Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 101



Andrew tengah melakukan penerbangan menuju kota Surabaya untuk menyusul Sofia yang diam-diam meninggalkan Bandung.


Wajah pria berusia 45 tahun itu semakin terlihat frustasi. Tak hanya itu saja, Andrew juga kelelahan secara fisik dan mental setelah berjam-jam pergi dengan orang suruhannya untuk mencari keberadaan Sofia.


Sebuah petunjuk dari rekaman CCTV di apartemen dan stasiun, membuat Andrew mengetahui bahwa istri keduanya sedang dalam perjalanan ke Surabaya.


Andrew menyenderkan tubuhnya. Pria yang fisiknya terlihat masih gagah itu tampak memejamkan mata. Dia sedang memikirkan beban berat yang dia ciptakan sendiri.


Keluarganya mungkin tidak bisa diselamatkan lagi dan benar-benar akan hancur karna ulahnya.


Andrew kesulitan membujuk Amira. Wanita yang sudah menemaninya selama 19 tahun dalam ikatan pernikahan itu, tak mau mengubah keputusan. Amira sudah mantap bercerai darinya.


Mengatakan padanya bahwa tidak ada kesempatan kedua untuk seorang pengkhianat.


Menarik nafas dalam, Andrew membuangnya perlahan. Beban di hati dan pikirannya cukup berat. Apalagi setelah melihat alat tes kehamilan yang sepertinya sengaja di buang Sofia di tempat sampah. Dia semakin frustasi mengetahui Sofia sedang mengandung darah dagingnya, tapi sekarang malah mecoba untuk menghilang.


Selamat tinggal Mas. Maaf telah membuat kekacauan. Biarkan aku pergi dan mendapatkan hukuman karna sudah menyakiti Mba Amira.


Semoga pernikahan kalian bisa dipertahankan.


Mas Andrew tidak perlu mencariku. Sofia,,,


Andrew tersenyum getir ketika mengingat rentetan kata di secarik kertas yang di tinggalkan oleh Sofia. Meski Sofia melarang untuk mencarinya, tapi Andrew tidak punya tujuan lagi selain istri keduanya itu. Terlebih Sofia sedang mengandung anaknya. Bagaimanapun, dia harus bertanggungjawab penuh atas kehamilan dan anak mereka.


...******...


"Gea,, apa aku tidak salah lihat.?" Suara yang tidak asing itu menghentikan langkah Gea saat akan masuk ke toilet wanita. Gea kemudian menoleh.


"Sean, sudah lama tidak bertemu." Ucap Gea tersenyum miring. Dia tidak melihat Sean selama berada di dalam ballroom, tapi sekarang laki-laki itu muncul di hadapannya.


Sean tidak langsung merespon ucapan Gea. Dia tengah sibuk memindai kemolekan tubuh Gea dalam balutan gaun tanpa lengan yang melekat di tubuh seksinya.


"Kamu makin seksi. Apa hanya perasaanku saja.?" Ujar Sean. Senyum di bibirnya mengembang. Gea sangat hapal arti senyuman itu. Senyum yang menandakan bahwa Sean sedang tertarik pada tubuhnya.


"Sudah sejak dulu, mata kamu saja yang bermasalah." Gea menjawab ketus dengan kebencian di dalam hatinya.


Bertahun-tahun dia mencintai Sean, namun pengkhianatan Sean menghapus rasa cintanya dan kini hanya tersisa kebencian.


"Kamu masih marah padaku.?" Tanya Sean tanpa dosa. Dia sudah berkhianat dan lebih memilih selingkuhannya, bagaimana mungkin Gea tidak menaruh kemarahan padanya.


"Marah.?" Gea mengulangi ucapan Sean dengan senyum sinis.


"Bahkan lebih dari sekedar marah. Kamu sangat menjijikkan Sean.!" Cibirnya penuh amarah.


Gea memilih berlalu, berhadapan dengan Sean hanya membuat lukanya yang hampir mengering kembali basah. Pengkhianatan adalah hal yang paling menyakitkan, dan hal itu akan sulit di lupakan begitu saja.


"Ge,, aku minta maaf." Sean menahan pergelangan tangan Gea. Situasi toilet yang sepi membuat Sean berani menahan Gea dan menariknya masuk ke dalam toilet wanita.


"Sean.!! Kamu apa-apaan.!" Gea memberontak. Beberapa kali menarik tangannya dari genggaman Sean, tapi sia-sia karna tenaga Sean cukup kuat.


"Jangan macam-macam, ini tempat umum.!!" Teriaknya geram. Sean malah tersenyum santai dan mendorong tubuh Gea hingga bersandar di dinding toilet.


"Ayolah sayang, kamu lupa kalau dulu kita pernah melakukanya di tempat umum." Satu tangan Senang hampir menyentuh da-da Gea, namun segera di tepis kasar karna merasa jijik.


Dulu saat masih berstatus kekasih, Gea tak masalah disentuh oleh Sean kapanpun dan di bagian manapun. Tapi sekarang tidak lagi, yang ada malah muak.


"Sejujurnya aku rindu dengan tu buhmu ini,," Sean meremas pelan pa- ha Gea.


Plaakk.!!!


Sebuah tamparan cukup kencang mendarat di pipi Sean. Mata Gea memerah menahan amarah dan sakit hati karna di perlakuan seperti itu oleh mantan kekasihnya.


"Dasar tidak tau malu.!!" Cibir Gea sinis.


Sean menyeringai seraya mengusap bekas tamparan Gea di pipinya.


"Jangan munafik, aku yakin kamu juga menginginkannya." Maju selangkah, Sean menghapus jarak hingga tubuhnya merapat pada Gea.


"Aku rindu dengan de Sa hanmu sayang, rindu go yanganmu dan mulutmu ini yang lihai memanjangkan milikku." Bisik Sean tepat di telinga Gea. Gea memalingkan wajah sejak Sean mendekat padanya. Dia benar-benar muak dengan Sean.


"Lepas Sean.!! Kau iblis.!!" Teriak Gea penuh amarah.


Melihat Gea yang terus memberontak, Sean tampak kehilangan kesabaran. Cengkeramannya di tangan Gea semakin kuat. Kini satu tangannya ikut mencengkram dagu Gea dan membungkam bibirnya dengan ciuman kasar.


Gea tidak punya pilihan lain, dia terpaksa menggunakan lututnya untuk menendang perkutut Sean.


"Aarrghh,,!!" Pekik Sean kesakitan. Saat itu juga Gea bebas dari rengkuhan Sean, tapi hanya bertahan beberapa detik karna Sean berhasil menarik rambut panjang Gea yang tergerai.


"Aaaaww,, Sakit Sean.!! Lepas.!!" Gea menatap tajam.


"Kamu pikir milikku baik-baik saja setelah kamu tendang.?" Sean semakin kasar menjambak rambut Gea. Tiba-tiba menariknya kuat hingga membuat Gea terjatuh di lantai.


"Dasar ja- lang.! Aku yang sudah mengambil kepera wanananmu dan sudah sering merasakan tubuhmu itu.!"


"Jangan sok suci.!" Maki Sean tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Gea menatap penuh amarah, dia tidak tahan lagi untuk balas dendam pada Sean.


Gea buru-buru berdiri dan masuk ke dalam toilet, dia berhasil mengunci pintu di saat Sean akan menahan pintunya.


"Gea.!! Buka pintunya.!!" Sean menggedor pintu cukup kuat, pintu itu mungkin akan rusak jika Sean semakin kencang menggedornya.


Tanpa pikiran panjang Gea langsung menghubungi Glen. Dia berharap Glen akan mengangkat telfon dan mau datang menolongnya walaupun harapannya tipis. Tapi setidaknya Gea sudah berusaha.


Untuk ke tiga kalinya Gea menghubungi Glen. Dia hampir putus asa karna tak kunjung di angkat, sedangkan Sean seperti ingin mendobrak pintu kamar mandi.


Gea bisa bernafas lega setelah Glen mengangkat panggilan telfonnya yang ke empat kali.


"Om,, tolong aku.!! Aku mohon datang kesini." Suara Gea sangat panik dan ketakutan. Sebenarnya dia tidak setakut itu menghadapi Sean, tapi Gea sengaja ingin membuat Glen panik agar meninggalkan acara pertunangan dan datang untuk menolongnya.


Sementara itu, Glen ikut panik mendengar nada bicara Gea di seberang sana. Dia pamit pada Adeline, berbohong dengan mengatakan ada telfon dari orang penting.


"Kamu dimana.? Apa yang terjadi.?" Tanya Glen begitu sampai di tempat yang sedikit sepi.


"Aku di toilet hotel dekat ballroom. Seseorang ingin melecehkanku." Gea terdengar menangis. Hal itu membuat Glen terlihat gusar.


"Katakan yang jelas. Toilet hotel mana.?!" Seru Glen panik.


Begitu Gea mengatakan kalau dirinya sedang ada di hotel yang sama, Glen langsung mematikan sambungan telfonnya dan buru-buru keluar dari ballroom untuk menolong Gea.