Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 116



Kesalahpahaman di antara Agam dan Arumi sudah di luruskan dengan bukti rekaman cctv dan orang-orang yang terlihat dalam pejebakan malam itu. Agam langsung memecat asisten manajer hotel dan 2 orang karyawan karna sudah bekerjasama dengan Karina untuk melancarkan penjebakan itu. Juga seorang wanita pengunjung hotel yang berpura-pura menjadi korban kelalaian dari karyawan hotel.


Terlepas dari banyaknya orang dalam yang membantu Karina, kini mereka semua sudah di laporkan ke polisi.


Terlebih dalangnya, Agam sudah memberikan pelajaran yang sesuai untuk ja-lang seperti Karina.


Dia membiarkan orang-orang suruhannya menyekap Karina di villa terpencil dan membebaskan mereka melakukan apapun pada Karina sebelum wanita itu di serahkan ke kantor polisi.


Sore ini Agam bisa bernafas lega, Arumi sudah kembali bersikap seperti biasanya dan mau di ajak pulang ke apartemennya. Kini keduanya sedang pamit pada Amira yang sampai detik ini tidak mengetahui permasalahan antara anak dan menantunya itu. Agam serta Arumi rupanya cukup kompak menyembunyikan kesalahpahaman yang sempat terjadi di antara mereka.


Mungkin mereka tidak ingin menambah beban pikiran Amira, karna Amira sendiri baru saja menghadapi perceraian dengan Andrew. Jauh dilubuk hatinya, Amira pasti merasakan kesedihan dan kekecewaan mendalam ketika harus mengorbankan pernikahan yang telah berjalan selama 19 tahun. Tapi mungkin dia lebih memilih memendam kesedihannya sendiri tanpa menunjukkannya pada Arumi.


"Hati-hati di jalan. Mama titip Arumi,," Ujar Amira pada menantunya.


Agam mengangguk paham.


"Ya Mah,,"


Sementara itu, Arumi baru melepaskan pelukannya pada sang Mama di depan pintu apartemen. Dia mencium sekilas pipi Amira.


"Mama juga hati-hati disini. Jangan biarkan Papa masuk kalau datang. Aku akan sering berkunjung kesini." Ujarnya.


Amira tersenyum tipis seraya menganggukkan kepala. Dia mengerti kekhawatiran Arumi padanya soal Andrew.


"Jagan khawatir, Mama bisa menjaga diri." Katanya sembari mengusap pucuk kepala Arumi.


"Ayo sayang,,"


Agam lalu merengkuh pinggang Arumi dan mengajaknya pergi dari apartemen mertuanya.


Sampainya di basement, keduanya berpapasan dengan William. Orang kepercayaan keluarga Arumi yang kini membantu Amira mengurus perusahaan dan perceraian Amira dengan Andrew.


Arumi dan Agam menghentikan langkah, begitu juga dengan William. Dia ikut berhenti ketika melihat Arumi. Pria paruh baya itu lebih dulu membungkukkan badannya untuk menyapa mereka.


"Om,,," Ujar Arumi. Dia sedikit terkejut melihat William berada di basement apartemen sang Mama, tapi sejujurnya dia juga senang jika William dan Amira sering bertemu berdua.


"Sore Nona, Tuan,," William balik menyapa keduanya. Agam hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun karna memang tidak kenal dekat dengan William.


"Mau menemui Mama.?" Tanya Arumi.


William mengangguk samar.


"Ada hal penting yang harus di bicarakan soal pekerjaan." Jelas William meski Arumi tidak menanyakan tujuannya bertemu dengan Amira.


William seolah enggan membuat Arumi berfikir lebih jauh, apalagi William tidak terlihat membawa berkas. Justru membawa paperbag dengan logo restoran di tangannya.


Di beri pesan seperti itu oleh anak majikannya, William tampak bingung harus menjawab apa. Dia akhirnya hanya mengangguk saja agar Arumi merasa lega.


...*****...


Sementara itu di apartemen lain, Gea sedikit kewalahan mengurus Glen. Pria itu jelas-jelas terlihat aneh karna bolak-balik memuntahkan isi perutnya. Wajahnya sampai pucat, tubuhnya terlihat lemas setiap selesai muntah. Tapi ketika di sarankan untuk pergi ke rumah sakit ataupun memanggil dokter, Glen selalu menjawab jika dia baik-baik saja. Tidak membutuhkan pertolongan medis katanya. Tak mau ambil pusing, Gea akhirnya diam saja ketika Glen muntah. Hanya membuatkan minuman jahe hangat untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada perut Glen.


Kini Gea masih terperangkap di kamar Glen sejak pagi. Tepatnya seteleh percintaan panas mereka di kamar mandi. Gea hanya keluar kamar ketika akan mengganti baju ataupun pergi ke dapur membuatkan minum. Selain itu, dia di larang keluar oleh Glen. Benar-benar seperti sandraan pria dewasa itu.


Tapi di dalam kamar, Gea juga hanya duduk di samping Glen tanpa melakukan apapun. Dia cuma jadi penonton karna Glen sibuk bekerja dengan laptopnya.


Gea melirik jam dinding. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 5 sore.


Perlahan Gea beranjak dari sofa, brniat pergi ke kamarnya untuk mandi sebentar. Tapi baru berdiri, dia sudah di tegur oleh Glen.


"Aku bilang tetap di sini, kamu tuli ya.?" Ujar Glen dingin.


Gea menelan ludah kasar. Antara takut dan kesal pada pria itu yang terus menahannya di kamar tanpa boleh beranjak sedikitpun. Glen pikir, Gea patung yang bisa berdiam diri selama berjam-jam tanpa melakukan apapun.


"Aku mau mandi dulu Om, sudah jam 5." Sahut Gea sedikit mengeraskan suaranya. Tidak peduli meski Glen tau dia sedang kesal padanya.


Glen langsung melirik jam di pergelangan tangannya. Ekspresinya sedikit terkejut mengetahui sudah pukul 5 sore. Rupanya sudah 3 jam dia berkutat di depan laptop.


"Ambil baju ganti saja, mandi di sini seperti tadi pagi.!" Tegas Glen sembari melepaskan arloji mahalnya dari pergelangan tangan dan meletakkannya di atas meja. Pria itu juga menyimpan pkerjaannya lebih dulu sebelum menutup laptop.


Sadar tidak respon dan pergerakan dari Gea, Glen akhirnya mendongak. Menatap Gea yang berdiri mematung.


"Kenapa masih disini.? Jangan bilang kamu tidak dengar apa yang aku katakan." Sentak Glen tak sabaran.


Gea semakin terlihat gelisah. Dia bukannya tidak mendengar perintah Glen, tapi ketika Glen menyuruhnya mandi di kamarnya seperti tadi pagi, pikiran Gea mendadak kacau. Sudah pasti Glen akan mengulangi kegiatan panjang yang panas itu. Gea sampai heran, padahal tadi pagi Glen habis muntah-muntah dan terlihat lemas. Tapi begitu berkuda, tenaganya tidak bisa di remehkan.


Sampai Gea yang di buat lemas olehnya karna melakukannya berkali-kali.


"Iya, aku akan mengambil baju dulu." Gea lantas buru-buru keluar kamar Glen. Dia masuk ke kamarnya sendiri untuk mengambil baju ganti saja, sesuai permintaan pria itu.


Di dalam kamar, Gea terus menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi pada Glen sampai terlihat aneh seperti itu. Glen seolah tidak mau jauh-jauh darinya, tapi gengsi untuk mengatakannya langsung. Jadi seperti mencari alasan untuk menahannya tetap di samping Glen hingga sulit beranjak sedikitpun.


Gea mulai berfikir, apa mungkin Glen memiliki perasaan padanya.? Tapi melihat sikap dan cara bicara Glen yang ketus, Gea ragu untuk mengatakan kalau Glen sudah jatuh cinta padanya.


"Bikin pusing saja.!" Gumam Gea frustasi.


"Tapi tidak peduli dia sudah mencintaiku atau belum, yang terpenting dia selalu ingin dekat denganku." Ujarnya kemudian mengeringai tipis.


Selangkah lagi dia akan membuat pernikahan Adeline batal.