Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 96



Agam membiarkan Arumi terisak sambil memeluknya erat. Sudah ditanya 2 kali, tapi Arumi masih belum mau menjawab penyebab dia menangis. Tak mau memaksa, Agam akhirnya diam dan hanya memberikan usapan-usapan lembut di punggung istrinya.


"Sudah mau bicara.?" Tanya Agam ketika tangis Arumi mulai reda dan pelukannya tidak sekencang tadi.


Arumi mengangguk kecil dan perlahan melepaskan pelukannya. Namun Agam malam menahan menarik pelan pinggang Arumi untuk di arahkan duduk di atas pangkuannya.


Agam menyelipkan anak rambut Arumi di belakang telinga agar tidak menutupi wajah sembabnya. Dia juga mengusap sisa air mata di pipi Arumi dengan penuh perhatian.


Arumi malah menatap Agam dengan tatapan menerawang. Tiba-tiba ada ketakutan luar biasa yang menyeruak dalam hatinya ketika menatap sang suami.


Bayangan orang tuanya yang berselingkuh, membuat Arumi berfikir negatif pada Agam.


Terlebih Agam sempat menjalin hubungan terlarang dengan istri orang. Hal itu membuat Arumi semakin takut. Takut jika Agam kembali pada tabiatnya seperti dulu.


"Kenapa seseorang bisa dengan mudah berselingkuh.?" Tanya Arumi tercekat. Hatinya benar-benar hancur dan rapuh, melihat wanita yang sudah melahirkannya di sakiti. Dia tak pernah menyangka sosok pria seperti Papanya yang penuh kelembutan dan kasih sayang, bisa berselingkuh. Membagi waktu, perhatian dan cintanya untuk wanita lain. Sedangkan jelas-jelas Amira sudah menjadi istri yang setia dan sempurna untuknya.


Agam menautkan kedua alisnya, merasa heran mendengar pertanyaan Arumi. Perselingkuhan dan kesedihan yang di rasakan Arumi, Agam tidak bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi dengan istrinya itu.


"Sebenarnya ada apa.?" Tanya Agam to the point. Dia tidak mau menjawab pertanyaan Arumi sebelum istrinya itu menceritakan permasalahan yang membuatnya menangis terisak.


Arumi menarik nafas dalam sebelum menceritakan semuanya. Dia juga meluapkan kekecewaan pada sang Papa di depan Agam.


Papa yang selama ini dia banggakan, bahkan Arumi dulu merasa menjadi anak yang paling beruntung memiliki Papa seperti Andrew. Karna di sela-sela kesibukannya yang padat, Andrew tetap menjadikan keluarga sebagai prioritas.


Agam membawa Arumi duduk di sofa, dia mengambil minum kaleng dingin di dari dalam kulkas yang ada di ruangannya.


"Minum dulu, jangan terlalu banyak pikiran." Tutur Agam lembut. Dia menyodorkan minuman kaleng itu pada Arumi setelah membukanya.


Arumi hanya meneguk sedikit dan meletakkannya di atas meja.


"Papa sangat tega,," Suara Arumi tercekat. Dia belum sepenuhnya bisa mengendalikan kekecewaannya atas apa yang terjadi.


Memang sang Mama yang telah di khianati, tapi sebagai anak, mana bisa bersikap biasa saja mengetahui orang tuanya di selingkuhi.


Kekecewaan dan rasa sakit hati Amira sudah pasti lebih besar. Tapi luka di hati Arumi juga tidak biasa.


Agam duduk di sebelah Arumi, pria itu sesekali menghela nafas melihat istrinya bersedih dan tak jarang meluapkan kekecewaannya.


Ponsel Arumi bahkan terus berdering, banyak panggilan masuk dari Andrew ataupun Amira. Tapi Arumi tidak ada niat untuk menjawabnya.


Sekarang malah ponsel Agam yang berdering. Dia mendapat telfon dari Mama mertuanya.


Arumi sempat melirik sekilas layar ponsel di tangan Agam dan menggelengkan kepala. Memberi kode agar Agam tidak menjawabnya.


"Jangan membuat orang tuamu khawatir. Aku akan bicara dengannya." Agam menjawab panggilan itu meski Arumi melarangnya.


"Ya, Arumi bersama saya." Ujar Agam seraya melirik Arumi.


"Jangan khawatir, dia baik-baik saja."


"Hmm,, akan saya sampaikan."


Agam memutuskan sambungan telfonnya begitu selesai bicara. Dia bisa merasakan nada kekhawatiran dalam diri Amira ketika menanyakan Arumi.


"Mama memintamu agar tidak sedih." Tuturnya seraya membenarkan rambut Arumi karna terlihat berantakan lagi.


"Dia menempati apartemen untuk sementara. Kamu bisa datang menemuinya nanti." Ujar Agam lagi.


Meski Arumi tidak memberikan respon, dia tetap mendengarkan semua ucapan Agam.


"Mau pulang.? Sebaiknya kamu istirahat dulu." Tawar Agam masih dengan sikap lembutnya. Tidak biasanya dia akan bertahan lama dengan sikap yang sebenarnya bertolak belakang. Tapi kali ini Arumi sedang butuh perhatiannya dan butuh perlakuan yang lembut.


"Tidur di kamar saja." Agam menggandeng tangan Arumi dan mengajaknya keluar dari ruangan.


Agam membuka pintu ruangan sebelah dengan akses card dan mengajak Arumi masuk. Gadis itu sejak tadi hanya mengikuti langkah Agam tanpa protes.


"Kenapa ada kamar disini.? Untuk apa.?" Arumi malah menatap Agam sedikit curiga. Pikirannya tiba-tiba semakin buruk ketika mengetahui bahwa di samping ruang kerja Agam ada kamar, lengkap dengan ranjang dan kasur di dalamnya. Benar-benar di peruntukkan untuk tidur.


"Dulu Papa sering lembur sampai larut malam, jadi di buat kamar agar bisa menginap dan istirahat di sini." Jawab Agam dan terus membimbing Arumi ke arah ranjang.


Agam juga belum pernah menggunakan kamar ini. Karna jarang lembur sampai larut malam.


Arumi menatap menelisik, tiba-tiba merasa waspada ketika mengetahui ada kamar di sebelah ruangan Agam. Dia sedikit khawatir, takut jika suaminya berbuat gila dengan karyawannya di kamar ini.


"Jangan berfikir macam-macam, aku belum pernah memakai kamar ini sebelumnya." Tegur Agam karna bisa membaca arti tatapan istrinya.


Sebreng's3k-breng's3knya Agam saat menjalin hubungan terlarang dengan Bianca, tidak pernah terlintas sedikitpun dalam benaknya untuk membawa Bianca ke dalam kamar itu.


"Aku harap itu benar." Jawab Arumi terkesan pasrah. Artinya dia tidak terlalu yakin dengan ucapan suaminya. Dia hanya berusaha untuk membuat suasana hatinya agar tidak semakin kalut.


"Aku temani kamu sampai tidur. Masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan." Agam menyuruh Arumi berbaring di ranjang dengan menepuk ranjang.


Arumi menurut, Agam juga ikut berbaring di samping Arumi setelah melepaskan jasnya. Dia sedikit bersandar di kepala ranjang dan dadanya di pakai Arumi sebagai bantal.


"Jangan keluar sebelum aku tidur." Pinta Arumi dan mulai memejamkan mata.


Dia merasakan kepalanya sangat sakit dan terasa akan pecah karna memikirkan nasib keluarga dan pernikahan orang tuanya. Arumi memilih untuk tidur, setidaknya bisa membuat dia melupakan sejenak apa yang baru saja terjadi.


Agam memberikan usapan lembut di kepala Arumi untuk mengantar istrinya tidur. Kini wanita itu semakin posesif memeluk tubuhnya, seakan takut jika di tinggal.


...*****...


Agam kembali berkutat dengan pekerjaan di ruangannya setelah memastikan Arumi tidur.


Pintu ruangannya tiba-tiba di ketuk, Agam buru-buru beranjak membukakan pintu.


"Pah,," Agam tidak terlalu kaget melihat kedatangan Papa mertuanya ke kantornya.


"Arumi disini kan.? Papa harus bicara padanya." Andrew tampak begitu cemas.


Agam mengajak Andrew untuk masuk lebih dulu dan keduanya sudah duduk berhadapan di sofa.


"Arumi butuh waktu Pah, sebaiknya jangan temui dia dulu." Ucap Agam sopan, tanpa mengurangi rasa hormatnya pada Andrew yang merupakan Papa kandung istrinya.


"Papa tidak mau Arumi membenci Papa,," Raut wajah Andrew berubah sendu.


Agam tidak tau pasti bagaimana perasaan orang tua yang di benci anaknya, karna dia belum memiliki anak. Tapi Agam bisa memahami kalau itu cukup menyakitkan.


"Papa jangan khawatir, Arumi tidak akan seperti itu."


"Berikan dia waktu untuk menangkan diri, saya nanti akan membujuknya agar mau bertemu Papa."


Andrew mengangguk setuju, dia percaya dengan Agam karna bisa meyakinkannya.


"Terimakasih, tolong jaga Arumi dengan." Pinta Andrew sebelum beranjak dari duduknya.


Agam mengangguk paham.


"Hm,, itu sudah kewajiban saya."