki tujuan lain saat meminta nomornya. Pria itu akan menunjukkan nomor ponsel Gea pada Glen. Sengaja ingin melihat seperti apa reaksi Glen ketika mengetahui dia mendapatkan nomor ponsel Gea.


...******...


Sementara itu di kamar hotel yang sudah di sulap menjadi kamar pengantin dengan dekorasi super romantis, Agam memasang wajah masam lantaran malam pertamanya di lewatkan begitu saja gara-gara sang pengantin wanita tertidur.


Bayangan untuk belah duren muda dan masih fresh, harus di singkirkan jauh-jauh dari kepalanya.


Melihat kondisi Arumi tertidur pulas dan sulit untuk di bangunkan, Agam mulai pasrah jika malam pertamanya terlewatkan begitu saja tanpa ada adegan pemersatu bangsa.


"Sebenarnya kau itu tidur atau pingsan.!" Agam menggerutu. Bahkan saat membalik tubuh Arumi untuk menurunkan resleting gaunnya, gadis itu tidak terusik sama sekali.


Agam lalu menurunkan gaun Arumi secara perlahan. Dia berniat menggantikan gaun pengantin Arumi dengan baju tidur. Tidak tega juga melihat istrinya itu tidur menggunakan gaun yang berat dan pastinya tidak nyaman untuk tidur.


Sebuah lingerie warna hitam sudah di ambil oleh Agam. Dia mendapatkan lingerie itu dari dalam koper. Semua itu tentu ulah sang Mama sekaligus Mama mertuanya. Mereka sengaja hanya memasukkan baju haram itu kedalam koper sebagai persiapan tempur di malam pertama.


Sisanya baju ganti untuk di pakai saat checkout dari hotel.


Agam hanya bisa menelan ludah ketika berhasil melepaskan gaun dari tubuh Arumi. Kini tubuh gadis itu hanya berbalut br-a dan hotpants warna hitam. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih.


"Memper kosa istri di malam pertama, sepertinya menarik juga." Agam mengukir senyum devil. Tampak menyerikan dan di penuhi kemesuman.