Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 94



Amira tersenyum miris melihat kedatangan Andrew. Suaminya itu bahkan rela datang ke apartemen di saat ada rapat penting hari ini. Cinta Andrew padanya mungkin sudah pudar, tergantikan oleh kehadiran Sofia. Sampai rela meninggalkan kantor dan rapat penting demi memastikan selingkuhannya baik-baik saja.


Seperti tersayat sembilu, Amira hanya bisa menangis dalam diam. Tak mau terlihat menyedihkan di depan pasangan tak tau diri itu.


Andrew duduk di samping Amira, berhadapan dengan Sofia yang duduk di seberang mereka tanpa berani mengangkat kepala.


Andrew dilema harus bersikap seperti apa dalam situasi ini. Dia takut tindakan maupun ucapannya akan menyakiti salah satu istrinya.


"Kamu bahkan sampai menunda rapat direksi karna mengkhawatirkan wanita itu." Ucap Amira dengan senyum sinis. Tak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya.


"Amira, aku juga mengkhawatirkan mu." Lirih Andrew. Pria yang merasa bersalah itu, tak berani bicara seenaknya ataupun bicara nada tinggi pada Amira.


Amira terkekeh geli, tapi masih terlihat elegan.


"Omong kosong macam apa." Sahutnya muak.


"Kalau kamu mengkhawatirkanku, wanita di depan sana tidak akan mungkin ada dalam kehidupanmu." Sinis Amira telak. Andrew tak bisa berkata-kata lagi.


Perbuatannya memang salah, tak memikirkan bagaimana perasaan Amira saat memutuskan memiliki hubungan terlarang dengan Sofia.


Rasa bersalah dan menyesal pasti ada, tapi Andrew tak bisa memungkiri bahwa Sofia juga melengkapi kekurangan dan menyempurnakan kebahagiaannya.


Bukan berarti hidup bersama Amira tidak bahagia, Andrew bahkan bersumpah jika selama 19 tahun menikah dengan Amira, wanita itu sudah menjadi istri yang baik dan sempurna untuknya.


Kurang bersyukur, mungkin itu kata yang pantas untuk menggambarkan sifat Andrew yang serakah. Dia mengakui bahwa Amira adalah istri yang baik dan sempurna, tapi Andrew malah menjadikan wanita lain sebagai istri keduanya.


"Apa dia yang memaksa dan menggoda mu dengan melempar tubuhnya.?" Tanya Amira yang sengaja ingin memancing reaksi dua sejoli itu.


Dia menatap Andrew dan Sofia bergantian. Wanita di depannya mulai mengangkat wajah, siap untuk membuka suara. Namun Andrew lebih dulu menjawabnya.


"Amira, aku yang salah." Tuturnya tanpa keraguan sedikitpun. Entah benar atau tidak, tapi Amira merasa jika suaminya sedang membela dan menutupi kesalahan Sofia.


"Jelas kamu salah. Mengkhianati pasangan dan menodai janji suci pernikahan adalah kesalahan besar.!" Tegas Amira penuh penekanan. Disini Amira cukup baik mengontrol emosinya. Dia tidak membentak Andrew maupun Sofia karna ingin tetap terlihat elegan dan berkelas saat menghadapi dua manusia tak punya hati.


"Tapi apa perbuatannya bisa dibenarkan.?" Amira melirik sinis pada Sofia.


"Menjalin hubungan dengan pria beristri, padahal jelas-jelas dia mengetahuinya bahkan mengenal ku." Tutur Amira.


Bagaimana dia tidak memandang jijik dan rendah sosok wanita di hadapannya. Sofia sudah tau kalau Andrew memiliki istri, tapi tetap melanjutkan hubungan dengan suaminya.


Lain cerita kalau Andrew membohongi Sofia dengan mengaku sebagai duda. Mungkin Amira akan menyalahkan Andrew sepenuhnya.


Padahal Sofia mengenali Amira, tau akan keberadaan istri dan anak Andrew. Tapi wanita itu seolah tutup mata hanya demi egonya. Demi kenyamanan dan kebahagiaan dirinya sendiri tanpa berfikir kalau keluarga Andrew akan terluka.


"Amira, aku yang menahannya untuk tetap tinggal." Andrew terus menyalahkan diri sendiri di depan Amira.


"Tapi wanita itu bisa pindah dari kota ini jika pikirannya masih cukup waras. Dia akan pergi sejauh mungkin dari hidupmu jika punya hati." Sahut Amira geram.


Sofia kembali tertunduk, dia merasa tertampar dengan perkataan Amira. Ya, memang dia yang memaksa tinggal, karna tetap melanjutkan hubungan meski tau bahwa Andrew masih memiliki istri.


Bahkan tak. berfikir dua kali saat Andrew mengajaknya menikah. Saat itu Sofia hanya memikirkan dirinya sendiri yang bisa lepas dari trauma karna kehadiran Andrew.


Yang kembali bisa tertawa lepas sejak semua tawa dan kebahagiaannya di rampas oleh 2 laki-laki biadab.


Andrew telah menyembuhkan luka psikis dan traumanya. Itu sebabnya di pikiran Sofia, dia hanya menginginkan Andrew tetap di sampingnya.


"Kita bertemu lagi di pengadilan." Tegas Amira.


"Setelah ini kamu akan kehilangan 90 persen dari seluruh asetmu. Dan jangan harap Arumi masih mengakui mu sebagai orang tua setelah mengetahui perbuatanmu yang menjijikkan." Amira kemudian beranjak dari duduknya.


Andrew ikut beranjak untuk mencegah Amira. Dia mencekal pergelangan tangan Amira seraya menatap memohon.


"Jangan lakukan itu, aku tidak mau bercerai." Pintanya. Cinta di hati Andrew pada Amira masih sama seperti dulu, walupun ada wanita lain yang juga menempati hatinya.


"Kamu pikir aku mau di selingkuhi.?" Balas Amira dengan senyum kecut.


"Saya yang akan pergi,," Suara Sofia tercekat. Pipinya sudah banjir air mata. Memutuskan pergi meninggalkan Andrew adalah hal menyakitkan untuknya. Di saat Sofia sudah menggantungkan harapan dan perasaannya pada pria itu.


"Bagus, sebaiknya kamu memang pergi karna sebentar lagi Andrew akan jatuh miskin." Ujar Amira acuh. Dia tak peduli sekalipun Sofia benar-benar akan pergi dari kehidupan Andrew. Keputusannya untuk bercerai sudah bulat.


"Masih banyak pria lain di luar sana yang lebih kaya, asal jangan suami orang." Sindir Amira penuh penekanan. Dia lantas menepis tangan Andrew dan berlalu dari apartemen. Tidak peduli meski Andrew memintanya untuk berhenti.


"Sofia,,," Andrew mendekati istri mudanya. Tangisan Sofia mengingatkannya pada kejadian malam itu, dimana pertama kali dia bertemu Sofia dalam keadaan terpuruk.


Sofia menggelengkan kepala, melarang Andrew agar tidak mendekat.


"Sebaiknya Mas Andrew kejar Mba Amira. Hubungan ini memang salah, kita akhiri saja semuanya." Suara Sofia tercekat. Dia terlihat frustasi.


"Jangan pernah berfikir untuk mengakhirinya. Semua keputusan ada di tanganku. Tetap di sini dan jangan pernah pergi kemanapun.!" Tegas Andrew. Dia sempat memeluk Sofia sekilas dan mencium keningnya sebelum keluar dari apartemen.


Sofia semakin terisak selepas kepergian Andrew. Tubuh wanita itu merosot dan bersimpuh di lantai. Tangisnya pecah, memenuhi apartemen mewah itu.


Kehilangan Andrew, sama saja seperti kehilangan orang tua dan satu-satunya orang yang mau berpihak padanya.


"Maafkan aku Mas, kita akan pergi dari sini." Lirih Sofia seraya mengusap perutnya yang masih rata. Dimana benih Andrew tubuh di sana dan baru berusia 4 minggu.


Setidaknya walaupun dia harus pergi meninggalkan Andrew, dia masih miliki sebagian dari dirinya yang akan dia bawa dan kelak akan menjadi penawar rindu pada sosok pria dewasa itu.


Sofia beranjak setelah hampir 1 jam menangis di ruang tamu, dia pergi ke kamar dan mengemasi baju-baju miliknya tanpa membawa barang berharga pemberian Andrew.


Sofia bahkan melepaskan cincin berlian pernikahan mereka dan meletakkannya di atas nakas. Dia juga tidak membawa sepeserpun uang dari Andrew. Sudah cukup kebahagiaan dan kasih sayang yang selama ini di berikan oleh Andrew padanya.